Menelisik alasan penolakan jalur KA ke Palabuhanratu Sukabumi oleh RA Eekhout

- Redaksi

Senin, 26 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kereta api uap melintasi perbukitan yang indah - sukabumiheadline.com

Ilustrasi kereta api uap melintasi perbukitan yang indah - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Upaya pemerintah kolonial membuka jalur kereta api (KA) ke wilayah pedalaman Jawa Barat bertujuan untuk mempermudah mengangkut hasil bumi seperti tebu, karet, kina, teh maupun kopi.

Hal itu lah yang mendorong pemerintahan kolonial Belanda gencar melakukan pembukaan jalur-jalur KA baru di pulau Jawa salah satunya di tanah Pasundan, pada paruh kedua abad ke-19.

Nantinya hasil bumi tersebut akan dikirimkan ke ibu kota, Batavia (sekarang Jakarta) yang sudah terhubung dengan jalur kereta api dari Buitenzorg (Bogor) sejak 31 Januari 1873.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga: Stasiun KA Sukabumi akan direlokasi ke Cibeureum, terkoneksi dengan terminal bus

Sejak dulu, Stasiun KA Bogor merupakan stasiun pusat pemberangkatan dan kedatangan KA hingga kini, KA di Kota Bogor, baik KRL maupun kereta lokal. Selain jalur kereta mengarah ke Jakarta Kota, Stasiun Bogor juga memiliki jalur menuju Sukabumi.

Selain untuk segi ekonomi, adanya jalur KA juga digunakan untuk keperluan militer dan aksesibilitas daerah yang masih terisolir.

Baca Juga: Menelisik alasan dibangun dan penampakan Stasiun KA Parungkuda Sukabumi tahun 1900
Pembangunan jalur KA tak berhenti sampai Cicurug, karena pada tahun-tahun berikutnya pemerintah membuka jalur lagi sampai Cibadak, Sukabumi, Cianjur hingga Bandung dan Cicalengka.

Perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS), akhirnya memulai pembangunan jalur yang terbagi menjadi tiga tahap, yaitu:

  • Buitenzorg (Bogor) – Cicurug, 27 kilometer (pembukaan jalur 5 Oktober 1881)
  • Cicurug – Sukabumi, 31 kilometer (21 Maret 1882)
  • Sukabumi – Cianjur, 39 kilometer (10 Mei 1883)

Baca Juga: Mengingat peristiwa Cibadak 1914, hoaks pertama di Sukabumi

Rencana pembangunan jalur KA ke Palabuhanratu 

Saat ini, rencana pembangunan Jalan Tol Cibadak-Pelalabuhanratu sangat didambakan warga di pesisir Selatan Kabupaten Sukabumi tersebut. Kehadiran jalur KA atau jalan tol diyakini akan membuat kawasan wisata itu cepat berkembang.

Namun, jauh sebelum keinginan warga Palabuharatu memiliki jalur KA atau jalan tol menuju kawasan Pantai Selatan Sukabumi itu, ternyata Pemerintah Hindia Belanda sudah memikirkannya sejak ratusan tahun silam.

Stasiun KA Cibadak tempo dulu
Stasiun KA Cibadak tempo dulu – Troppen Museum

Menurut catatan sukabumiheadline.com, dulu Cibadak ini lebih dikenal dengan nama Ciheulang, Scipio yang melewati wilayah ini bersama Letnan Tanujiwa pada 11 Agustus 1867, menyebutnya sebagai Silangh (Ciheulang). Begitupun Gubernur Jendral Abraham Van Riebeeck yang mengunjungi Jogjogan dan Pondok Opo (dua tempat yang masih wilayah Cibadak) menyebutnya sebagai Tzilangh.

Baca Juga :  Daftar camping ground terbaik di Sukabumi 2026 rekomendasi dua agen perjalanan

Nama Ciheulang kemudian diresmikan sebagai distrik pada 1776. Fakta pembentukan distrik untuk pertamakalinya diperkuat oleh keberadaan kuburan Raden Raksadipraja (1739-1830) demang/wedana Ciheulang pertama di Nagrak.

Pembangunan infrastruktur awal di Cibadak dilakukan sesudah pembelian wilayah ini oleh Engelhardt bersamaan dengan wilayah lainnya oleh Andries De Wilde dan Raffles pada 1813.

Sang pengelola yaitu Andries De Wilde membangun 20 kilometer irigasi yang disalurkan dari Sungai Cikolawing dan Cicatih. Baca selengkapnya: Dulu Bernama Ciheulang, 5 Catatan Sejarah Kota Cibadak Sukabumi Sejak Zaman Purba

Dalam catatan peneliti Pieter Willem Korthals tanggal 2 Juli 1831, wilayah yang dia sebut The Badaks (Cibadak), memiliki irigasi yang dibuat disungai Tjitjati dengan lembah berumput dan kontur yang tajam. Irigasi ini digunakan untuk mengairi perkebunan tanam paksa.

Barulah setelah Stasiun Kereta Api (KA) selesai dibangun, nama Cibadak semakin populer. Sehingga pada 17 Mei 1913 Distrik Ciheulang berubah nama menjadi Distrik Cibadak dan dikenal pada masa awal kemerdekaan sebagai Kawedanaan Cibadak.

Sementara itu, menurut dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Matua Harahap, pada 1890 RA Eekhout memiliki konsesi untuk membangun jalur rel kereta api (listrik atau uap) dari Cibadak ke Pelabuhan Ratoe.

“Pemerintah pusat telah membuat kebijakan baru menutup pelabuhan Wijnkoopsbaai dari segala aktivitas perdagangan pemerintah dan perdagangan luar negeri,” kata peneliti yang juga hobi berkebun itu.

Rencana tersebut menyeruak sehubungan dengan beroperasinya jalur KA ruas Bogor-Bandung via Sukabumi Cianjur.

“RA Eekhout ingin menyelamatkan Wijnkoopsbaai (Palabuharatu) dan terus mengembangkannya,” kata Matua. Baca selengkapnya: Foto-foto sejarah pembangunan jalur Kereta Api Bogor-Sukabumi-Cianjur 1873

Menurut catatan, Palabuharatu (Wijnkoopsbaai) pertama kali dikunjungi oleh orang Eropa sejak 1687, yakni ketika dilakukan ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Scipio yang diawali dari muara Sungai Cimandiri (rivier van Gekrok) menuju pedalaman hingga ke Gunungguruh.

“Dari Gunungguruh, kembali melalui punggung Gunung Salak-Pangrango,” jelas Matua.

Selanjutnya, hingga ke titik singgung terdekat Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane dengan membangun benteng (fort) yang disebut Benteng Padjadjaran. Dari benteng tim ekspedisi kembali ke Batavia melalui sisi timur Sungai Ciliwung.

Baca Juga :  Statistik dan profil Igor Sergeev, ini alasan striker kelas piala dunia 2026 gagal gabung Persib

Berita Terkait: Kota Produsen Tuak dan Pelabuhan Internasional, Menyingkap Asal-usul Palabuhanratu Sukabumi

Untuk informasi, kelak de Wilde (di era pendudukan Inggris (1811-1816) membuka usaha pertanian di sekitar Gunungguruh (Cikole, yang menjadi cikal bakal Kota Sukabumi). Baca selengkapnya: Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda

Seperti diketahui, saat ini Ibu Kota Kabupaten Sukabumi telah dipindahkan dari Kota Sukabumi ke Palabuharatu. Jika Kota Sukabumi diawali oleh de Wilde maka Palabuharatu ingin direvitalisasi oleh RA Eekhout.

“Namun gagasan Eekhout ditolak banyak pihak,” pungkas peneliti yang juga hobi menonton sepak bola itu. Baca selengkapnya: Mengungkap konsesi jalur rel KA Cibadak-Pelalabuhanratu Sukabumi milik RA Eekhout

Dari penelusuran sukabumiheadline.com, dari jurnal berjudul Transportasi Kereta Api di Jawa Barat Abad Ke ke-19 (Bogor-Sukabumi-Bandung) karya Lasmiyati, dan sejumlah jurnal lainnya, rencana pembangunan jalur KA ke Palabuhanratu pada masa Hindia Belanda tidak terealisasi karena sejumlah alasan strategis dan ekonomi yang berkembang saat itu.

Diketahui, pemerintah kolonial lebih memprioritaskan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan daerah pedalaman penghasil komoditas ekspor utama (seperti kopi, teh, dan kina) langsung ke pelabuhan besar di utara, yakni Batavia.

Setelah jalur KA Bogor-Sukabumi diresmikan pada 1882, distribusi barang hasil bumi dari Sukabumi dialihkan sepenuhnya melalui jalur darat ke Stasiun Bogor dan berlanjut ke Batavia.

Hal ini mengurangi nilai urgensi Palabuhanratu sebagai pelabuhan ekspor utama bagi hasil bumi di Sukabumi.

Selain itu, terdapat catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Palabuhanratu dikhawatirkan menjadi pusat aktivitas penyelundupan jika akses infrastrukturnya terlalu terbuka tanpa pengawasan ketat, sehingga pemerintah kolonial cenderung membatasi pengembangan infrastruktur besar di sana.

Melengkapi alasan penolakan pembangunan jalur KA ke Palabuhanratu pada waktu itu, adalah secara historis medan menuju pesisir selatan Jawa Barat yang berbukit-bukit memerlukan biaya pembangunan yang sangat tinggi dibandingkan dengan nilai ekonomis yang dihasilkan pada waktu itu.

Hingga akhir masa kekuasaannya, Belanda lebih memilih untuk memfokuskan pengembangan pelabuhan di pantai utara yang memiliki perairan lebih tenang dibandingkan pantai selatan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.


Dilarang republikasi artikel di atas tanpa seizin Redaksi sukabumiheadline.com

Berita Terkait

Jadwal 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1447 H Muhamadiyah – NU dan perbedaan metode
Dahsyatnya bacaan di antara dua sujud, doa yang merangkum semua harapan manusia
Kisah 5 tokoh Sukabumi mualaf dan sukses jadi pengusaha, menteri, hingga istri pangeran
5+5 ide bisnis di Sukabumi sesuai syariat Islam
Hari ini 61 tahun lalu, Kotapraja Sukabumi resmi jadi Kotamadya, kapan jadi kota dan apa bedanya?
Ini lho daftar bangunan tertua dan bersejarah di Sukabumi
Bukan hanya punya wilayah terluas, Sukabumi juga kabupaten terbanyak masjid
Kisah inspiratif pria asal Sukabumi, tinggalkan gaji ratusan juta, mualaf, lalu jualan cincau

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 02:04 WIB

Menelisik alasan penolakan jalur KA ke Palabuhanratu Sukabumi oleh RA Eekhout

Sabtu, 24 Januari 2026 - 18:39 WIB

Jadwal 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1447 H Muhamadiyah – NU dan perbedaan metode

Jumat, 23 Januari 2026 - 03:48 WIB

Dahsyatnya bacaan di antara dua sujud, doa yang merangkum semua harapan manusia

Jumat, 23 Januari 2026 - 00:01 WIB

Kisah 5 tokoh Sukabumi mualaf dan sukses jadi pengusaha, menteri, hingga istri pangeran

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:57 WIB

5+5 ide bisnis di Sukabumi sesuai syariat Islam

Berita Terbaru

Internasional

Sudah dikepung militer AS, Iran siap perang total

Minggu, 25 Jan 2026 - 22:43 WIB