sukabumiheadline.com – Kapal tanker mengangkut minyak mentah dan produk petroleum di Selat Hormuz, 16 Juni 2025. Sebagai jalur pelintasan bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia-atau berkisar 18-20 juta barel per hari-selat ini merupakan titik hambat (chokepoint) energi paling vital di dunia. Shutterstock
Perbesar
Kapal tanker mengangkut minyak mentah dan produk petroleum di Selat Hormuz, 16 Juni 2025. Sebagai jalur pelintasan bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia-atau berkisar 18-20 juta barel per hari-selat ini merupakan titik hambat (chokepoint) energi paling vital di dunia.
Cuitan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mendadak menjadi trending topik di platform media sosial Amerika Serikat, X, pada Selasa (10/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menanggapi unggahan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright di media sosial, yang menyatakan bahwa Angkatan Laut AS mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan bahwa kapal tanker tersebut berhasil melewati selat tersebut, dengan cara yang akan membuat Washington marah. Unggahan ini kemudian dihapus setengah jam kemudian.
Namun, Qalibaf sempat membalas dan berkata, “Apakah sebuah kapal tanker minyak yang dikawal oleh Angkatan Laut AS berhasil melewati Selat Hormuz? Mungkin hanya di PlayStation,” tulisnya seperti dilansir laman Haberler.
Tak hanya Qalibaf yang membantah, bahkan Gedung Putih membantah unggahan Wright.
Seiring memburuknya konflik di Timur Tengah, ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga meningkat. Pihak-pihak terkait mengeluarkan pernyataan berturut-turut mengenai Selat Hormuz.
Komandan Alireza Tengsiri dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tidak ada kapal yang terkait dengan serangan terhadap Iran yang akan diizinkan melewati Selat Hormuz.
Tengsiri berkata, “Tidak ada kapal yang terkait dengan mereka yang menyerang Iran yang berhak melewati Selat Hormuz. Jika Anda ragu, mendekatlah dan coba.”
Menanggapi klaim bahwa Iran telah mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, Presiden AS Donald Trump juga membuat pernyataan tentang masalah tersebut.
Trump memperingatkan pemerintahan Teheran, dengan mengatakan, “Jika ranjau dipasang karena alasan apa pun dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Haram bicara dengan setan
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak akan membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menilai upaya diplomasi dengan Washington tidak lagi relevan.
Dalam wawancara dengan PBS News yang dikutip Kamis (12/3/2026), Araghchi menyebut sejarah panjang konflik antara kedua negara membuat peluang perundingan hampir tidak mungkin dilakukan.
“Tembakan terus berlanjut, dan kami sangat siap untuk terus menghujani mereka dengan rudal selama diperlukan. Berbicara dengan orang Amerika tidak lagi masuk dalam agenda kami. Selama bulan Ramadhan, kami tidak berbicara dengan setan,” tegas dia.









