sukabumiheadline.com – Partai Arab Joint List resmi mendukung pemimpin oposisi, Gadi Eisenkot, menjadi perdana menteri (PM) Israel menggantikan Benjamin Netanyahu.
Dukungan tersebut membuat Eizenkot memperoleh rekomendasi dari 67 anggota parlemen dan melampaui mayoritas di parlemen Israel, Knesset. Sementara itu, kubu pendukung Benjamin Netanyahu hanya mengumpulkan 53 dukungan.
Diberitakan Middle East Monitor, Joint List menyampaikan dukungan itu kepada Presiden Israel, Isaac Herzog, dalam konsultasi di Kediaman Presiden Israel pada Kamis (5/11/2026). Delegasi partai tersebut dipimpin Ketua Joint List, Yousef Jabareen, dan dihadiri Ahmad Tibi, Bakr Awawdeh, Ofer Cassif, serta Maha Sabah Karkabi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami telah memutuskan untuk mendukung Gadi Eizenkot,” demikian pernyataan Joint List, dikutip sukabumiheadline.com, Jumat (6/11/2026).
Partai tersebut mengatakan keputusan itu diambil secara bulat setelah berkonsultasi dengan seluruh partai yang tergabung dalam Joint List. Mereka mengakui keputusan tersebut tidak mudah.
Joint List menyatakan dukungan kepada Eizenkot bertujuan mencegah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pemerintahannya kembali berkuasa.
Belum pasti jadi PM Israel
Namun demikian, dukungan koalisi partai-partai Arab belum final, karena meski telah mengantongi 67 rekomendasi, Eizenkot belum otomatis menjadi perdana menteri.
Rekomendasi partai-partai tersebut bukan merupakan kesepakatan koalisi pemerintahan, melainkan menjadi pertimbangan Herzog dalam menentukan anggota parlemen yang akan diberi mandat membentuk pemerintahan.
Dengan demikian, Eizenkot masih harus menggalang dukungan politik untuk membentuk koalisi yang mampu memperoleh kepercayaan parlemen.
Sebanyak 11 partai yang berhasil masuk parlemen telah bertemu Herzog secara terpisah selama dua hari untuk menyampaikan kandidat pilihan mereka.
Dengan tambahan 11 rekomendasi dari Joint List, Eizenkot kini mengantongi dukungan 67 anggota parlemen. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan Netanyahu yang memperoleh rekomendasi dari 46 anggota parlemen.
Partai-partai oposisi juga sepakat mengoordinasikan upaya pembentukan pemerintahan baru dan memulai negosiasi mengenai pedoman kebijakan serta kesepakatan koalisi.

Berdasarkan hukum Israel, Herzog memiliki waktu tujuh hari sejak pengumuman hasil tersebut untuk menunjuk anggota Knesset yang akan mendapat mandat membentuk pemerintahan.
Anggota parlemen yang menerima mandat memiliki waktu 28 hari untuk membentuk pemerintahan. Presiden dapat memberikan perpanjangan hingga 14 hari jika diperlukan.
Apabila upaya pertama gagal, Herzog dapat memberikan mandat kepada anggota parlemen lain untuk membentuk pemerintahan dalam waktu 28 hari tanpa perpanjangan. Ia juga dapat memberi tahu ketua Knesset bahwa tidak ada kemungkinan membentuk pemerintahan.
Jika upaya kedua kembali gagal, Knesset akan memasuki periode 21 hari. Dalam periode tersebut, mayoritas anggota parlemen dapat meminta Herzog menunjuk anggota parlemen lain untuk membentuk pemerintahan.
Anggota parlemen yang ditunjuk dalam tahap itu memiliki waktu 14 hari untuk menyelesaikan pembentukan pemerintahan.
Jika seluruh prosedur tersebut tidak menghasilkan pemerintahan yang memperoleh kepercayaan Knesset, parlemen akan dibubarkan dan Israel harus menggelar pemilu baru.
Sekutu Netanyahu pilih abstain
Sementara itu, Partai United Torah Judaism, sekutu Netanyahu dan memiliki tujuh kursi di Knesset memutuskan tidak merekomendasikan kandidat mana pun.
Untuk informasi, pada 27 Oktober, hasil pemilu Israel menyisakan blok Netanyahu dengan 53 kursi, sementara partai-partai oposisi Yahudi mengamankan 48 kursi, sementara partai-partai yang dipimpin Arab memenangkan total 19 kursi.
Profil Gadi Eizenkot
Gadi Eizenkot atau Eisenkot (bahasa Ibrani: גדי איזנקוט, politikus Israel kelahiran Tiberias, bagian Utara Israel pada 19 Mei 1960. Ia adalah jenderal militer, dan pemimpin partai Yashar.
Eizenkot adalah yang kedua dari empat anak untuk Ester dan Meir, pasangan imigran Yahudi, ayah Marakesh dan ibu dari Casablanca, Maroko.
Eizenkot dibesarkan di kota pelabuhan selatan Eilat, dan belajar di “Goldwater SMA”, jurusan studi angkatan laut, tetapi kemudian memilih untuk mendaftar ke Golani brigade bukan infanteri.
Eizenkot menjabat sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Pertahanan Israel ke-21 (21 Februari 2015 – 15 Januari 2019). Dia adalah pencetus apa yang disebut Doktrin Dahiya.
Ia tercatat pernah menjabat Panglima Komando Utara, komandan Golani Brigade, Sekretaris Militer untuk Perdana Menteri, komandan Divisi Yudea dan Samaria, komandan dari Direktorat Operasi.
Eizenkot pernah terlibat dalam perang Lebanon 1982, konflik Lebanon Selatan (1985–2000), Intifada Pertama, Intifada al-Aqsa, perang Lebanon 2006, Operasi Cast Lead, Operasi Pilar Pertahanan hingga Operasi Pelindung Ujung.
Karier militer
Setelah mendaftar ke IDF Eizenkot ditugaskan ke Golani Brigade, yang ia sendiri akhirnya akan perintah 1997-98. Ia menjabat sebagai seorang prajurit, seorang skuat pemimpin dan seorang komandan peleton.
Dalam Perang Libanon pertama, ia menjabat sebagai komandan di Golani brigade. Selama konflik Lebanon Selatan (1985-2000), ia menjabat sebagai brigade Operasi Officer dan sebagai komandan Golani Orev Perusahaan.
Kemudian, ia menjabat sebagai komandan-13 Batalyon, Wakil Komandan Brigade dan seorang perwira operasi Komando Utara. Selama waktu itu ia menerima BA dalam sejarah dari Universitas Tel Aviv dan menghadiri Angkatan Darat Amerika Serikat War College untuk gelar master.
Pada 1999 Eizenkot terpilih menjadi Sekretaris Militer untuk Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan di bawah Perdana Menteri Ehud Barak. Sejak itu ia telah memerintahkan Divisi 366 dan Yudea dan Samaria Divisi, yang dia memimpin kampanye melawan kekerasan politik Palestina.
Dia dipromosikan menjadi kepala Direktorat Operasi Israel pada bulan Juni 2005, dan menjabat sebagai seperti selama Kedua Perang Libanon.
Setelah pengunduran diri Mayjen Udi Adam pada Oktober 2006 di tengah kritik atas tindakannya di 2006 Lebanon War, Eizenkot ditunjuk sebagai pengganti kepala Komando Utara.
Pada 11 Juli, 2011 posisi dipindahkan ke Mayjen. Yair Golan, dan Eizenkot pergi untuk belajar untuk gelar pasca sarjana di Universitas Haifa di Ilmu politik. Afterwords ia menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Umum di tempat Mayjen Yair Naveh, dengan asumsi kantor pada tanggal 14 Januari 2013.
Pada 28 November 2014, Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memilih Eizenkot sebagai penggantinya Jenderal Benny Gantz sebagai Kepala Staf IDF.









