sukabumiheadline.com – Di sela kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu korban bencana gempa bumi, beredar unggahan video warga di Kabupaten Sukabumi, menyampaikan nestapa yang dialami terkait penanganan rumah warga terdampak bencana sejak 2025 lalu.
Dalam video tersebut muncul tulisan “JAUH DI JUGJUG ANGGANG DI ANTEP”, yang berarti jauh didatangi tetapi yang dekat justru diabaikan.
Warganet mempertanyakan perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terhadap kondisi masyarakat Sukabumi, terutama di tengah sorotan bahwa Dedi kerap turun langsung ke daerah lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berita Terkait: Disentil KDM, Pemkab Sukabumi satset verval korban bencana di Simpenan

Di antara korban terdampak bencana adalah puluhan warga Kampung Babakan Cisarua RT 002/015 Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan. Mereka berharap segera ada solusi dari pemerintah. Baca selengkapnya: Batu numpuk dalam rumah, warga korban bencana Sukabumi nangis tak ada perhatian
Keluhan tersebut disampaikan melalui video, berkaitan dengan kondisi sejumlah rumah milik 46 KK tersisa di wilayah Desa Cidadap, Babakan Cisarua, Kecamatan Simpenan, yang mengalami kerusakan akibat longsor dan banjir sejak 2025. Baca selengkapnya: 500 korban bencana minta kepastian, KDM ingin Pemkab Sukabumi ajukan ke pemprov
“Kepada pak Dedi Mulyadi, kami selaku warga Desa Cidadap, Kampung Babakan Cisarua RW 015. Sim kuring katitipan carios korban bencana taun 2025 anu seueurna 46 KK, nu mana anjeuna selama hampir dua tahun terlunta-lunta (saya dititipi pesan oleh korban bencana tahun 2025 sebanyak 46 KK, yang hampir dua tahun ini hidup terlunta-lunta – red),” kata warga, dikutip sukabumiheadline.com, Senin (24/8/2026).
Selanjutnya, warga mempertanyakan kejelasan bantuan untuk membangun kembali rumah yang terdampak dan berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari pemerintah provinsi.
Berita Terkait: Momen Bupati Sukabumi dipuji setinggi langit oleh KDM, sebelumnya sempat dikritik

Menanggapi keluhan itu, melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, gubernur memberikan klarifikasi. la mengatakan, dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Bupati Sukabumi, Asep Japar, pada untuk menanyakan persoalan tersebut.
“Tadi malam saya sudah berkomunikasi dengan Bupati Sukabumi, menanyakan, ini masalahnya apa? Dan rupanya beliau juga kurang begitu paham,” kata pria yang akrab dipanggil KDM itu.
Dedi kemudian mengaku sudah meminta Asep Japar segera menyiapkan lahan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Jika lahan sudah tersedia, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan siap memberikan bantuan dana untuk pembangunan rumah.
“Saya minta ke pak bupati, apabila ada warga yang mendapat bencana longsor atau banjir dan kehilangan tempat tinggal, diminta untuk menyiapkan tanah, agar pemprov bisa memberikan bantuan keuangan untuk membangun rumah,” katanya.
Baca Juga: Dedi Mulyadi: Bupati Sukabumi sulit dihubungi, tapi problemnya banyak sekali
Dedi menjelaskan, bantuan dari Pemprov Jabar disiapkan sekitar Rp40 juta untuk setiap rumah, dengan konsep rumah adat Sunda.
“Jadi saya sudah meminta ke pak bupati untuk segera disiapkan tanahnya. Kalau tanahnya sudah tersedia, nanti kami memberikan bantuan untuk pembangunan rumahnya. Biasanya bantuannya berupa rumah adat Sunda, nilai bantuannya 40 juta Rupiah (per rumah),” papar Dedi.
Menurutnya, skema serupa juga diterapkan bagi warga terdampak bencana di sejumlah daerah lain, seperti Purwakarta, Tasikmalaya, dan Karawang.
la juga menegaskan bantuan ditargetkan segera ditransfer ke rekening warga yang memenuhi syarat sebagai penerima.
Dedi turut menyampaikan permohonan
maaf apabila pelayanan pemerintah belum maksimal atau informasi mengenai kondisi warga belum sampai kepadanya. la menegaskan pemerintah provinsi tidak dapat mengetahui seluruh persoalan di lapangan tanpa adanya laporan dari bupati, camat, maupun kepala desa.
Di akhir klarifikasinya, Dedi menegaskan
komitmennya untuk membantu membangun kembali rumah-rumah warga yang terdampak bencana di berbagai wilayah Jawa Barat.









