Strategi Komunitas Pedagang Pujasera Cibadak Sukabumi Gaet Pengunjung di Masa Pandemi

- Redaksi

Minggu, 27 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komunitas Pedagang Pujasera Cibadak. l Istimewa

Komunitas Pedagang Pujasera Cibadak. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINES.com l CIBADAK – Pedagang Pujasera Cibadak, sebuah perkumpulan yang beranggotakan para pedagang di Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera) Kelurahan/Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Menurut Ketua Pedagang Pujasera Cibadak Jamal Nurlael kepada  paguyubannya telah berdiri sejak lima tahun silam.

“Komunitas ini sudah berjalan selama lima tahun dan terdiri dari 22 anggota,” ucap pria yang akrab dipanggil Amay itu pada Sabtu (26/2/2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

PEDAGAN 2

Amay menambahkan, dari 22 anggota yang bergabung, berasal dari berbagai daerah di Sukabumi. Menurutnya, komunitasnya masih terbuka menerima anggota baru.

“Kami masih terbuka, syarat untuk bergabung ke komunitasnya, harus memiliki skill berjualan dan sanggup mengikuti aturan,” ujar pria berusia 37 tahun itu.

Seperti halnya para pedagang kuliner di daerah lain, Amay mengakui, dampak pandemi Covid-19 sangat terasa bagi para pedagang di Pujasera Cibadak.

Bahkan, tak tanggung-tanggung, ia menyebut penjualan kuliner di tempat nongkrong tersebut, anjlok hingga 60 persen. Karenanya, mereka berharap kondisi bisa secepatnya kembali normal.

“Biasanya kami beroperasi dari jam 10 pagi sampai jam 21.00 malam. Namun, pemberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat telah memaksa mereka membereskan dagangannya lebih cepat dari biasanya. Semoga kondisi bisa segera pulih dan bisa ramai pengunjung seperti dulu lagi,” harap Amay.

Selain dampak pandemi, kemunculan kompetitor baru juga membuat mereka harus terus memutar otak berinovasi, baik dari sajian yang dijajakan hingga penataan tempat berjualan.

“Ya mau gak mau kami harus terus berinovasi. Baik dari segi jajanan yang ditawarkan hingga melakukan penataan ulang agar pengunjung merasakan suasana berbeda,” tandasnya.

Berita Terkait

Milad ke-14 Hijabers Mom Community Sukabumi, galang dana bantu korban bencana
Komunitas Syiah Sukabumi edukasi santri soal bahaya gadget dan bullying
Go Suhartono, peserta tertua Bentang Jawa 2026 terpaksa DNF di Sukabumi
Ini daftar 103 ormas kawal program Prabowo dikukuhkan Hashim Djojohadikusumo
Kawal program Prabowo: 20 ormas dikukuhkan, total jadi 103 organisasi
Polda Jabar bakal bentuk Satgas Bobotoh Jaga Persib, Jaga Lembur Sauyunan
Mengenal Kucing Persia: Jenis, karakter, harga dan tips memelihara mpus asal Iran
Ceperist Sukabumi Ngahidji berbagi di bulan suci, santuni yatim piatu dan lansia

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 13:00 WIB

Komunitas Syiah Sukabumi edukasi santri soal bahaya gadget dan bullying

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 01:27 WIB

Go Suhartono, peserta tertua Bentang Jawa 2026 terpaksa DNF di Sukabumi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:21 WIB

Ini daftar 103 ormas kawal program Prabowo dikukuhkan Hashim Djojohadikusumo

Rabu, 12 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Kawal program Prabowo: 20 ormas dikukuhkan, total jadi 103 organisasi

Senin, 18 Mei 2026 - 02:44 WIB

Polda Jabar bakal bentuk Satgas Bobotoh Jaga Persib, Jaga Lembur Sauyunan

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB