sukabumiheadline.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah menyerahkan sepenuhnya urusan Iran kepada sekutunya, Amerika Serikat (AS). Hal itu dikemukakan Netanyahu usai bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump.
Netanyahu juga memuji pertemuan pertamanya dengan Donald Trump sejak kedua negara melancarkan perang terhadap Iran.
Pertemuan tertutup berlangsung di Gedung Putih, Selasa (28/7/2026), tersebut menjadi kesempatan bagi Netanyahu untuk memperbaiki hubungannya dengan Trump yang belakangan dilaporkan mengalami ketegangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, pertemuan selama hampir 90 menit itu berlangsung positif dan produktif. Namun, Gedung Putih belum membeberkan secara terperinci hasil pembicaraan kedua pemimpin.
Netanyahu kemudian menyebut pertemuan tersebut berjalan “sangat baik”. Melalui unggahan di Instagram, ia mengatakan pembicaraan turut dihadiri jajaran senior pemerintahan Trump.
“Sebuah percakapan dengan kemitraan penuh, dengan dukungan timbal balik, dengan pemahaman tentang tujuan bersama untuk memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan tujuan-tujuan lainnya juga,” katanya, sebagaimana dikutip dari AP News, Jumat (31/7/2026).
Seorang pejabat Israel yang mengetahui isi pertemuan mengatakan, Netanyahu menyampaikan bahwa Israel akan membalas apabila Iran kembali menyerang negaranya. Namun, di luar kemungkinan serangan tersebut, Israel akan memercayakan langkah berikutnya kepada Trump.
Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel akan terus berbagi informasi intelijen dengan Amerika Serikat. Pemerintah Israel, kata pejabat tersebut, memahami Washington memiliki pertimbangan dan jadwal tersendiri. Pertimbangan itu termasuk dampak eskalasi militer terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah.
Pernyataan Netanyahu muncul ketika Trump berusaha mencari kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri konflik. Sikap tersebut berbeda dengan keinginan Netanyahu yang disebut ingin melanjutkan operasi militer terhadap Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Netanyahu sebelumnya mengakui bahwa keputusan mengenai langkah selanjutnya terhadap Iran banyak bergantung kepada Trump. “Dalam banyak hal, itu adalah keputusannya,” ujar Netanyahu pada Ahad (26/7/2026).
“Jika dia dapat melakukannya tanpa kembali ke pertempuran militer yang intens, itu bagus. Mengapa tidak?” tambahnya.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa program nuklir Iran tetap harus dihentikan. “Tetapi dengan satu atau lain cara, mereka harus mengakhiri program nuklir mereka,” katanya.









