sukabumiheadline.com – Perubahan dan pergeseran tren tidak melulu soal fesyen atau model rambut, tapi juga soal kecenderungan perilaku manusia. Sejumlah faktor dituding sebagai pemicu, dari mulai persoalan di lingkup domestik (keluarga), hingga pengaruh eksternal, lingkungan dan media sosial.
Pada tahun 2026, kecenderungan perilaku perempuan akan didorong oleh keinginan kuat untuk kesejahteraan holistik, ekspresi diri yang otentik, dan koneksi nyata di tengah dunia yang semakin digital dan penuh tekanan.
Perubahan perilaku perempuan pada 2026, dari mulai wellness, kesejahteraan finansial, mental health, unplugging, ekspresi diri, hingga konsumen kritis, diulas sejumlah media dan konsultan kepribadian luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut rangkumannya, sukabumiheadline.com sajikan untuk Anda, beberapa tren utama yang diprediksi akan mendominasi pergeseran perilaku perempuan di tahun ini:
1. Fokus pada kesejahteraan holistik (wellness) dan kesehatan mental

Dikutip sukabumiheadline.com dari artikel Forbes yang berjudul 6 Forces Shaping Consumer Behavior In 2026 And What They Mean For Business, Selasa (13/1/2026), perempuan semakin sadar akan pentingnya memahami ritme alami tubuh dan siklus mereka untuk mencapai kesejahteraan fisik dan mental secara holistik.
- Memahami Tubuh & Ritme Alami Diri: Ada penekanan yang meningkat pada pemahaman siklus dan ritme alami tubuh untuk mencapai kesejahteraan yang utuh.
- Fokus pada Ketahanan (Resilience): Tren kesehatan akan bergeser dari sekadar relaksasi ke arah praktik-praktik somatik (seperti breathwork dan terapi suara) yang mendukung sistem saraf untuk mengelola stres dan kelelahan secara efektif.
- Utilitas Kesehatan Saat Ini: Konsumen, termasuk perempuan, mencari intervensi kesehatan yang memberikan bantuan terukur saat ini (misalnya, solusi tidur yang ditingkatkan, dukungan sistem saraf) dibandingkan janji “lebih baik nanti” yang tidak jelas. Tren kesehatan akan bergeser dari sekadar relaksasi ke arah membangun ketahanan (resiliensi) terhadap stres dan kelelahan, dengan meningkatnya minat pada praktik somatik, breathwork (latihan pernapasan), dan solusi tidur yang lebih baik.
2. Pencarian koneksi nyata dan kejujuran

Meskipun teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, ada kerinduan mendalam akan hubungan interpersonal yang jujur dan bermakna. Hal ini terlihat dalam tren hubungan asmara dan sosial, di mana orang mencari interaksi yang asli, serta dalam perilaku konsumen yang lebih memilih merek yang transparan dan otentik.
- Koneksi Nyata: Dalam hubungan asmara dan sosial, ada kecenderungan untuk mencari kejujuran dan interaksi yang bermakna.
- Unplugging atau Melepaskan Diri dari Teknologi): Diperkirakan akan terjadi tren pelepasan diri dari media sosial yang berlebihan, dengan fokus pada pertemuan tatap muka, acara luar ruangan, dan interaksi yang lebih intim di platform komunitas yang lebih kecil.
- Pentingnya Pengalaman: Pengalaman yang bermakna akan lebih dihargai daripada konsumsi transaksional.
3. Ekspresi diri yang berani dan sadar

Dalam hal fesyen dan kecantikan, tren tidak lagi hanya tentang mengikuti apa yang sedang viral, tetapi lebih kepada ekspresi diri dan kepercayaan diri. Perempuan akan memilih gaya yang terasa pas untuk diri mereka sendiri, memadukan pengaruh era 80-an dan 90-an dengan sentuhan modern, dan berani bereksperimen dengan warna-warna cerah dan perhiasan tebal.
4. Perilaku Konsumen yang Kritis dan Berfokus Nilai

Didorong oleh kekhawatiran ekonomi dan inflasi, konsumen perempuan (dan konsumen secara umum) akan menjadi lebih selektif dan berfokus pada nilai. Mereka akan memprioritaskan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan produk, menuntut bukti nyata dari klaim etis dan lingkungan dari merek.
- Gaya yang Sadar & Berkarakter: Tren mode didorong oleh keinginan untuk mengekspresikan gaya pribadi yang terasa pas, bukan sekadar mengikuti tren.
- Keberlanjutan & Transparansi: Keberlanjutan menjadi faktor penentu dalam keputusan pembelian. Konsumen mencari merek yang transparan dan otentik secara desain.
- Nilai Emosional: Konsumen mencari produk dan pengalaman yang memberikan nilai emosional, etis, dan sensorik di luar fungsi dasarnya.
5. Menuntut Kesetaraan dan Dukungan di Tempat Kerja

Sementara itu, dikutip dari McKinsey & Company, dalam artikel berjudul Women in the Workplace 2025, di lingkungan profesional, perjuangan untuk kesetaraan dan perlakuan yang adil terus berlanjut.
Perempuan menuntut dukungan yang lebih baik terkait keseimbangan kehidupan kerja, seperti opsi kerja hibrida yang fleksibel dan akses terhadap layanan penitipan anak yang terjangkau.
Banyak perusahaan berisiko mengabaikan kemajuan perempuan, dan tahun 2026 dilihat sebagai momen penting untuk menegaskan kembali komitmen terhadap keragaman gender di tempat kerja.
- Menuntut Kesetaraan & Dukungan: Perempuan menunjukkan minat yang lebih rendah untuk dipromosikan jika mereka tidak menerima dukungan karier yang sama dengan rekan pria mereka. Ada penekanan yang meningkat pada perlunya perusahaan berinvestasi dalam kemajuan karier perempuan.
- Fleksibilitas & Beban Tanggung Jawab: Isu seputar beban tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak yang tidak setara tetap menjadi perhatian. Akses terhadap cuti pengasuhan berbayar dan pengaturan kerja yang fleksibel (seperti kerja hibrida) menjadi kunci untuk partisipasi penuh perempuan dalam angkatan kerja.
- Kesejahteraan Finansial: Banyak perempuan, terutama mereka yang menjadi pencari nafkah utama, merasa kewalahan dengan situasi keuangan mereka. Mereka akan mencari sumber daya pendidikan keuangan dan pensiun yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Secara keseluruhan, perempuan pada tahun 2026 diproyeksikan akan lebih berdaya, sadar diri, dan selektif dalam cara mereka menginvestasikan waktu, energi, dan uang mereka.









