Mengenang keberadaan arena pacuan kuda di Parungkuda Sukabumi zaman Hindia Belanda

- Redaksi

Kamis, 12 September 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Arena pacuan kuda zaman Hindia Belanda - Istimewa

Arena pacuan kuda zaman Hindia Belanda - Istimewa

sukabumiheadline.com – Asal-usul nama Parungkuda di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diduga kuat karena keberadaan arena pacuan kuda pada zaman Hindia Belanda.

Mengutip sukabumixyz.com, pada era penjajahan Belanda terdapat arena pacuan kuda di wilayah Sundawenang yang merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Parungkuda. Terlebih Sundawenang sendiri baru berdiri sejak 43 tahun lalu, setelah sebelumnya merupakan bagian dari Desa Parungkuda.

Baca Juga: Geert Wilders, tokoh anti Islam berdarah Sukabumi ini gagal jadi PM Belanda meski menang Pemilu

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kuda dan kehidupan warga Sukabumi zaman dulu

Sejak zaman dulu hingga saat ini kuda sudah menjadi alat transportasi di Sukabumi, meskipun saat ini hanya tersisa beberapa di sejumlah kota kecamatan, seperti keberadaan delman dan sado di Kota Sukabumi atau nayor yang banyak mangkal di Cibadak.

Selain digunakan untuk alat transportasi, sejak dulu kuda juga digunakan sebagai sarana adu ketangkasan. Karenanya, arena pacuan kuda sudah sejak era penjajahan Belanda sudah dibangun di Kabupaten Sukabumi. Bahkan, keahlia joki-joki lokal Sukabumi, ketika itu mampu mengalahkan joki-joki dari Eropa di arena pacuan.

Di Sukabumi, cikal bakal olah raga pacuan kuda pada berawal dari hobi berburu para juragan perkebunan. Wilayah Pajampangan menjadi kawasan favorit para juragan perkebunan asal Eropa untuk berburu. Para pejabat lokal dan kaum ningrat serta bangsawan Eropa rutin melakukan kegiatan berburu di wilayah selatan Sukabumi itu.

Para bos perkebunan yang tinggal di Jakarta, kala itu, mendirikan Batavia Wedloop Society (BPS) yang terbentuk sekira 1834. Menyusul kemudian para pejabat dan pemilik perkebunan di wilayah Priangan membentuk Preanger Wedloop Society (WPS) pada 1853 di Cianjur. Bersamaan dengan itu, dibentuk pula di Bogor, yakni Buitenzorg Wedloop Society (BWS) di Bogor oleh van Mothman.

Baca Juga:

Terbentuknya West Preanger Wedloop Societeit

Ketika semua perkebunan di Sukabumi dikuasai para juragan bule asal Belanda. Namun meskipun tujuan utama adalah berbisnis, mereka tetap memelihara kebiasaannya beradu ketangkasan di arena pacuan kuda.

Baca Juga :  Hendak Perkosa Wanita Penjual Kopi di Sagaranten Sukabumi, AD Dibekuk Polisi

Seperti halnya Andries de Wilde, yang merupakan pemilik perkebunan swasta pertama di Sukabumi sekaligus memiliki 140 ekor kuda jenis unggul. Ia ditetapkan Gubernur Raffles sebagai pemenang tender pengelolaan perkebunan di wilayah Sukabumi.

Penunjukkan tersebut didasari keinginan de Wilde untuk mengembangkan peternakan kuda dan lembu di daerah Gunung Parang, Kota Sukabumi.

Berita Terkait: 5 Misteri Pendakian Gunung Gemuruh oleh Raffles dan De Wilde di Batas Sukabumi-Cianjur

Selain de Wilde, pemilik perkebunan yang juga pecinta kuda adalah Eduard Julius Kerhoven dari Sinagar, Kecamatan Nagrak, yang memiliki puluhan ekor kuda terbaik. Dia juga dikenal sebagai pemilik kuda pacu yang sudah sering memenangkan perlombaan.

Karena belum memiliki organisasi sendiri, para pemilik perkebunan di Sukabumi akhirnya sering mengikuti perlombaan yang diadakan kelompok-kelompok tersebut di luar kota.

Pasca keluarnya Undang-undang Agraria tahun 1870, muncullah kelas orang kaya baru di Sukabumi, mereka mendapat keuntungan berlipat dari hasil bumi di yang memiliki tanah subur. Karena kekayaannya, mereka dijuluki koffie boeren (petani kopi kaya), thee konkeers (bangsawan teh), atau gelar pujaan kina baron (raja kina).

Berita Terkait: Apa saja serta berapa luas dan hasil perkebunan di Kabupaten Sukabumi? Ini rinciannya

Kala itu, setiap akhir pekan, pemilik perkebunan Sukabumi memilih naar boveden atau turun ke Bandung untuk shopping, membuat mereka begitu dihormati di luar daerah. Bahkan, beberapa pasang meja kursi di lobi Hotel Savoy Homann, Preanger, Societeit Concordia, dan Restoran Maison Bogerijen di Jalan Braga, selalu tersedia untuk mereka tanpa seorangpun berani mendudukinya.

Selain itu, mereka juga membentuk Soekaboemishce Landbouw Vereeniging (SLV) pada 1881, sebuah perkumpulan para pekebun di tatar Priangan, yang aktif membangun sekolah-sekolah rakyat dan kursus perkebunan.

Munculnya kelas baru ini juga menimbulkan prestise bagi para pemilik perkebunan di Sukabumi, sehingga arena pacuan kuda yang mereka ikuti di luar kota, bukan lagi sekadar ajang berolahraga dan hiburan, tetapi menjadi ajang memamerkan kekayaan. Bahkan, tak sedikit yang tergoda wanita lain, usai mabuk-mabukan usai berlomba di pacuan kuda.

Para pemilik perkebunan yang mulai naik gengsi itu juga mendirikan organisasi sendiri agar tidak bergantung kepada organisasi di luar daerah, dengan mendirikan komunitas elit Societeit Soekamanah, seperti halnya Societeit Concordia di Bandung atau Societeit Harmoni di Batavia.

Baca Juga :  Pemotor Sering Terperosok Jatuh, Warga Kadudampit Sukabumi Rutin Ganti Jembatan

Untuk mewadahi hobi berkuda, dibentuklah West Preanger Wedloop Societeit (WPWS) pada 16 Juli 1892. WPWS kemudian membuat anggaran dasar dan program kegiatan berkuda di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.

Baca Juga:

Sejarah arena pacuan kuda di Parungkuda

Pada 1895, dibangunlah arena pacuan kuda yang lebih representatif di wilayah Parungkuda. Setelah sebelumnya para juragan perkebunan membuat arena pacuan kuda masing-masing di tanah perkebunan mereka.

Selain mereka, para menak Sunda pada era yang sama juga banyak yang memiliki tempat untuk berlatih kuda sekaligus sarana latihan ketangkasan untuk berburu.

Bupati Cianjur (ketika itu Sukabumi masih masuk wilayah Cianjur – red) memiliki tempat berkuda sekaligus area berburu di wilayah Panumbangan dan Cikembar.

Seiring terbentuknya WPWS, dibangunlah arena pacuan kuda resmi di dua tempat yaitu di Soenia Wenang (kini Sundawenang, Parungkuda).

Arena pacuan kuda di Sundawenang, Kecamatan Parungkuda pada zaman Hindia Belanda - sukabumixyz.com
Arena pacuan kuda di Sundawenang, Kecamatan Parungkuda pada zaman Hindia Belanda – sukabumixyz.com

Lokasi arena pacuan kuda sengaja dibangun tidak jauh dari stasiun kereta api (KA). Hal itu untuk memudahkan mengangkut peralatan pacuan kuda termasuk kuda dan joki dari luar Sukabumi dan Bogor.

Arena Pacuan Kuda Soenia Wenang dibangun di tanah milik Cultuurmaschapij Pandan Aroem dengan pemiliknya bernama Mr van Massink.

Sosok van Massink cukup dikenal, mengingat ia merupakan pakar tanaman kina dan administratur perkebunan Pandan Aroem. van Massink sebelumnya juga sudah membangun gudang hasil perkebunan di Soenia Wenang.

Karena pertimbangan kedekatan jarak dari area perkebunan miliknya. Bekas gudang tersebut kemudian disulap menjadi arena pacuan kuda untuk mengakomodir hobi para pemilik perkebunan.

Tepat pada 20 Oktober 1895, sebuah lomba pacuan kuda digelar sebagai pembuka. Event berlangsung meriah karena dihadiri para pejabat lokal, serta mengundang banyak tamu dan joki dari luar Sukabumi untuk ikut lomba.

Saat ini, di lokasi pacuan kuda tersebut berdiri pabrik garmen PT Daihan Global dan PT L&B Indonesia hingga area gardu PLN, jalan menuju Desa Palasari Hilir, Kecamatan Parungkuda.

Tulisan ini disarikan dari: Djomhari, penakluk joki Eropa di arena pacuan kuda Sukabumi tewas misterius

Berita Terkait

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat
Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan
Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi
Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya
Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi
Hasil rukyatul hilal di Sukabumi, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Mengenang kiprah Wisjnu Mouradhy, jurnalis dan tokoh film nasional asal Sukabumi era 1940
Masih binggung? Jangan abaikan aturan qadha dan fidyah bagi yang batal puasa Ramadhan ini

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 00:01 WIB

Reinwardt pendaki pertama Gunung Gede, sekarang ditutup karena aktivitas vulkanik meningkat

Selasa, 1 April 2025 - 20:44 WIB

Fatimah Al-Fihri, pendiri universitas tertua di dunia dan pengaruhnya di bidang pendidikan

Senin, 31 Maret 2025 - 21:56 WIB

Alasan Ruben Onsu mualaf, Shalat Ied bareng Igun dan bangun mushala di Sukabumi

Senin, 31 Maret 2025 - 10:00 WIB

Muslim Sukabumi mau puasa Syawal? Ini tanggal, fadhilah dan panduan lengkapnya

Minggu, 30 Maret 2025 - 00:01 WIB

Mengenang Gatot Taroenamihardja, Jaksa Agung RI pertama tokoh antikorupsi dari Sukabumi

Berita Terbaru