sukabumiheadline.com – Produksi bambu di Jawa Barat merupakan salah satu potensi hasil hutan bukan kayu terbesar, dengan Kabupaten Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, Purwakarta, dan Subang sebagai penghasil utama.
Beberapa jenis yang umum diolah antara lain bambu tali, bambu gombong, bambu hitam, bambu betung, dan bambu pringgadani.
Sentra bambu di Jawa Barat
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Dikutip sukabumiheadline.com dari Open Data Jawa Barat 2023, Kabupaten Sukabumi menjadi produsen tertinggi, mencapai lebih dari 9,3 juta batang pada 2023.
Kabupaten Sukabumi adalah produsen tertinggi per 2023. Daerah lain yang menonjol adalah Kabupaten Garut di posisi kedua dengan 8.312.249 batang, Tasikmalaya di posisi ketiga dengan 7.548.045 batang bambu.
Di posisi keempat Kabupaten Purwakarta hasilkan 7.011.641 batang bambu, dan Subang di posisi kelima dengan 3.990.604 batang bambu, seperti pada gambar berikut:

Sentra bambu di Sukabumi
Produksi bambu di Kabupaten Sukabumi, salah satunya berpusat di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, salah satunya di Kecamatan Waluran. Daerah tersebut dikenal memiliki keragaman spesies bambu yang tinggi, dengan Asosiasi Dunia Bambu Sukabumi (DBS) aktif melakukan konservasi dan edukasi di wilayah tersebut.
Pusat bambu di Kecamatan Waluran, termasuk area sekitar Gunungtanjung dan Desa Caringinnunggal. Sentra lainnya, adalah masi di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, yakni Desa Ciwaru dan Kecamatan Surade.
Selain itu bambu juga dihasilkan di semua kecamatan (47 kecamatan) di Sukabumi dalam skala produksi lebih kecil.
Sentra kerajinan bambu di Sukabumi

Namun demikian, meskipun bambu Sukabumi lebih banyak dihasilkan di wilayah selatan, untuk sentra produksi kerajinan bambu justru lebih banyak di utara, yakni Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, dan Cicantayan.
Berbagai produk dihasilkan, mulai dari bambu hoki di Perbawati, kerajinan anyaman besek di Sukajaya, hingga bahan baku alat musik angklung.
Sedangkan Kecamatan Waluran menjadi fokus karena keanekaragaman jenis bambu yang ada, didukung oleh upaya konservasi dari komunitas lokal.
Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi menjadi sentra pengrajin anyaman bambu/besek untuk kemasan mochi, yang telah beroperasi sejak 1980-an. Kecamatan ini juga menjadi sentra bambu hoki (tanaman hias) dengan berbagai bentuk seperti spiral, keranjang, dan guci yang menembus pasar internasional.
Kecamatan Surade terkenal sebagai penghasil bambu hitam berkualitas tinggi, yang digunakan sebagai bahan baku angklung Saung Udjo.
Kecamatan Kadudampit, di sini terdapat Yayasan Bumi Karuhun yang fokus pada edukasi dan inovasi produk kerajinan bambu.
Sedangkan, Kecamatan Cicantayan menjadi pusat kerajinan industri rumahan, seperti Kriya Cibiru.
Dunia Bambu Sukabumi (DBS) turut mendeklarasikan wilayah ini sebagai pusat bambu nasional, berfokus pada konservasi dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan.
Sentra kerajinan bambu di Jawa Barat
Tasikmalaya terkenal sebagai pusat olahan dan kerajinan bambu, menyumbang 24% dari total produksi olahan bambu di Jawa Barat. Daerah lain seperti Bojongmangu di Kabupaten Bekasi juga merupakan sentra produksi penting.
Hasil produksi bambu digunakan untuk bahan bangunan, industri kreatif/kerajinan (anyaman, besek, furnitur), alat musik tradisional (angklung), dan bahan konstruksi berkelanjutan.
Produksi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga merupakan komoditas ekspor. Untuk itu, pemerintah daerah terus mendorong potensi ini untuk meningkatkan ekonomi kreatif di wilayah Jawa Barat.
Pujian Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM memberikan apresiasi tinggi terhadap potensi bambu di Kabupaten Sukabumi. KDM mendorong penggunaan bambu sebagai bagian dari branding pembangunan daerah, baik untuk konstruksi, arsitektur, maupun kerajinan.
Terbaru, pujian KDM terhadap kualitas bambu dari Sukabumi disampaikan ketika ia meresmikan dan melakukan Grand Opening Praditya Adhigana Global School di Grand Cikareo, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (13/2/2026).
Dalam sambutannya, KDM menegaskan bahwa pendidikan harus membentuk anak yang memahami proses, menghargai kerja keras, dan memiliki karakter kuat.
“Kecerdasan harus dibangun seimbang dengan nilai moral—baik, benar, lalu pintar—karena kepintaran tanpa karakter dapat menjadi berbahaya,” ujarnya.
Diketahui, sekolah yang mengintegrasikan standar internasional dengan nilai karakter yang kuat melalui jenjang SMP dan SMA tersebut, menggunakan meja dan kursi dari bahan bambu sebagai pengganti papan kayu.
Dikutip dari video di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi, KDM memuji kursi dan meja belajar yang digunakan di sekolah tersebut karena menggunakan bahan dari bambu.
“Bambu Sukabumi itu kualitasnya yang terbaik. Jadi nanti, pak Bupati, meja belajar dan kursi di sekolah-sekolah itu harus menggunakan ini,” kata KDM sambil melirik ke Bupati Sukabumi, Asep Japar, yang turut mendampingi.
Sebelumnya, ketika hadir di Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-155, pada September 2025 lalu, KDM mendorong Sukabumi menjadi pusat desain bambu dan sentra kopi.
Untuk itu, KDM juga mendorong Kabupaten Sukabumi untuk menggunakan bambu sebagai identitas atau branding pembangunan, menggantikan kesan material modern yang kaku dengan pendekatan ekologis.
Selain itu, KDM merencanakan program untuk mengubah kebun sayur di lereng curam menjadi area budidaya bambu, khususnya di lahan milik PTPN di Sukabumi, untuk konservasi lingkungan.
KDM menegaskan bahwa bambu adalah material yang kuat dan ramah lingkungan untuk pembangunan, bahkan mendorong penggunaan bambu untuk infrastruktur sekolah. Dalam pandangannya, Sukabumi memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kebudayaan dan industri berbasis bambu yang bernilai ekonomis tinggi.









