sukabumiheadline.com l Selain dinilai warnanya yang indah, ayam ketawa dipelihara karena memiliki suara khas, yaitu mirip suara orang ketawa. Ayam ketawa adalah salah satu jenis ayam hias yang memiliki kelompok komunitas penghobi tersendiri di Sukabumi.
Para penghobi ayam ketawa ini menggabungkan diri dalam satu komunitas, Pengemar Ayam Ketawa Sukabumi atau PAKSI. Saat ini, PAKSI memiliki anggota aktif sekira 50 orang yang tersebar di Kota dan Kabupaten Sukabumi.
Dwiyana Primulya (52) adalah salah seorang penggagas berdirinya komunitas PAKSI, didirikan sejak 7 Mei 2013 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Komunitas ini berdiri sejak 7 Mei 2013, berawal dari hobi seneng pelihara unggas terutama ayam ketawa, saat ini anggota yang tergabung di komunitas ini berdomisili Kota dan Kabupaten Sukabumi,” ujarnya kepada sukabumiheadline.com, Ahad (29/8/2021).

Ia menambahkan, kegiatan PAKSI, selain silaturahim sesama anggota komunitas, juga latihan bersama atau biasa disebut “Nengger Bareng” setiap semingu sekali bertempat di Sekretariat PAKSI, Babakan Jampang, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, serta di Citengkor, Desa/Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
Selain itu, sebelum pandemi Covid-19, banyak kegiatan pernah dilakukan PAKSI, antara lain memberikan edukasi seputar ayam ketawa pada masyarakat Kota dan Kabupaten Sukabumi, mengikuti kontes ayam ketawa tingkat nasional di Bogor, Bandung, Karawang, Tanggerang, Jakarta, Bekasi, Purwakarta higga ke Wonosobo.
PAKSI juga kerap menjadi undangan dan meramaikan berbagai kegiatan di Kota dan Kabupaten Sukabumi.
“Di Kota Sukabumi sendiri baru dua kali mengadakan kontes yang diselenggarakan oleh PAKSI, bekerjasama dengan salah satu dinas, pada tahun 2018 dan 2019,” ujar Dwi.
Masih menurut dia, ada empat kriteria suara ayam ketawa, yaitu gretek atau sisko, dangdut, slow dan durasi atau durasi sambung.
Harga satu ekor ayam ketawa, sebut Dwi, bisa mencapai jutaan Rupiah. “Untuk harga ayam ketawa di Sukabumi sendiri baru bisa terjual di kisaran Rp50 ribu sampai Rp2 juta,” pungkas Dwi.