Iran sendirian perang vs AS-Israel, kenapa China dan Rusia masih menahan diri?

- Redaksi

Sabtu, 7 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin - Ilustrasi sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Sudah hampir sepekan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan Timur Tengah terus meningkat.

Serangan gabungan AS-Israel bahkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Negeri para Mullah itupun tak tinggal diam, Iran membalas serangan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Namun, setelah hampir satu pekan,, eskalasi konflik tersebut menimbulkan pertanyaan publik di tingkat global, mengapa China dan Rusia yang notabene sekutu penting Iran belum juga juga memberikan dukungan militer langsung kepada Teheran?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai respons diplomatik, Rusia dan China telah meminta pertemuan darurat di United Nations Security Council untuk membahas situasi yang semakin memburuk di Timur Tengah.

Namun hingga kini, kedua negara tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan memberikan bantuan militer langsung kepada Iran. Pengamat menilai keputusan ini didorong oleh berbagai pertimbangan strategis dan geopolitik.

Meskipun demikian, Moskow dan Beijing telah secara terbuka mengecam operasi militer AS-Israel. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut pembunuhan terhadap Khamenei sebagai tindakan yang melanggar norma internasional.

“Pembunuhan itu adalah pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional,” kata Putin dikutip sukabumiheadline.com dari ND TV, pada Sabtu (7/3/2026).

Bagaimana dengan China?

China ogah konfrontasi dengan AS

China dinilai berhati-hati dalam merespons konflik tersebut. Meski memiliki hubungan ekonomi dan politik yang erat dengan Iran, Beijing disebut tidak ingin mengambil langkah berisiko yang dapat memicu konfrontasi langsung dengan AS.

Menurut peneliti dari Universitas Tsinghua, Jodie Wen, hubungan China dan Iran memang kuat, terutama dalam bidang ekonomi dan investasi.

Baca Juga :  5 Jenderal Gugur, Pejabat di Sekeliling Putin Dikabarkan Terpecah

“Dari sisi politik, kami memiliki pertukaran reguler. Dari sisi ekonomi, kerja sama sangat dalam; banyak perusahaan memiliki investasi di Iran,” kata Wen.

Namun, Beijing memiliki batasan jelas dalam kebijakan luar negerinya.

“Pemerintah China selalu berpegang teguh pada prinsip untuk tidak ikut campur dalam masalah negara lain. Saya tidak berpikir pemerintah China akan mengirim senjata ke Iran,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyampaikan kritik keras terhadap eskalasi konflik saat berbicara dengan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

“Kekerasan tidak dapat benar-benar menyelesaikan masalah; sebaliknya, seringkali malah menciptakan masalah baru dan meninggalkan konsekuensi jangka panjang yang serius,” ujar Wang Yi.

Rusia sedang konflik dengan Ukraina

Salah satu faktor utama Rusia masih menahan diri, adalah karena Rusia sedang terlibat konflik berkepanjangan dengan Ukraina. Moskow dinilai tak ingin buka front perang baru di Timur Tengah yang berpotensi memperluas konflik global.

Padahal pada Januari 2024, Rusia dan Iran sempat menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang perkuat kerja sama intelijen serta pertahanan. Namun, perjanjian itu tidak mencakup klausul pertahanan bersama seperti aliansi militer formal.

Analis hubungan internasional Rusia, Andrey Kortunov, menjelaskan bahwa perjanjian itu tidak mewajibkan Moskow untuk terlibat secara militer jika Iran diserang. Ia membandingkan pakta tersebut dengan perjanjian Rusia dengan Korea Utara yang dinilai jauh lebih mengikat.

“Dalam perjanjian itu, Rusia diwajibkan bergabung dengan Korea Utara dalam konflik apa pun yang mungkin melibatkan negara tersebut,” ujar Kortunov kepada Al Jazeera.

Sebaliknya, dalam hubungan dengan Iran, kedua negara hanya sepakat untuk menahan diri dari tindakan permusuhan jika salah satu pihak terlibat konflik.

Baca Juga :  Babak Baru Konflik Timur Tengah Rusia Ngamuk ke Israel, Bandara Ini Diserang

Kortunov juga menilai Kremlin saat ini memprioritaskan dinamika konflik Ukraina dan hubungan dengan Washington. Pemerintah Rusia pun menyampaikan hingga saat ini Moskow belum menerima permintaan bantuan apa pun dari Iran.

Rusia menegaskan tak akan tinggal diam jika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meledak. Moskow menilai ketegangan kedua negara saat ini ibarat bom waktu yang dapat memicu instabilitas besar di Timur Tengah.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menegaskan, Iran merupakan mitra dekat Rusia, sehingga Moskow tidak akan bersikap acuh terhadap potensi konflik yang melibatkan Teheran dan Washington. Menurut dia, eskalasi ketegangan bukan hanya mengancam Iran, tetapi juga stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah.

“Iran adalah mitra kami, mitra dekat dan tetangga kami. Tentu saja kami peduli dengan bagaimana perkembangan situasi saat ini,” kata Lavrov, dalam wawancara dengan stasiun televisi RT.

Meski demikian, Rusia tidak memaksakan diri untuk berperan sebagai mediator antara Iran, AS, maupun Israel. Namun Moskow memastikan terus memantau dan mengawal perkembangan situasi dengan menjalin komunikasi intensif bersama pihak-pihak terkait.

“Dalam kontak dengan mereka, kami hanya membahas situasi ini,” ujarnya.

Dia juga menyebut situasi AS-Iran sangat rawan eskalasi, terlebih perundingan nuklir saat ini masih ringkih, belum tentu menunjukkan titik terang.

“Sekarang ini terlalu banyak ranjau yang siap meledak, hanya menunggu seseorang menginjaknya,” ujar Lavrov.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa Rusia tidak akan membiarkan Iran menghadapi tekanan dan ancaman konflik dengan AS sendirian, terutama jika eskalasi berujung pada ketidakstabilan regional yang lebih luas.

Berita Terkait

AS sudah keluarkan pesawat Bomber B-2 Spirit dari garasi, Iran belum takluk
Drone murah Iran bikin AS rugi Rp33,7 triliun
Menguak alasan tes DNA dilarang di Israel, Benjamin Netanyahu keturunan Polandia
Arab Saudi pastikan wilayahnya aman, WNI asal Sukabumi: Hanya kepentingan AS
Profil Ali Khamenei: Innalillahi, pemimpin tertinggi Iran dibunuh AS-Israel
Balas AS-Israel, Iran ngamuk bombardir Kuwait, UEA, Arab Saudi
Untuk lawan koalisi Islam, PM Israel bakal bentuk “Aliansi Heksagon”
King Salman Award siapkan Rp40 miliar untuk hadiah lomba penghafal AlQuran
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 02:03 WIB

Iran sendirian perang vs AS-Israel, kenapa China dan Rusia masih menahan diri?

Jumat, 6 Maret 2026 - 04:05 WIB

AS sudah keluarkan pesawat Bomber B-2 Spirit dari garasi, Iran belum takluk

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:08 WIB

Drone murah Iran bikin AS rugi Rp33,7 triliun

Rabu, 4 Maret 2026 - 23:20 WIB

Menguak alasan tes DNA dilarang di Israel, Benjamin Netanyahu keturunan Polandia

Selasa, 3 Maret 2026 - 22:35 WIB

Arab Saudi pastikan wilayahnya aman, WNI asal Sukabumi: Hanya kepentingan AS

Berita Terbaru


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131