SUKABUMIHEADLINES.com I PARUNGKUDA – Berbagai macam lagu terdengar cempreng dari speaker active sederhana yang diletakkan di atas gerobak dorong. Lagu mengiringi arak-arakan enam pengamen ondel-ondel yang kerap mondar-mandir di Jalan Siliwangi, Parungkuda hingga Jalan Suryakencana, Cibadak, bahkan sampai Cisaat dan Kota Sukabumi.
Sekelompok pengamen ondel-ondel tersebut terlihat berbeda dari pengamen-pengamen lainnya yang umumnya memiliki alat musik sendiri-sendiri.

Mereka adalah Ahmad atau yang biasa disapa Pilot (33), Roni Gunawan (19), Daniel Irvan (22), Aldi Maulana (14), Fiu Alman (8), Wisnu Gunawan (11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
sukabumiheadlines.com mewawancarai mereka pada Sabtu (6/11/2021), di depan sebuah kios di Jalan Siliwangi, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.
Ahmad, Roni, dan Daniel berasal dari Kota Depok. Ketiganya sengaja datang ke Sukabumi karena sudah tidak memungkinkan mengamen dengan ondel-ondel di Jakarta, semenjak ada larangan menjadikan ondel-ondel sebagai sarana mengamen. Larangan tersebutlah yang membawa ketiganya mengais rezeki di Sukabumi.
Sementara, Aldi, Fiu dan Wisnu merupakan anak-anak asal Kabupaten Sukabumi. Ketiga bocah itu rutin mengikuti aktivitas mengamen untuk menambah uang jajan.
Target Sanggar
Diungkapkan Daniel, setiap hari mereka memulai aktivitas mengamennya dari Sanggar Perkasa Parungkuda, tempat mereka bernaung untuk mencari rezeki. Setiap hari mereka mengakrabi debu jalanan, dari satu tempat ke tempat lainnya, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Keluar dari sanggar jam 10.00 WIB, ada dua grup yang ngamen, satu grup ke arah Cicurug satu lagi kita ke arah Cibadak,” papar Daniel.
Grup Ahmad (Pilot) membawa dua ondel-ondel setiap mengamen, mereka berjalan dari Parungkuda menyisir jalanan sampai ke Cibadak. Bahkan, terkadang sampai Cisaat, jika setoran dirasa masih kurang dari target yang sudah ditentukan sanggar.
“Mulai jalan dari jam 10.00 WIB dan balik jam 17.00 WIB, tergantung duit yang didapat. Kalau belum dapat buat setoran ke sanggar, ya jalan terus. Makanya pernah sampai ke Cisaat,” tambahnya.
Uang hasil seharian mengamen yang mereka dapat dibagi dua dengan sanggar atau bagi hasil dengan pemilik sanggar.
“Istilahnya kita sewa ke sanggar, jadi setoran ke sanggar dari satu ondel-ondel itu Rp65 ribu, kalau dua ya jadi Rp130 ribu. Terus buat kitanya paling dapat Rp40 ribu per orang,” jelasnya.
Alasan Memilih Mengamen
Ketika sukabumiheadlines.com menanyakan alasan kenapa memilih berprofesi sebagai pengamen ondel-ondel, mereka memiliki alasan beragam. Dari mulai dari tidak mau menyusahkan orang tua, tekanan dari orang tua, sampai gara-gara berasal dari keluarga broken home.
“Saya sih mau jadi seperti ini karena tadinya gak kuat sama tekanan orang tua yang harus mengikuti kemauan mereka,” kata Ahmad.
“Keadaan orang tua yang kurang mampu akhirnya saya gak mau nyusahin,” timpal Daniel.
“Kalau saya sih tadinya gara-gara orang tua cerai, akhirnya milih ngamen gini,” jawab Roni.
Anak-anak Sukabumi
Selain tiga pria dewasa, dalam grup ini juga terdapat tiga anak di bawah umur yang masih berstatus pelajar sekolah dasar (SD) di Parungkuda. Mereka ikut mengamen dari jam pulang sekolah.
Ketiga bocah Sukabumi tersebut ikut mengamen karena alasan tidak mau menyusahkan orang tua, serta untuk mencari tambahan uang jajan.
“Kita mah ngamen gini karena gak mau nyusahin orang tua, sama buat nambah uang jajan. Terus kalau ikut (ngamen), dari mulai pulang sekolah, jadi gak ngeganggu waktu sekolah kita,” ungkap Wisnu yang diamini kedua temannya.
Ditambahkan Daniel, ia mengaku selalu berpesan kepada ketiga bocah tersebut, jika ikut dalam rombongan mereka harus sepulang dari sekolah.
“Saya sih suka bilang ke mereka, kalau mau ikut ngamen harus pulang sekolah. Pokoknya kalian yang masih sekolah harus pada rajin sekolahnya, jangan sampai kayak kita-kita yang udah dewasa, ngerasain pahitnya hidup. Pokoknya kalian harus sukses,” pungkas Daniel.