Guru Honorer Usia 61 di Cidolog Sukabumi, Bingung Jika Tak Ada Uang untuk Bensin

- Redaksi

Senin, 6 Desember 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yayat Supriatna, guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun di pelosok Kabupaten Sukabumi. l Istimewa

Yayat Supriatna, guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun di pelosok Kabupaten Sukabumi. l Istimewa

sukabumiheadline.com I CIDOLOG – Pahlawan tanpa tanda jasa, itulah kalimat yang identik disematkan kepada seorang tenaga pendidik atau guru.

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah, karena tidak hanya mencerdaskan anak bangsa, guru juga memiliki peran penting untuk menggantikan orang tua selama berada di sekolah.

Melihat jasa mereka yang begitu besar, sudah sepatutnya para guru mendapatkan apresiasi dan kesejahteraan yang layak dari pemerintah maupun dari pihak lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbeda dengan guru-guru berstatus PNS,  guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah agar kesejahteraan mereka meningkat atau setara dengan pegawai berstatus PNS.

sukabumiheadline.com, Senin (6/12/2021) pagi, menelusuri kisah pilu seorang guru honorer di salah satu sekolah dasar di pelosok Kabupaten Sukabumi, Yayat Supriatna.

Yayat yang kini usianya menginjak 61 tahun. Sejak 2004 hingga saat ini ia menjadi seorang guru honorer di SDN Cukangbatu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidolog.

Alasan utama Yayat mau menjadi guru honorer selama 17 tahun, adalah panggilan hati untuk mengabdi kepada negeri.

“Panggilan hati untuk mengabdi kepada negeri agar anak-anak di negeri nanti bisa bersinergi dalam kemajuan bangsa, ini itulah alasan bapak kenapa mau menjadi guru walaupun masih berstatus honorer,” ungkapnya.

Profesi guru honorer ini memang sudah menjadi pilihan hidup bagi Yayat bertekad mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang pengajar.

“Ya menjadi profesi guru adalah pekerjaan mulia terlepas dari status honor atau bukan, terpenting adalah menjadi guru itu ibadah,” tambah dia.

Diakui Yayat, honor yang diterimanya memang terbilang sangat rendah. Ia biasa menerima gaji relatif sama dengan guru honorer lainnya, yakni sekira Rp300 ribu per bulan.

“Terus terang saja kalau dibilang kurang, ya pasti sangat kurang karena makin hari harga-harga makin naik. Segala kebutuhan di zaman sekarang mah, tapi saya ikhlas menerima. Kalau bukan karena Allah, bapak gak mungkin bertahan sampai sekarang,” papar lelaki yang sering dipanggil Abah itu.

Derita lainnya yang Yayat rasakan, untuk sampai ke sekolah, ia harus menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer dengan kondisi jalan sangat rusak bahkan sampai harus berjalan kaki sambil mendorong sepeda motornya untuk sampai ke tempat ia mengajar.

“Kondisi perjalanan kurang lebih 10 kilometer dari rumah ke tempat mengajar. Pernah waktu dulu jalanan sangat rusak sehingga untuk sampai ke sekolah harus berjalan kaki, tapi karena saya ingat anak didik di sekolah sudah menunggu, jadi saya lanjutin demi generasi bangsa ini. Kalau sekarang alhamdulillah jalan sudah dibagusin, tapi ya gitu sudah mulai rusak lagi,” kata Yayat.

Suka duka menjadi seorang guru, kata Abah, salah satunya adalah banyak teman, menimba pengalaman, ilmu dan wawasan. Sedangkan dukanya, ketika perjalanan mengajar yang cukup jauh dari rumah, sementara kondisi keuangan untuk membeli bensin terkadang harus kasbon dulu ke pihak sekolah,” ungkapnya sambil tersenyum.

Karena mengajar adalah panggilan hatinya, serta ingin bermanfaat bagi orang lain, itulah alasan Yayat memilih bertahan menjadi guru honorer.

“Selain panggilan hati serta ingin bermanfaat bagi orang lain, menurut saya, anak-anak di pelosok juga berhak mendapatkan pendidikan supaya bisa menjadi generasi yang bisa bersaing dengan anak-anak di kota, sekaligus menjadi penerus bangsa yang memiliki bekal pendidikan layak,” tambahnya.

Berharap Perhatian Pemerintah

Kesejahteraan dan perhatian dari pemerintah adalah harapan setiap guru honorer yang selama ini selalu diidamkan.

“Harapan terkait kesejahteraan kami sebagai guru honorer jangan sampai dikesampingkan, apalagi sampai tidak diperhatikan,” pungkas lelaki yang hobi bermain catur dan berkesenian ini.

Berita Terkait

Sukabumi-Pangandaran: Jalan poros selatan segera dibangun Pemprov Jabar
5+2 masalah sosial di Sukabumi, dari kemiskinan, pengangguran hingga lesbian
IDG: Tanpa bantuan pendapatan wanita Sukabumi, keluarga di kabupaten/kota bermasalah
Jumlah Gen Alpha Sukabumi: Karakteristik dan tantangan si pembawa perubahan
10 kecamatan paling tidak ideal di Sukabumi menurut standar WorldoMeters
Pendapatan Pemkab Sukabumi dari pajak pertambangan dan perkebunan, tak sebanding kerugian
Sepak terjang Andrie Yunus, Pembela HAM alumni SMAN 1 Cicurug Sukabumi disiram air keras
BPS: Warga Kabupaten Sukabumi hanya belanjakan Rp41 ribu untuk pakaian per orang

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 00:01 WIB

Sukabumi-Pangandaran: Jalan poros selatan segera dibangun Pemprov Jabar

Kamis, 23 April 2026 - 13:50 WIB

5+2 masalah sosial di Sukabumi, dari kemiskinan, pengangguran hingga lesbian

Rabu, 22 April 2026 - 15:31 WIB

IDG: Tanpa bantuan pendapatan wanita Sukabumi, keluarga di kabupaten/kota bermasalah

Sabtu, 18 April 2026 - 01:00 WIB

Jumlah Gen Alpha Sukabumi: Karakteristik dan tantangan si pembawa perubahan

Jumat, 17 April 2026 - 00:54 WIB

10 kecamatan paling tidak ideal di Sukabumi menurut standar WorldoMeters

Berita Terbaru