sukabumiheadline.com – Fenomena alam berupa sinkhole atau lubang misterius raksasa di Sukabumi, Jawa Barat, merupakan peristiwa geologi yang telah beberapa kali terjadi, terutama di Kampung Legoknyenang RT 005/002, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.
Ahad, 28 April 2024, muncul sebuah sinkhole di area persawahan warga dengan kedalaman mencapai belasan meter. Peristiwa serupa juga pernah terjadi di lokasi yang sama pada April 2019 dengan diameter mencapai 16 meter dan kedalaman 12 meter. Baca selengkapnya: 5 fenomena alam yang sering terjadi di Sukabumi

Kekinian, fenomena lubang raksasa atau sinkhole muncul secara mendadak di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pada Ahad (4/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lubang ini muncul di area persawahan milik warga di Jorong Tepi. Diameter lubang diperkirakan sekitar 10 meter dengan kedalaman lebih dari 5 meter.
Ahli geologi menjelaskan bahwa wilayah tersebut merupakan kawasan karst atau batu kapur yang rentan amblas jika terkena curah hujan tinggi atau faktor hidrologi bawah tanah. Pakar juga mengaitkan fenomena ini dengan dampak dari Siklon Senyar yang memicu cuaca ekstrem.
BRIN wanti-wanti
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia merupakan wilayah yang paling rawan dengan fenomena lubang runtuhan tanah atau yang dikenal sebagai sinkhole, wilayah dengan bentang alam karst atau kawasan batu gamping sering mengalami fenomena ini.
BRIN menyebut beberapa daerah yang rawan seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Wilayah-wilayah tersebut memiliki lapisan batu gamping yang cukup tebal di bawah permukaan tanah.
Berita Terkait: Fenomena ratusan sinkhole di Turkiye, pernah terjadi di Sukabumi, ini pemicunya
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari menjelaskan sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi karena runtuhnya lapisan batu gamping di bawah permukaan tanah. Prosesnya dalam waktu lama yang dipicu air hujan bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara dan permukaan tanah.
“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batu gamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelasnya, dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi BRIN, Kamis (22/1/2026).
Air permukaan dan air tanah akan mengalir ke dalam rekahan seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya membuat rongga makin membesar dan lapisan penyangga di bagian atasnya melemah.
Saat hujan terjadi, lapisan penutup rongga akan kian tipis. Pada satu titik rongga tersebut tidak bisa lagi menahan beban yang berada di atas.
“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” ujar Adrin.
Adrin mengungkapkan sulit mendeteksi tanda awal kemunculan sinkhole. Pembentukan rongga terjadi sangat perlahan dan di bawah permukaan tanah, jadi tidak mudah dikenali secara langsung.
Namun sebenarnya identifikasi bisa dilakukan dengan beragam metode, seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik. Jadi dapat memetakan dari sebaran, kedalaman dan ukuran rongga.
Berita Terkait: Tinjauan pakar geologi soal fenomena sinkhole di dunia, nomor 5 di Sukabumi
Dia juga mengingatkan kawasan permukiman di atas lapisan batu gamping berisiko lebih tinggi menghadapi fenomena ini. Salah satu yang bisa diwaspadai adalah hilangnya aliran air di permukaan.
“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” kata Adrin.
Sementara itu, Adrin menjelaskan air dalam sinkhole berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Jadi tidak bisa disimpulkan secara langsung apakah air layak untuk dikonsumsi dan harus melewati berbagai analisis terlebih dulu.
“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” dia menjelaskan.









