sukabumiheadline.com – Generasi Z (Gen Z) menghadapi berbagai tantangan kompleks, mulai dari tekanan ekonomi, kesehatan mental, masalah di dunia kerja, diselingkuhi pasangan, hingga perilaku fear of missing out (FOMO) yang dipicu rasa cemas jika ketinggalan tren di media sosial.
Menurut laporan GoodStats, 60% Gen Z di Indonesia mencemaskan masa depan, dari mulai masalah keuangan dan ekonomi, krisis biaya hidup, pertumbuhan ekonomi, hingga overthinking akibat rasa takut kehilangan dan kesepian.
Krisis biaya hidup yang menantang, membuat harga-harga, termasuk properti, melambung tinggi dibanding rata-rata gaji awal. Hal itu membuat sebagian besar Gen Z pesimistis bisa memiliki rumah sendiri dengan cepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Belum lagi sebagian Gen Z juga harus menanggung kebutuhan finansial keluarga orang tua atau kerabat sebelum mereka sempat mengamankan aset finansial pribadi.
Padahal di tempat kerja, kehadiran teknologi baru hingga artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan generatif membuat pekerjaan tingkat awal (entry-level) menjadi tersaingi dan memicu kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan.
Setumpuk masalah tersebut diperparah dengan munculnya stigmatisasi di lingkungan dan tempat kerja. Gen Z sering diidentifikasi secara keliru sebagai generasi yang mudah stres, kurang berkomitmen, atau menuntut fleksibilitas tinggi (work-life balance).
Lantas, bagaimana Gen Z Sukabumi memandang seabrek masalah tersebut? Bagaimana solusi agar ke luar dari setumpuk tantangan yang menghadang?
sukabumiheadline.com mewawancarai sejumlah Gen Z di Kedai Sukakopi, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).
Kesehatan mental, stres, hingga overthinking

Kania, Sifa, Peony, dan Zara, membenarkan kecemasan dan depresi bisa memicu meningkatnya potensi stres dan overthinking yang tinggi akibat tuntutan sosial, perselingkuhan, hingga kekhawatiran keliru mengambil keputusan.
“Kalau misal kita punya pasangan, takut dia selingkuh, takut main belakang. Itu bikin overthinking, Kalau kejadian, aku sih langsung cut aja,” Kania Ramadhani (21).
“Kalau aku sih dimaafkan dulu sekali, kalau terulang, baru cut,” timpal Sifa Salsabila (21).
“Aku overthinking akibat trauma. Aku dua kali diselingkuhi. Padahal, dua-duanya masih ada ikatan keluarga. Jadi intinya, gak percaya cowok aja,” Peony Triyasashi.
Sementara itu, Zara (18), mengaku kerap overthinking akibat memikirkan pendapat orang lain hingga rasa takut berlebih kelak ternyata salah mengambil keputusan di kemudian hari.
“Yang sering membuat saya overthinking adalah memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, terlalu memikirkan pendapat orang lain, takut mengambil keputusan yang salah, dan terus memikirkan hal-hal yang sebenarnya sudah terjadi dan tidak bisa diubah,” kata Zara.
Terkait kelelahan mental (burnout), seperti akibat tekanan hidup dan beban kerja yang berat, hingga kemungkinan munculnya rasa kesepian akibat kurangnya interaksi langsung secara sosial. Peony mengaku lebih karena diakibatkan kehilangan seseorang atau sesuatu yang berarti bagi hidupnya.
“Karena kehilangan itu, ya kesepian,” kata Peony.
Ekonomi dan karier

Sementara itu, soal karier dan ekonomi, Zara mengaku mengkhawatirkan ketidakpastian di masa depan, terutama soal biaya hidup yang mahal dan sulitnya mendapat pekerjaan, hingga target yang mungkin tidak sesuai rencana.
Di sisi lain, standar sukses yang tinggi membuat persaingan ketat di bidang akademik serta karier.
“Yang membuat saya cemas dalam 5 sampai 10 tahun ke depan adalah ketidakpastian tentang masa depan, terutama soal pendidikan, pekerjaan, dan apakah saya bisa mencapai tujuan yang saya inginkan,” kata Zara.
“Saya juga khawatir akan menghadapi kegagalan atau perubahan yang tidak sesuai dengan rencana. Namun, saya ingin menjadikan rasa cemas tersebut sebagai motivasi untuk terus belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri,” papar gadis 18 tahun itu.
Gaya hidup dan teknologi

Di sisi lain, setumpuk masalah yang menghantui Gen Z Sukabumi, juga bisa mendorong kecanduan layar atau screen time. Akibat penggunaan gawai berlebih bisa memicu gangguan tidur.
“Bisa banget. Mungkin karena saat cemas atau overthinking, seseorang bisa jadi lebih sering main HP karena HP memberi distraksi dan bikin pikiran terasa lebih tenang sementara,” jelas Zara.
Lebih jauh, Zara mengungkap tips untuk menghilangkan overthinking. Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan, adalah menenangkan diri terlebih dahulu, agar terhindar dari kesalahan mengambil keputusan.
“Kalau aku lagi cemas atau overthinking, biasanya aku coba nenangin diri dulu, bukan maksa pikiran langsung hilang. Dengerin musik, nonton sesuatu yang ringan, cerita ke orang yang dipercaya, atau tidur dan istirahat sebentar,” saran Zara.
“Kadang juga aku coba fokus ke hal yang bisa aku lakukan sekarang, karena mikirin hal yang belum tentu terjadi malah bikin makin capek,” pungkasnya.
Potensi muncul masalah baru
Namun, masalah mungkin tidak berhenti di situ. Setumpuk masalah tersebut pada gilirannya, bisa memicu kecemasan dan stres akibat ketidakpastian ekonomi serta paparan informasi global yang masif. Hal itu merupakan dampak media sosial.
Berawal dari penggunaan gawai dan media sosial secara konstan untuk menghindari stres secara berlebih-lebihan, justru bisa memicu comparison trap (kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain), gangguan tidur, hingga mood swing.
Akibat tekanan finansial dalam kondisi budaya serba cepat, juga memicu sebagian Gen Z malah terjebak dalam gaya hidup konsumtif, utang instan melalui pinjaman online (pinjol), atau judi online.









