Mengenal sejarah 3 zaman Paroki Santo Joseph dan perkembangan Katolik di Sukabumi

- Redaksi

Minggu, 30 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sukabumiheadline.com – Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Kota Sukabumi, Jawa Barat, dihuni oleh sekira 365,74 ribu (2024), dan pada 2025 diprediksi naik menjadi 370,68 ribu jiwa jiwa. Dari jumlah tersebut, sekira 351.900 jiwa di antaranya memeluk agama Islam.

Selain Muslim, Sukabumi juga dihuni oleh ribuan pemeluk Katolik, dan pemeluk agama resmi lainnya. Menurut data BPS 2024, ada sekira 5 ribu lebih pemeluk Katolik yang tergabung dalam paroki. Baca selengkapnya: Sebaran pemeluk agama dan jumlah tempat ibadah di Kota Sukabumi per kecamatan

Demikian juga dengan pemeluk Katolik di Kabupaten Sukabumi. Baca selengkapnya: Perbandingan jumlah pemeluk muslim dan non-muslim di Kabupaten Sukabumi per kecamatan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengertian Paroki

Untuk informasi, paroki adalah komunitas umat beriman di lingkungan Gereja Katolik yang berada di suatu wilayah geografis tertentu. Paroki merupakan unit gerejawi terendah dalam sebuah keuskupan, yang dibentuk untuk melayani kebutuhan spiritual umat di suatu wilayah.

Dengan demikian, paroki menjadi bagian dari struktur pemerintahan gereja dan merupakan unit dasar yang membentuk sebuah keuskupan.

Kepemimpinan paroki dipercayakan kepada seorang pastor paroki, yang bertugas untuk menggembalakan, membimbing, dan melayani.

Pastor paroki memiliki tanggung jawab untuk membimbing umat melalui pengajaran iman, perayaan sakramen (terutama Ekaristi), dan pelayanan pastoral lainnya. Reksa pastoral seorang pastor paroki berada di bawah wewenang uskup diosesan.

3 zaman Paroki Santo Joseph Sukabumi

Paroki Santo Joseph Sukabumi 1

Paroki Santo Joseph Sukabumi berdiri sejak 1927 silam, di mana sebelumnya tergabung di Katedral Bogor. Paroki Santo Joseph beralamat di Jl. Suryakencana No. 11, Kota Sukabumi.

Untuk diketahui, paroki lainnya yang berada di Sukabumi, adalah Paroki Cibadak.

Bila disimak dari sejarah perkembangannya, Paroki Sukabumi terbagi atas 3 masa/zaman, yaitu zaman pemerintahan Hindia Belanda, zaman Pendudukan Militer Jepang dan zaman Kemerdekaan Republik Indonesai hingga kini.

Paroki Santo Joseph Sukabumi zaman Hindia Belanda

Pada 10 September 1889 Alfred Pierre Yean Eugine Auguste, seorang bayi lahir pada tanggal 30 Agustus 1889, merupakan orang pertama yang di baptis di gereja ini oleh Romo MYD. Claessens Pr. Peristiwa tersebut merupakan tonggak awal berdirinya gereja Katolik St. Joseph Sukabumi

Pada 27 Desember 1940, Yeanete Fanny, orang ke-754 yang dibaptis di gereja St Joseph Sukabumi oleh Romo Yurebbe SJ., sehingga dapat di bayangkan dalam kurun waktu ± 51 tahun baru 754 orang yang dibaptis secara Katolik di Paroki di mana hampir seluruhnya orang Eropa (Belanda).

Sejak 1889 hingga Oktober 1941, Paroki Sukabumi di bawah asuhan penggembalaan ordo Sarekat Jesuit, termasuk wilayah gerejawi Jakarta (Batavia), dan sejak 1941 dalam kedudukan sementara sebagai Prefectur Apostolik Sukabumi.

Paroki Santo Joseph zaman pendudukan Jepang

Dalam dokumen sakramen baptis, orang pribumi Indonesia pertama dibaptis di Paroki ini ialah Donatus Martaji oleh Romo N. Geise OFM pada 3 Maret 1942. Kemudian berturut-turut Suzzana Maria (27 September 1943) oleh Romo N. Geise OFM, dan Yohan Frederik Hendrik (26 Oktoer 1943) oleh Romo Soemarno, SJ.

Pada Pendudukan Jepang itulah para Pator missionaries berkewarganegaraan Belanda di masukkan ke kamp tawanan oleh militer Jepang.

Paroki Santo Joseph Sukabumi zaman Kemerdekaan

Pada masa perang revolusi kemerdekaaan Republik Indonesia, 1945 – 1948, Jawa Barat menyatakan dirinya sebagai Negara Pasundan (Reconba) di bawah naungan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dibentuk Belanda. Paroki Sukabumi kembali digembalakan oleh para Pater ordo OFM., antara lain Pater Ariaans, Ofm., Pater Th. S. Hadiatmadja, Ofm., Pater Soejitno, Ofm., Pater Isamael, Ofm., dan Pater P. Teepe, Ofm.

Pada masa RIS, Pater N. Geise, OFM. dan kawan-kawannya mendirikan yayasan Mardi Yuana dalam bentuk SGA Mardi Yuana dan SMA Mardi Yuana di Sukabumi berdasarkan orientasi dan pengesahan administrasi dari pemerintah RI di Jogyakarta.

Pada 9 Desember 1948, Konggregasi Propaganda Fide secara definitif menetapkan lahirnya Prefectur Apostolik Sukabumi dan mengangkat pater N. Geise, OFM. sebagai pimpinan, pada 17 Desember 1948, meliputi wilayah eks Keresidenan Bogor, yakni Sukabumi, Cianjur, Pacet, Cipanas, Sindanglaya (kecuali Kota Bogor). Kemudian eks Keresidenan Banten yang meliputi Rangkasbitung, Serang, dan Labuan.

Baca Juga :  Rina Diana, Artis FTV Mantap Mualaf Setelah Melihat Muslim Shalat

Kehadiran Gereja Katolik di tengah-tengah masyarakat Sukabumi ditandai oleh persekolahan-persekolahan, yang dikelola oleh Yayasan Mardi Yuana, Yayasan Yatna Yuana, para suster OSU, SFS, dan para Bruder Budi Mulia (bahkan dulu para Suster YMY juga berkarya disini).

Prinsip Mgr. Geise OFM, bahwa sekolah bukanlah sarana untuk “membaptis” orang menjadi Katolik, tetapi di pegang teguh. Sekolah adalah bukti kepedulian Gereja terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Bukti pengamalan ajaran cinta kasih yang diyakininya.

Pada 1969, Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan menjadi Keuskupan Bogor. Pada 16 Oktober 1961 Pater N. Geise, Ofm. diangkat menjadi Uskup Bogor yang pertama dan ditahbiskan pada 6 Januari 1962.

Perkembangan Gereja Katolik Sukabumi

Paroki Santo Joseph Sukabumi 2

Bangunan gereja dan pastoran pada awalnya, yakni sejak 1896, didirikan Pater MYD Claessens, Pr. Di Jl. Cipelang Gede no. 33-35, 35-37 (sekarang gedung Bank Jabar, Jl. A. Yani) dengan daya tampung maksimal 100 orang, sementara pastoran sendiri terletak di Jl. Selabatu atau lokasi gereja saat ini, Jl. Suryakencana No. 11.

Perkembangan umat yang cukup pesat, menuntut tempat ibadah lebih luas. Maka gedung gereja lama dijual dan digunakan untuk membangun gereja baru di lokasi pastoran. Sementara itu, pastoran pindah ke Jl. RE. Martadinata No. 52 (saat ini dipergunakan kantor Pusat Yayasan Mardi Yuana dan DKPKB).

Proyek pembangunan selesai pada 1964 di bawah pangawasan anemer Achmad Diredja dan diberkati oleh Mgr. N. Geise OFM.

Lalu pada 1990, pastoran dipindahkan menjadi satu ke dalam gereja di Jalan Suryakencana, yang diberkati pada 28 Oktober 1990 oleh Mgr. Harsono, Pr. Kemudian pada 1993, bangunan gereja direnovasi dan diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada 1994.

Sekira 1967 wilayah kerja paroki St. Joseph khusus Kota Sukabumi terbagi atas 4 wilayah: yaitu Wilayah Sukabumi Utara, Wilayah Sukabumi Selatan, Wilayah Sukabumi Timur, Wilayah Sukabumi Barat.

Masing-masing wilayah memiliki 7 lingkungan. Tetapi sekira 1970, nama wilayah kerja paroki khusus kota diganti menjadi Wilayah Matius, Wilayah Markus, Wilayah Lukas, dan Wilayah Yohanes.

Pada 1990 wilayah Markus dipecah menjadi dua yaitu Wilayah Markus dan Wilayah Petrus karena perkembangan jumlah umat dan pemekaran wilayah. Dengan demikian paroki Sukabumi saat ini memiliki 5 wilayah.

Mengapa perkembangan Katolik di Sukabumi lamban?

Jumlah umat Katolik Paroki St. Joseph Sukabumi pada 1998 sekira 4.000 jiwa. Meskipun saat ini jumlahnya terus berkembang, namun hal itu terbilang lamban.

Untuk diketahui, pemeluk Katolik di Sukabumi terdiri atas berbagai Ras dan Suku, antara lain warga keturunan Tionghoa, suku Jawa, Batak, Flores, Minahasa, Maluku dan Sunda.

Umat Katolik pendatang suku bangsa Jawa maupun dari luar Jawa pada umumnya berkarya dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Beberapa di antaranya berasal dari Maluku terpanggil sebagai guru Inpres di daerah pedalaman Kabupaten Sukabumi.

Sementara yang warga keturunan Tionghoa biasanya sebagai wiraswastawan atau karyawan perusahaan swasta. Tingkat pertumbuhan umat di paroki ini nampaknya lambat, antara lain di sebabkan oleh:

  • Pembaptisan umat dari penduduk asli suku Sunda sangat sedikit.
  • Kaum muda/remaja dan dewasa rata-rata melanjutkan pendidikan di luar Sukabumi dan memperoleh pekerjaan di luar Sukabumi.
  • Umat yang berasal dari keluarga ABRI sering di alih tugaskan/mutasi ke luar Sukabumi.
  • Umat yang berasal dari siswa Secapa POLRI masa tinggalnya untuk sementara, hanya selama masa pendidikan.

Pembentukan Dewan Paroki

Pada 1948, pater N. Geise, OFM., membentuk Aksi Katolik di Paroki Sukabumi yang mengemban tugas layaknya Dewan Paroki saat ini. Pada 1962, pater AG. Jacobs, OFM., memprakarsai pembentukan Dewan Paroki di Santo Joseph Sukabumi yang bertujuan untuk:

  1. Menghimpun segenap potensi sumber daya umat paroki.
  2. Membantu tugas karya pastor paroki.
  3. Mengurus dan melaksanakan tugas pastoral ke dalam, berupa tugas sekitar altar dan bina umat dan tugas pastoral ke luar, berupa hubungan dengan masyarakat umum dan pemerintah.

Buah karya penuai

Meskipun Paroki St. Joseph Sukabumi dalam perkembangannya terbilang lamban, namun hingga saat ini telah menyumbangkan sejumlah putra-putri terbaiknya untuk menjadi Biarawan dan Biarawati yang berkarya sebagai penuai di ladiing Tuhan.

Mereka itu antara lain:

  • Pater Makmun Muchtar, OFM. (alm) Alumni SGA Mardi Yuana Sukabumi.
  • Romo Putranto, SJ., Alumni SD Mardi Yuana 2 Sukabumi, putra keluarga Soelami, yang pernah memimpin Ordo Serikat Yesus di Indonesia.
  • Frater Darius Darmawan Kuntara, OFM. Alumni SMA Mardi Yuana Sukabumi th 1992, putra keluarga Eddy Kuntara.
  • Sr. Ancilla, SFS., yang kini berkarya di Biara SFS Jalan Bondongan, Bogor.
  • Sr. Clementin, CB. Putri Kel. R. Brotosoehadjo.
  • Sr. Francis Sunarjo OSU, yang berkarya di Biara Ursulin Providentia, Jl. Anggrek Bandung.
  • Sr. Rosalina Suratno OSU, yang kini berkarya di Flores.
  • Romo Agustinus Pr, Imam Praja Surabaya yang kini sedang studi lanjut di Roma.
Baca Juga :  Pemimpin Katolik Yerusalem: Yahudi Ekstrem Serang Umat Kristen Secara Masif

Stasi-Stasi di bawah Paroki Santo Joseph Sukabumi

Paroki Santo Joseph Sukabumi - Ist
Paroki Santo Joseph Sukabumi – Ist

Terdapat 4 stasi di bawah pembinaan Paroki St. Joseph ini, yaitu:

  1. Stasi Pelabuhan Ratu: Dimulai sekitar tahun 1974/1975, dengan jumlah umat ± 100 jiwa dengan perayaan ekaristi setiap Minggu kedua. Letak kapel di ruas jalan utama antara Pelabuhan Ratu dengan Hotel Samudra Beach, di mana pada saat ini bangunannya sedang dalam proses di rehabilitasi.
  2. Stasi Cikembar: Dimulai pada tahun 1971 dengan jumlah umat ± 70 jiwa (13 KK) di mana perayaan ekaristi diadakan dirumah umat dan saat ini belum memiliki kapel.
  3. Stasi Cikaso – Waluran dan Ciemas: Terletak ± 80 – 120 KM di selatan Sukabumi, dengan jumlah umat ± 30 jiwa di mana pada awalnya dimulai tahun 1950 di perkebunan Cikaso, kemudian dengan perkembangan umat, maka secara bergiliran antar umat Cikaso, Waluran atau Ciemas perayaan ekaristi diselenggarakan pada Minggu keempat setiap bulan di rumah umat, karena, belum memiliki kapel.
  4. Stasi Cikotok: Sejak 1958/1959 sd. Sekitar tahun 1978. jumlah umat ini ± 16 KK. Perayaan ekaristi di selenggarakan pada Minggu kedua setiap bulan. Memiliki kapel sendiri dan pelayanan pastoral untuk saat ini ditangani oleh pastor dari Paroki Rakasbitung.

Mengenal kegiatan Paroki Santo Joseph Sukabumi 

Dalam setiap aktivitasnya, Dewan Paroki tidak mengabaikan kegiatan yang telah dilakukan para pendahulunya. Pada masa awal Orbam Dewan Paroki bersama Dewan Organisasi tetap yang menjalankan tugasnya sebagai pengambilan keputusan antara lain:

  1. Behasil membantu membebaskan 3 orang warga umat katolik yang menjadi korban fitnah sebagai tapol ABRI.
  2. Menempatkan Sdr. SA. Soelami, Th. Suhardi, J. Setiabudhi dalam LPKB (sekarang Bakom PKB) untuk membantu pengurusan penggantian nama WN Keturunan Tionghoa.

Sementara pada periode 1980 hingga saat ini, Dewan Paroki lebih mengarahkan perannya dalam karya pembinaan iman umat warga paroki dan lebih memusatkan pada kegiatan gerejawi seputar altar, antara lain:

  1. Menyusun perangkat Dewan Paroki sesuai dengan pedoman struktur organisasi Dewan Paroki Keuskupan Bogor.
  2. Menyelenggarakan rekoleksi, penataran bagi para aktivis perangkat Dewan Paroki, Wilayah sampai tingkat lingkungan dan RT maupun bagi para lector/lektris.
  3. Membentuk prodiakon untuk membantu tugas-tugas pastoral para pastor paroki (saat ini T. Soehardo, Th. Suhardi, Djamari, HC. Djamijo, AS. Damanik, Johan Sunarta, Freddy Winujaya, RD. Sudar-sono, Ilham S., Ag. Sunarto, BJ. Sudijo).
  4. Pembina Putra Altar.
  5. Pembinaan kelompok paduan suara antara lain: Santa Ceicilia, Sekolah-sekolah, Wilayah, Mudika, KKMK, WKRI., PD. Karismatik, Bina Iman/ Sekolah Minggu.
  6. Pembinaan iman warga umat paroki dengan cara rekoleksi bagi kelompok pemandu dalam pendalaman iman, pendalaman iman di wilayah-wilayah serta pembentukan persekutuan doa (Legio Maria, Karismatik, Senakel, Taize).
  7. Pelayanan Katekese yang ditangani oleh awam (BJ. Sudijo dan Johan Sunarta), suster
  8. Ursulin dan SFS serta pastor untuk melayani para katekumen calon baptis dan siswa-siswa katolik di sekolah non katolik.
  9. Bina iman (dikoordinir ibu Elly Suparto) dengan dukungan dari dr. Vera Yoyong, dr. Lena, dr. Meitiawati.
  10. Bina Keluarga, menyelenggarakan kursus persiapan perkawinan ditangani AS. Damanik – Sr. Ignatin, OSU., dkk.
  11. Menerbitkan majalah Gema Paroki dengan pembinaan Rm. Markus Lukas, Pr., dan pengasuh Herman Yosef Suryana, BI. Murtopo, AI. Sunu Dwi W., dkk namun saat ini terjadi kevakuman, karena masalah waktu pengasuh dan peran serta umat.
  12. Pelayanan social – kariatif – ekonomis, bagi para umat ekonomi lemah, santunan dana papa secara rutin bulanan bagi umat paroki yang benar-benar membutuhkan, santunan dana kesehatan (konsultasi dokter katolik secara gratis dan bantuan penebusan resep), Rukun Kematian dan Koperasi.
  13. Kerjasama antar gereja, Perayaan Natal bersama, Aksi Sosial Natal bersama.
  14. Kerja sama dengan umat Islam.

Berita Terkait

Haram! Hukum semir rambut dengan warna hitam dalam Islam
Kisah Tatiana, gadis pemberani dari Jampang Tengah Sukabumi dihukum mati di Groningen
Sejarah Gedung Sate: Nama awal, data teknis hingga konsep arsitektur
Bolehkah shalat Tahajud tanpa tidur terlebih dulu? Begini maknanya menurut ulama
Perempuan dan wanita dalam terjemahan AlQuran: Islam realisasikan kesetaraan gender
Beda hukum mencukur bulu kemaluan dan pangkas habis jenggot dalam Islam
Ulama harus jadi garda terdepan, Fatwa MUI: Haram buang sampah ke sungai, danau, laut
Ruben Onsu kian dekat dengan Sukabumi, ini momen belajar agama di Ponpes Darul Habib

Berita Terkait

Minggu, 30 November 2025 - 22:37 WIB

Haram! Hukum semir rambut dengan warna hitam dalam Islam

Minggu, 30 November 2025 - 21:02 WIB

Mengenal sejarah 3 zaman Paroki Santo Joseph dan perkembangan Katolik di Sukabumi

Minggu, 30 November 2025 - 13:49 WIB

Kisah Tatiana, gadis pemberani dari Jampang Tengah Sukabumi dihukum mati di Groningen

Sabtu, 29 November 2025 - 14:48 WIB

Sejarah Gedung Sate: Nama awal, data teknis hingga konsep arsitektur

Jumat, 28 November 2025 - 18:29 WIB

Bolehkah shalat Tahajud tanpa tidur terlebih dulu? Begini maknanya menurut ulama

Berita Terbaru

Seorang pria mewarnai rambut beruban dengan cat rambut warna hitam - sukabumiheadline.com

Hikmah

Haram! Hukum semir rambut dengan warna hitam dalam Islam

Minggu, 30 Nov 2025 - 22:37 WIB

BCA Syariah melakukan penanaman pohon di Cisitu , Sukabumi - BCA Syariah

Tak Berkategori

Mitigasi bencana, BCA Syariah tanam 1.500 pohon di Cisitu, Sukabumi

Minggu, 30 Nov 2025 - 16:31 WIB