Mengingat peristiwa Cibadak 1914, hoaks pertama di Sukabumi

- Redaksi

Sabtu, 15 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Pos Cibadak tempo dulu - Troppen Museum

Kantor Pos Cibadak tempo dulu - Troppen Museum

sukabumiheadline.com – Saat ini berita hoaks sudah menjadi bak tsunami informasi. Berseliweran dari berbagai penjuru Tanah Air. Dari mulai Terkait politik hingga persoalan sosial dan agama. Mirisnya, akibat hoaks kerap terjadi ketegangan tidak hanya di dunia maya, tapi juga hingga dunia nyata.

Karenanya, warga Sukabumi, Jawa Barat, yang tidak berhati-hati dalam mencerna informasi bisa berbahaya. Alih-alih mendapatkan pencerahan, yang ada bisa berakibat hukum bagi diri sendiri.

Nah, siapa sangka ternyata informasi hoaks yang beredar di Sukabumi tidak hanya terjadi belakangan ini, tapi ternyata sudah ada sejak masa pra kemerdekaan Republik Indonesia. Tepatnya, ketika masa penjajahan Belanda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Khususnya di Sukabumi, kala itu Jepang sudah melakukan aktivitas perdagangan dan menjalin hubungan dengan para pengusaha lokal, meskipun sebenarnya pemerintah Hindia Belanda masih merasa khawatir akan ekspansi Jepang.

Teluk Palabuhanratu tempo dulu
Teluk Palabuhanratu tempo dulu – Troppen Museum

Bagaimana catatan ihwal hoaks pertama yang terjadi di Sukabumi saat itu?

Berikut adalah kisah menarik terkait kabar bohong pertama yang terjadi di wilayah Sukabumi, disarikan dari media jaringan sukabumiheadline.com, yakni sukabumixyz.com.

Berita Terkait: Dulu Bernama Ciheulang, 5 Catatan Sejarah Kota Cibadak Sukabumi Sejak Zaman Purba

Pasang surut hubungan Jepang dan orang Sunda

Ternyata hubungan orang Sunda dengan Jepang sudah terjadi sejak masa kerajaan Sunda Pajajaran, Gaess. Kapal-kapal Jepang tercatat oleh Tome Pires melakukan jual beli di Pelabuhan Sunda Kelapa. Tahun 1423 Kapal Ryukyu dari Jepang berlayar ke wilayah Sunda, yaitu Banten dan Sunda Kalapa (saat itu disebut Karava (Kalapa)”.

Kapten kapal, Kotaba dan Matsuda, memimpin perdagangan Ryukyu dalam mencari rempah dan komoditas lainnya, sekaligus menjadi mediator Pajajaran dengan Cina.

Jual beli yang dilakukan dengan koin tercatat membawa 90 kerang keong dan 58.000 Crowries (semacam alat tukar). Ada 458 dokumen yang menjelaskan pelayaran Ryuku ke Asia Tenggara termasuk Pajajaran sekira 1425-1509, kunjungan ke Sunda Kalapa pada 1513 itu membawa 226 awak kapal. Setidaknya dua dokumen mencatat kunjungannya ke Sunda Kalapa pada 1513 dan 1518.

Berita Terkait: Kota Produsen Tuak dan Pelabuhan Internasional, Menyingkap Asal-usul Palabuhanratu Sukabumi

Orang Jepang juga sudah berkeliaran di Tatar Sunda pada waktu itu. Tercatat seorang pelukis pernah wara wiri di pedalaman Tatar Sunda pada masa kolonial untuk mencari bentuk fisik binatang badak. Tani Buncho (1764-1840), sang pelukis Jepang, kemudian melakukan ekspedisi ke Priangan Banten selatan untuk melukis badak.

Konon makanan tradisional campuran Jepang, yang kita kenal dengan nama Moci dan saat ini dikenal sebagai penganan khas Sukabumi, juga dibawa orang Jepang. Hal tersebut membuktikan adanya interaksi ekonomi antara orang Jepang dan penduduk lokal Sukabumi sebetulnya sudah terjadi sebelum Jepang menduduki Indonesia.

Sebelum pecah Perang Dunia I, Jepang mulai melakukan unjuk kekuatan, diawali dengan menyerang Rusia di Port Arthur dengan torpedonya, dan berhasil menghancurkan kekuatan Rusia di Manchuria. Pada 1910, Semenanjung Korea, Pulau Taiwan dan Sakhalin sudah dikuasai Jepang. Hal ini cukup mengkhawatirkan pemerintah kolonial di Hindia Belanda.

Berita Terkait: Foto-foto sejarah pembangunan jalur Kereta Api Bogor-Sukabumi-Cianjur 1873

Hoaks dari Cibadak

Stasiun KA Cibadak tempo dulu
Stasiun KA Cibadak tempo dulu – Troppen Museum

Ada kisah lucu dalam buku The Netherlands Indies and the Great War 1914-1918 yang ditulis Kees Van Dijk, berkisah tentang kekhawatiran Hindia Belanda akan munculnya nasionalisme bangsa Asia, termasuk bangsa Indonesia.

Bahkan, di Hindia Belanda ternyata pernah heboh akibat pemberitaan tiga koran ternama, Java Bode, de Locomotief, dan Preanger Bode, ketiganya menurunkan berita bahwa Jepang sudah memasuki Palabuhanratu.

Sumber berita berdasarkan telegram dari Cibadak ke Gubernur Jenderal yang melaporkan bahwa ada 15 kapal perang Jepang terlihat di Teluk Palabuhanratu. Sontak isi telegram menimbulkan kehebohan di internal pemerintah Hindia Belanda.

Asisten Residen Sukabumi diminta untuk menginvestigasi kabar tersebut. Lalu, telegram dikirim ke pejabat di Palabuhanratu, namun jawabannya tidak ada yang tahu mengenai hal ini. Demikian juga saat dikonfirmasi ke perusahaan paket di Pelabuhanratu (KPM), jawabannya sama.

Namun kekhawatiran Gubernur Jenderal di Batavia masih ada. Angkatan Darat dan Laut Hindia Belanda pun dalam Siaga 1, dan siap perang dengan mengirim pasukan berkuda ke Palabuhanratu. Bahkan, Jenderal de Greve samapi harus berangkat ke Palabuhanratu menggunakan mobil untuk memantau langsung situasi.

Namun sayangnya, di Palabuhanratu tak terlihat satupun kapal perang Jepang. Staff KPM juga mengonfirmasi bahwa tidak ada tanda-tanda kapal Jepang di situ. Tidak masuk akal kapal Jepang tiba-tiba muncul di Pantai Selatan sebelum melewati Selat Sunda.

Sialnya, ternyata ada seseorang di Cibadak mengirimkan telegram ke kantor Gubernur Jenderal untuk sekadar guyonan dengan mengirim kabar hoaks. Tidak diketahui siapa pengirimnya, namun akibatnya cukup menggemparkan saat itu.


Dilarang republikasi artikel di atas tanpa seizin Redaksi sukabumiheadline.com

Disarikan sukabumihadline.com dari artikel di media jaringan, sukabumixyz.com yang berjudul: Hoaks dari Cibadak dan potret hubungan Jepang-Hindia Belanda di Sukabumi

Berita Terkait

102 tahun Sarkem Cicurug Sukabumi dan kisah hidup ulama berdarah menak Sunda
Profil Kumaila Hakimah, alumni ponpes di Sukabumi yang sebut AlQuran sudah kadaluwarsa
Mengenal pondok pesantren yang didirikan Wali Songo, nomor 5 di Jawa Barat
4 foto masa muda kedekatan tokoh asal Sukabumi dengan Prabowo dan Menhan
Profil Mr R Syamsudin: 5 fakta tokoh asal Sukabumi, didukung Kapolri jadi Pahlawan Nasional
Memahami konsep hujan dalam Islam dan ayat-ayat rahasia di baliknya
Daftar tokoh bergelar SH diabadikan jadi nama jalan, nomor 17 asal Sukabumi
Profil dan kisah hidup Tan Boen Soan: jurnalis dan novelis asal Sukabumi, lahir 1905

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 20:33 WIB

102 tahun Sarkem Cicurug Sukabumi dan kisah hidup ulama berdarah menak Sunda

Jumat, 11 September 2026 - 06:49 WIB

Profil Kumaila Hakimah, alumni ponpes di Sukabumi yang sebut AlQuran sudah kadaluwarsa

Jumat, 11 September 2026 - 02:28 WIB

Mengenal pondok pesantren yang didirikan Wali Songo, nomor 5 di Jawa Barat

Kamis, 10 September 2026 - 01:50 WIB

4 foto masa muda kedekatan tokoh asal Sukabumi dengan Prabowo dan Menhan

Rabu, 9 September 2026 - 08:00 WIB

Profil Mr R Syamsudin: 5 fakta tokoh asal Sukabumi, didukung Kapolri jadi Pahlawan Nasional

Berita Terbaru

Sebuah rumah bergaTaufiq Ismail membaca puisi di Kota Sukabumi - Fadli Zon

Kultur

Kala penyair legendaris Taufiq Ismail baca puisi di Sukabumi

Minggu, 13 Sep 2026 - 21:42 WIB