21.8 C
Sukabumi
Selasa, Juni 18, 2024

Yamaha Zuma 125 meluncur, intip harga dan penampakan detail motor matic trail

sukabumiheadline.com - Yamaha resmi memperkenalkan Zuma 125...

Desain Ala Skuter Retro, Intip Spesifikasi dan Harga Suzuki Saluto 125

sukabumiheadline.com l Di belahan dunia lain, Suzuki...

Suzuki SUI 125 Meluncur, Spesifikasi Vespa Banget Harga Terjangkau

sukabumiheadline.com l Skutik modern Suzuki Vespa SUI...

Awalnya Pura-pura Islam karena Tinggal di Lingkungan Muslim, Tionghoa Ini Malah Akhirnya Mualaf

KhazanahAwalnya Pura-pura Islam karena Tinggal di Lingkungan Muslim, Tionghoa Ini Malah Akhirnya Mualaf

SUKABUMIHEADLINE.com l Sebuah kisah inspiratif diceritakan seorang Tionghoa yang berprofesi sebagai tukang ojek online yang dulunya sempat menyebut Islam sebagai agama rasis, tapi kini ia malah menjadi mualaf.

Pria keturunan Tionghoa itu bernama Lu Cin Fui asal Kalimantan Barat. Setelah menjadi muslim, namanya diganti dengan nama Dedi Ibrahim. Ia mengaku pernah belajar banyak agama, namun dengan Islam dia percaya adanya Tuhan.

Dedi mengaku bahwa dulu ia pernah mencoba semua agama, namun ia memutuskan masuk Islam karena agama yang lain ia merasa tidak menemukan Tuhan.

“Kenapa harus milih Islam? Karena sebelum saya menjadi Muslim, saya udah pernah ikut ke gereja, ikut sembahyang di Pekong, Vihara. Saya udah mencoba semua tapi saya disitu tidak menemukan Tuhan. Nggak menemukan Tuhan, nggak ada rasa di hati yang bikin saya nyaman,” kata Dedi Ibrahim dikutip dari kanal YouTube Ngaji Cerdas.

Namun, setelah saya memilih Islam dan menekuninya, Dedi mengaku menemukan Allah di situ. “Jadi saya memutuskan saya bener-bener memilih islam sebagai agama saya,” aku Dedi.

Berawal dari mendapat perlakuan buruk saat pindah wilayah, ia berpura-pura jadi Muslim karena tidak ingin keluarganya di perlakukan tidak baik lantaran ia pindah ke wilayah yang mayoritas muslim.

“Yang mendorong sebenernya awalnya dari perlakuan nggak baik dari lingkungan sekitar. Yang akhirnya saya malah (bukan terjerumus) menemukan jalan saya untuk masuk islam,” terang Dedi.

“Di situ karena kita tinggal di tempat yang mayoritasnya juga muslim, akhirnya kita dari satu-satunya keluarga dari keturunan Tionghoa. Seperti kebiasaan kami menyetel musik Mandarin selalu diperlakukan nggak baik, rumah selalu di lempar pakai batu, dan listrik kami sering dimatikan, dan awal itulah saya setiap hari mengalami hal seperti itu. Akhirnya disitu saya memutuskan gimana caranya biar saya nggak terus-terusan seperti itu,” imbuhnya.

Kemudian, dengan tanpa sepengetahuan keluarganya, ia mencoba berbaur bersama mereka dengan berpura-pura sebagai Muslim. Ia mengutarakan niatnya pengen masuk Muslim agar enggak terjadi lagi hal-hal yang tidak mengenakkan di keluarga Dedi. Dengan keterpura-puraanya itu ia menemukan Tuhan.

“Dan setelah saya menjadi Muslim dengan kepura-puraan itu, kami jauh dari gangguan seperti itu. Dan niat saya itu Cuma mau menolong keluarga dengan mengorbankan saya tanpa sepengetahuan keluarga saya. Waktu itu umur saya masih sekitar 12 tahun kelas 5 SD,” papar Dedi.

“Dengan kepura-puraan itu sebenernya nggak enak juga karena saya mempermainkan agama, tapi saya terpaksa. Akhirnya saya menjalani. Ternyata dari situlah kepura-puraaan saya itu saya menemukan Tuhan, Allah,” tandasnya.

Banyak yang hal yang terjadi ketika ia pindah agama. Meski ia pindah agama penuh dengan cobaan, ia mengaku bisa melaluinya sampai sekarang.

“Banyak hal-hal yang saya alami, yang buat hidup saya enak setelah saya menjadi Muslim. Akhirnya dari situ saya bener-bener meyakinkan hati saya sebagai Muslim itu setelah saya menjalani itu satu tahun. Satu tahun setelah itu saya banyak rintangannya. Sampai sekarang saya masih bisa melaluinya,” kata pria berusia 34 tahun itu.

Selain mendapat dorongan masuk islam dari sang kakek. Selain itu, kakeknya lah yang mengajarkan Dedi sholat, sehingga kakeknya sangat berjasa dalam kehidupannya menjadi seoran muslim.

Sempat menganggap bahwa islam rasis, ia mengaku jika islam adalah agama satu-satunya yang bisa menjadi pedoman hidup.

“Dorongan yang membuat saya yakin memilih islam itu mungkin setelah melakukan ngaji, sholat, puasa, dan segala macem, saya merasa ada yang beda di saya. Saya ngerasain tenang, sebelumnya mungkin ada beban-beban segala macem, setelah saya islam saya ngerasa tenang, saya menemukan jati diri saya,” pungkasnya.

“Islam itu rasis, memperlakukan orang kurang baik dulunya. Setelah saya awalnya pura-pura buat nyari aman, tapi setelah saya menjadi muslim, saya benar-benar tahu kalau islam itu nggak seperti itu. Agama islam itu menurut saya agama yang bagus, mengajarkan banyak hal mau di dunia maupun di akhirat. Dan saya percaya kalau islam itu benar-benar agama satu-satunya yang bisa menjadi pedoman hidup,” terang Dedi Ibrahim.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer