sukabumiheadline.com – Warga Sukabumi, Jawa Barat, tentu sangat familiar dengan nama perempuan yang satu ini. Bagaimana tidak, sosok Ribka Tjiptaning sudah selama 20 tahun jadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kota dan Kabupaten Sukabumi.
Sosoknya dikenal karena sejumlah kontroversi dan pernyataan-pernyataannya yang keras. Namun sebagai wakil rakyat, ia tergolong pribadi yang “galak” ketika menyuarakan kepentingan rakyat. Ia tak pernah segan berbicara keras kepada siapapun, termasuk sesama kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang duduk di eksekutif.
Tak heran kalau ia dinilai banyak kalangan sebagai sosok yang tidak disukai, selain karena sikapnya yang tanpa kompromi juga kontroversi yang menyertai pemikiran dan perjalanan hidupnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berita Terkait:
Profil dan biodata Ribka Tjiptaning
Nama lengkap wanita yang hobi memotong rambutnya dengan model pendek ini, adalah dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati, A.Ak.. Namun, ia populer dipanggil Mbak Ning atau Ning.
Ning memiliki latar belakang seorang dokter, namun ia lebih dikenal karena kiprahnya di dunia politik Tanah Air dari PDIP. Wanita ini merupakan jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FKUKI) dan Universitas Indonesia (FKUI).
Meskipun selalu mencalonkan diri dari Dapil Jawa Barat IV yang meliputi Kota dan Kabupaten Sukabumi, namun wanita ini merupakan kelahiran Yogyakarta, pada 1 Juli 1959.
Ia terlahir dari keluarga ningrat Jawa dan merupakan anak ketiga dari lima bersaudara (sekandung). Ayahnya bernama Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro yang merupakan pengusaha kaya sekaligus aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) yang jugaa seorang keturunan Kasunan Solo (Pakubowono) dan pemilik sebuah pabrik paku di Solo. Sedangkan ibunya merupakan keturunan Kraton Kasultanan Yogyakarta bernama Bandoro Raden Ayu Lastri Suyati.
Ketika masih kecil, Ning hidup dalam kondisi serba berkecukupan karena ayahnya seorang konglomerat yang memiliki lima pabrik besar pada saat itu.
Berita Terkait:
Namun, peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah mengubah jalan hidup keluarga yang sangat dicintainya.
Padahal diakui Ning, ayahnya tidak menduduki jabatan struktural apapun di PKI. Soeripto hanya salah seorang anggota biro khusus PKI, namun tidak sembarangan orang bisa bertemu dengannya.
Peristiwa G30S yang dilanjutkan dengan penangkapan orang-orang PKI membuat Suripto harus meninggalkan empat anak dan isteri yang tengah hamil. Usahanya otomatis mandek saat itu.
Ning yang saat itu masih duduk di bangku TK pun harus menyaksikan awal-awal kejatuhan keluarganya, di mana ayah yang dikaguminya tidak pernah lagi pulang ke rumah. Sedangkan ibu yang disayanginya diciduk oleh tentara.
Hingga kini, kata Ning, gedung bekas pabrik paku bapaknya masih mangkrak di Solo. Perjalanan keluarga Ning selanjutnya pun menjadi tak menentu.
Bersama ibu dan tiga saudaranya, Ning berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ia mengaku mengalami beragam pengalaman pahit. Beragam pekerjaan ia tekuni, bukan cuma untuk bertahan hidup, tapi juga untuk membiayai sekolahnya.
Dengan susah payah, setelah melewati 12 tahun masa studi, Ning berhasil meraih gelar dokter dari UKI. Ning juga aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian berubah menjadi PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.
Ketika PDI pecah, Ning memilih masuk kubu Megawati hingga saat ini. Dalam struktur kepengurusan PDIP terbaru, Ning menjabat sebagai salah seorang Ketua DPP. Baca selengkapnya: Ada Ganjar, Ahok, Ronny dan Adian, ini susunan pengurus DPP PDIP baru dilantik, siapa sekjen?
Kontroversi Ribka Tjiptaning
Salah satu kontroversi yang pernah ramai diberitakan, adalah ketika Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat melarang Ketua Komisi IX DPR dari Fraksi PDI-P Ribka Tjiptaning memimpin rapat panitia khusus dan panitia kerja.
Larangan itu terkait dengan kasus hilangnya Ayat (2) Pasal 113 dalam Rancangan Undang-Undang Kesehatan (RUU Kesehatan) yang disetujui Rapat Paripurna DPR, 14 September 2009 lalu.
Hal ini juga memicu penolakan publik terkait isu dirinya sebagai calon Menteri Kesehatan di Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla. Penolakan datang dalam bentuk petisi online hingga pernyataan sikap Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Kontroversi lainnya yang menyertai perjalanan hidup Ribka, adalah ketika dia berani bicara secara blak-blakan, bahkan mengaku bangga. Bukan cuma terbuka dalam berbagai kesempatan, wanita yang akrab disapa Ning ini juga sempat menulis buku Aku Bangga jadi Anak PKI.

Langkah ini bahkan sering disebut gila oleh para teman-temannya sesama anak korban Gerakan 30 September (G30S), namun menurut Ning, tak ada yang patut ditutup-tutupi soal dirinya. Dua orang tuanya memang sosok yang sangat pantas untuk dibanggakan.
“Bapak itu figur yang baik, prinsip hidupnya di dunia ini hanya ada dua ajaran yakni baik dan buruk sehingga tak ada perbedaan kelas,” kata Ning.
Salah satu pengalaman buruk yang masih ia ingat sampai sekarang adalah, bagaimana ia dan kakaknya dipaksa melihat langsung sang bapak disiksa.
Saat itu Soeripto diinterogasi tentara di sebuah rumah di Gang Buntu, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Rumah yang kala itu dikenal sebagai rumah tempat penyiksaan anggota PKI.
Namun demikian, soal ideologi yang dianutnya saat ini, Ning tegas menjawab “Pancasila Bung Karno 1 Juni 1965,” kata dia.
Baca Juga: Bawaslu Kabupaten Sukabumi bantah cuekin Ribka Tjiptaning terkait gugatan ke Desy Ratnasari
20 tahun jadi anggota DPR RI
Meskipun sejumlah kontroversi selalu menyertainya, faktanya ia selalu berhasil lolos ke Senayan (sebutan untuk Gedung DPR RI) dalam 4 kali Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, 2004, 2009, 2014, dan 2019.
Sayangnya, dalam Pemilu terakhir yang digelar pada 14 Februari 2024, ia gagal kembali menduduki kursi empuknya di Senayan. Ia kalah bersaing dengan dua calon anggota legislatif (caleg) wanita lainnya, yakni Dewi Asmara dari Partai Golkar dan Desy Ratnasari (PAN).
Kekinian, seperti diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, ia melaporkan Desy Ratnasari ke Dewan Kehormatan Panitia Pemilihan Umum (DKPP). Desy diduga melakukan penggelembungan suara sehingga membuat Ribka tersingkir dari perebutan satu jatah kursi terakhir dari enam kursi yang diperebutkan dari Dapil Sukabumi. Baca selengkapnya: Gagal ke Senayan, Caleg DPR RI PDIP dari Dapil Sukabumi gugat Desy Ratnasari
Selama duduk di kursi DPR RI, Ning pernah menjabat Ketua Komisi IX DPR RI dari fraksi PDIP untuk periode 2009-2014. Di Komisi IX, ia mengetuai komisi yang memperhatikan masalah-masalah di bidang tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan, dan kesehatan dan juga merupakan anggota dari Badan Urusan Rumah Tangga (DPR RI) DPR RI.
Namun, ia harus kehilangan jabatannya sebagai Ketua Komisi IX karena penolakannya yang keras terhadap program vaksinasi Covid-19 yang tengah digalakkan oleh pemerintah Jokowi – Ma’ruf Amin yang didukung partainya, PDIP.