sukabumiheadline.com – Ahmed al-Sharaa, Presiden Suriah yang baru menggantikan Bashar al-Assad yang digulingkan pada Desember 2024 lalu. Ia dilantik sebagai presiden pada Pemerintahan Transisi Suriah sejak 29 Januari 2025.
Sebelumnya ia dikenal sebagai pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang pernah menjadi cabang al-Qaeda. Dia mengubah citranya secara dramatis sejak 2016 ketika memutuskan hubungan dengan al-Qaeda, membuka jalan bagi pendekatan yang lebih moderat dan diplomatis.
Profil dan perjalanan hidup Ahmed Al-Sharaa
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemilik nama lengkap Ahmed Hussein al-Shar’a (bahasa Arab: أحمد حسين الشرع) alias Abu Mohammad al-Julani (bahasa Arab: أبو محمد الجولاني).
Al-Sharaa lahir pada 29 Oktober 1982 di Riyadh, Arab Saudi. Pada 2012, lulusan Faculty of Medicine , Damascus University, Universitas Damaskus, ini menikahi Latifa al-Droubi.
Al-Sharaa juga merupakan amir dari organisasi sebelumnya Front al-Nusra, cabang Suriah dari al-Qaeda. Sebagai emir HTS sejak 2017 hingga 2025, ia memainkan peran penting dalam serangan oposisi Suriah pada 2024 yang menyebabkan jatuhnya rezim Assad dan pembentukan pemerintahan transisi Suriah.
Al-Sharaa kemudian menjabat sebagai pemimpin de facto negara tersebut hingga pengangkatannya sebagai presiden. Ahmed al-Sharaa merupakan tokoh yang terlibat dalam peristiwa besar di Suriah dan geopolitik dunia.
Al-Sharaa lahir pada 1982 di Riyadh, Arab Saudi. Keluarga al-Jolani berasal dari Golan Heights, di mana ayahnya, Hussein, dipaksa mengungsi akibat pendudukan Israel pada 1967.
Keluarganya kemudian pindah dari Suriah ke Jordan, kemudian Irak, dan akhirnya ke Arab Saudi. Ia tumbuh di Arab Saudi sampai 1988, sebelum keluarganya pindah ke Damaskus, Suriah.
Terinspirasi oleh Intifada Palestina tahun 2000, ia memutuskan untuk melawan oppressor dan bergabung dengan kelompok militan.
Ia lalu bergabung dengan al-Qaeda di Irak, dikenal sebagai AQI (kemudian ISIS), dan dipenjara di Camp Bucca sekitar tahun 2005, sebelum dibebaskan pada 2011.
Pada 2012, ia membentuk Jabhat al-Nusra, yang diakui sebagai cabang al-Qaeda di Suriah. Hingga pada 2013, Al-Sharaa pernah menolak penggabungan dengan ISIS, teguh pada hubungan dengan al-Qaeda, dan memproklamirkan loyalitas kepada Ayman al-Zawahiri.
Namun, pada 2016, ia mengumumkan putus hubungan dengan al-Qaeda dan mengganti nama menjadi HTS. Selanjutnya, Al-Sharaa menggagas pemerintahan sipil di wilayah pendukung HTS di Idlib.
Setelah gencatan senjata, fokus pada pembangunan pemerintahan sipil dan stabilitas di Idlib, meskipun tetap keras terhadap lawan politik dan kelompok militan lain.
Politik dan diplomasi

Pada 2024-2025, Al-Sharaa melakukan serangkaian langkah diplomatik, termasuk perjanjian dengan SDF (Kurdi) untuk memberi hak kewargaan penuh kepada warga Kurdi.
Ketika Bashar al-Assad digulingkan, ia dinyatakan sebagai pemimpin de facto Suriah dan mulai membangun pemerintahan nasional yang baru, mencoba membangun citra moderat dan pluralistik untuk rekonsiliasi dengan dunia internasional.
Pada 2025, ia berkunjung ke Manila dan New York, menyampaikan visi stabilisasi dan pembangunan demokrasi di Suriah.
Ia juga bertandang ke Amerika Serikat untuk berdiskusi dengan Presiden Donald Trump. Hasilnya, Trump menjanjikan pencabutan sanksi dan memulai hubungan resmi setelah 25 tahun putus hubungan.
Selanjutnya, Al-Sharaa menjadi pemimpin Suriah pertama yang berpidato di Sidang Umum PBB dalam hampir 60 tahun.
Al-Sharaa juga berkesempatan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang merupakan sekutu Suriah sejak masih dipimpin Al-Assad.
Di masa kepemimpinannya, Al-Sharaa berjanji bakal menciptakan perdamaian dan menuntut keadilan terhadap rezim lama. Ia juga bertekad menyatukan kembali seluruh wilayah Suriah.
Selain itu, ia menjanjikan baklava membangun institusi negara berbasis merit dan keadilan, menghidupkan kembali ekonomi dan layanan dasar, serta menjalankan reformasi yang relatif moderat, tetapi kontroversial dan cepat, termasuk perubahan kurikulum pendidikan dan campur tangan militer di daerah yang masih loyal terhadap Assad.
Benarkah keturunan Rasulullah SAW?
Klaim mengenai Ahmed Al-Sharaa sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW masih memerlukan verifikasi historis mendalam dan bukan merupakan fakta yang disepakati secara luas.
Meskipun ada narasi yang mengaitkan keluarga Al-Sharaa dengan garis nasab tersebut, fokus utama berita sejumlah media mengenai dirinya saat ini adalah perannya sebagai pemimpin transisi Suriah.
Di Indonesia, salah seorang yang mengaitkan nasab Al-Sharaa kepada Nabi Muhammad SAW, adalah Ustadz Felix Siauw, namun hal itu memerlukan penelitian silsilah yang valid.
Namun, sang ayah Hussein al-Sharaa, memicu perbincangan luas di media sosial setelah sebuah stasiun Televisi Al-Arabiyah menayangkan wawancaranya.
Dalam perbincangan itu ia menyinggung berbagai hal, mulai dari asal-usul keluarganya, perbedaan pandangan dengan putranya, hingga pengalaman pribadi terkait rezim Assad.
Hussein menegaskan bahwa keluarganya berasal dari Desa Jibeen, yang merupakan pemilik tanah terbesar hingga 80%, dan memiliki kedudukan sosial yang dihormati. Ia menyebut keluarganya memiliki ikatan dengan Ahlul Bait dan termasuk dalam garis keturunan Bani Hasyim.
Dalam wawancara tersebut, Hussein juga menceritakan percakapan dengan putranya sebelum pertempuran Aleppo. Ia sempat menasihati agar pasukan tidak menyerang Aleppo karena akan menghadapi kekuatan besar dari Rusia, Iran, dan rezim Assad.
Namun Ahmed menegaskan keyakinannya bahwa mereka kuat, bahkan lebih kuat dari Hamas dan Hizbullah. Tak lama setelah itu, serangan pun benar-benar terjadi di Aleppo hingga akhirnya seluruh Suriah berhasil dibebaskan dari Rezim Assad.
Mengenai perbedaan pemikiran dengan anaknya, Hussein menjelaskan bahwa Presiden Ahmed al-Sharaa memiliki visi untuk menjadikan Suriah negara maju, mengembalikan para pengungsi, serta membangun hubungan dengan negara-negara kawasan seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, dan Turki, sekaligus berupaya menghapus sanksi internasional.
Ia juga menggambarkan putranya sebagai sosok yang sangat sabar dan berkomitmen terhadap masa depan Suriah.
Narasi terkait keturunan Nabi sering dikaitkan oleh sebagian pihak dengan harapan munculnya pemimpin akhir zaman, namun ulama mengingatkan untuk bijak dan berhati-hati dalam menentukan klaim tersebut.
Secara keseluruhan, klaim tersebut masih bersifat klaim kekeluargaan/narasi dan bukan pengakuan akademis atau sejarah yang final.









