sukabumiheadline.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 356.638 orang dengan HIV (ODHIV) dari total estimasi 564 ribu ODHIV pada 2025. Direktur Penyakit Menular Kemenkes Ina Agustina Isturini menyebut, jumlah ini merupakan kumulatif hingga Maret 2025.
Ia mengatakan dari 356 ribu ODHIV tersebut sekitar 67 persen atau 239.819 orang sedang dalam pengobatan. Sedangkan sekitar 55 persen atau 132.575 virusnya tersupresi. Baca selengkapnya: 356.638 pengidap HIV baru di Indonesia, di Sukabumi 327 HIV/Aids
“Ini mulai dari penemuan kasusnya juga kita masih menjadi tantangan dan tidak jarang ada yang menghilang saat di-follow up. Ini menyebabkan ODHIV hidup dan tahu statusnya itu jadi tidak belum ditemukan 95 persen,” ungkap Ina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
3 Kelompok jadi penyandang HIV
Terbaru, Kemenkes mengungkap tiga kelompok masyarakat yang memiliki positivity rate HIV tertinggi di Indonesia pada 2025. Temuan ini disampaikan oleh Direktur Imunisasi Kemenkes, Prima Yosep, dalam paparan terbaru terkait tren kasus HIV di Tanah Air.
“Secara absolut kita naik, tetapi secara persentase agak turun. Dan kalau kita lihat positivity rate yang tinggi memang ada di tiga kelompok,” ujar Prima, dikutip Sabtu (29/11/2025).
Berita Terkait: Menjanjikan Fulus dan Bisa Menghambat HIV/Aids, Begini Cara Bikin Keripik Paria yang Kriuk

Tiga kelompok dengan positivity rate tertinggi berdasarkan data Kemenkes adalah:
1. Pasangan ODHIV (34 persen)
Kelompok ini menempati posisi tertinggi dengan 3.339 kasus positif dari 9.709 tes HIV.
Tingginya angka ini menunjukkan masih kuatnya risiko penularan HIV dalam hubungan intim, terutama ketika salah satu pasangan belum mengetahui statusnya atau belum menjalani pengobatan secara rutin.
Berita Terkait: 356.638 pengidap HIV baru di Indonesia, di Sukabumi 327 HIV/Aids
2. Pelanggan pekerja seksual (20 persen)
Pelanggan pekerja seksual menjadi kelompok kedua tertinggi dengan kasus 4.471 kasus positif dari 22.454 tes. Aktivitas seksual berisiko tinggi tanpa perlindungan membuat kelompok ini terus menjadi perhatian Kemenkes dalam upaya menekan penyebaran HIV.
Berita Terkait: 11 wanita PSK online dari Bogor dikirim ke Sukabumi, 4 idap HIV/Aids
3. Anak ODHIV (17 persen)
Kelompok anak ODHIV berada di posisi ketiga dengan 728 kasus positif dari 4.254 tes. Penularan umumnya terjadi dari ibu ke anak, baik selama kehamilan, persalinan, maupun pemberian ASI, sehingga deteksi dini pada ibu dan anak menjadi langkah penting.
Berita Terkait:
Prima menegaskan kelompok ini membutuhkan edukasi dan pemeriksaan HIV lebih intensif.
“Tiga ini yang mungkin harus terus kita edukasi supaya mereka bisa dites, kemudian kita bisa menanggulanginya,” jelasnya.
Temuan HIV/Aids baru di Kabupaten Sukabumi

Mengutip data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi 2024, jumlah ODHA baru mencapai hampir 400 jiwa. Sedangkan, jumlah total penduduk adalah 2.828,024 jiwa (data Badan Pusat Statistik/BOS 2025), yang tersebar di 47 kecamatan, 386 desa dan kelurahan.
Adapun di Kabupaten Sukabumi total ada 327 ODHA baru. Dengan demikian, di antara sekira 8.600 orang penduduk Kabupaten Sukabumi, salah satu di antaranya adalah ODHA.
Jumlah di atas merupakan temuan baru, dan tidak termasuk jumlah penderita HIV/Aids sebelum tahun 2024.
Sementara menurut data Dinkes 2024, dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, kecamatan dengan Kasus Baru AIDS atau dihuni ODHA pada 2024 relatif merata. Dari mulai wilayah utara hingga selatan Kabupaten Sukabumi seperti Cicurug, Cibadak, Cisaat, Sukaraja, hingga Palabuhanratu dan wilayah Pajampangan terdapat ODHA.
Berikut daftar 17 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dengan temuan baru ODHA. Baca selengkapnya: 17 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dihuni pengidap HIV/AIDS, dari Cicurug hingga Pajampangan
Berdasarkan data tersebut, Cibadak menjadi kecamatan paling banyak di huni ODHA, yakni 98 jiwa. Sedangkan di posisi kedua, adalah Palabuhanratu dengan 60 ODHA.
Ending HIV 2030
Kemenkes juga terus mendorong program Ending HIV dengan target pada 2030. Tujuannya mencapai target 95, yaitu:
- 95 persen ODHIV mengetahui statusnya
- 95 persen ODHIV mendapatkan pengobatan
- 95 persen ODHIV yang menjalani pengobatan memiliki viral load yang tidak terdeteksi
Upaya ini diharapkan dapat menekan penularan, meningkatkan deteksi dini, dan memperluas akses pengobatan bagi seluruh kelompok berisiko tinggi.









