sukabumiheadline.com – Bisnis rumah makan (RM) Sunda memiliki potensi pasar yang sangat besar di Indonesia, terutama karena cita rasanya yang khas—segar, tidak terlalu pedas/manis, dan penggunaan lalapan—disukai banyak kalangan.
Menurut data Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, pada 2022 terdapat 84 RM, di mana 76 di antaranya adalah RM Sunda. Jumlah tersebut kemudian naik jadi 87 pada 2023.
Namun, industri ini juga menghadapi persaingan ketat dan tantangan operasional. Terbukti pada 2024 dan 2025, jumlah rumah makan Sunda di Sukabumi turun jadi total hanya 80. Selain RM umum, penurunan jumlah juga dialami RM Sunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika diasumsikan 76 dibagi 47 kecamatan yang ada, maka hanya ada 1,6 RM Sunda per kecamatan. Ironisnya, jumlah tersebut tentunya jauh lebih sedikit ketimbang RM Padang.
Jika dibandingkan dengan jumlah RM Padang yang lebih dari 2 per kecamatan, tentunya mendirikan RM Sunda merupakan peluang bisnis yang menjanjikan, karena artinya jumlah warga Sukabumi yang hobi makan di luar jumlahnya tidak sedikit.
Lantas, bagaimana peluang dan tantangan mendirikan RM Sunda?
Peluang dan tantangan mendirikan RM Sunda
Berikut adalah analisis peluang dan tantangan rumah makan Sunda, seperti dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (17/3/2026).
Peluang Bisnis RM Sunda
Masakan Sunda dikenal luas dan populer di Indonesia. Menu seperti nasi liwet, pepes ikan, karedok, dan ayam bakar/goreng memiliki basis konsumen yang loyal.
Wilayah Sukabumi dan Jawa Barat sering dijadikan tujuan wisata, yang meningkatkan permintaan terhadap kuliner tradisional Sunda. Dari mulai lalapan jengkol dan petai, sayur asam, hidangan serba oncom hingga empal daging sapi.
Selain itu, tren makanan sehat menguntungkan rumah makan Sunda yang identik dengan sayuran segar (lalapan), sambal, dan metode masak yang sehat seperti pepes.
RM Sunda juga dapat dikembangkan dalam berbagai konsep, mulai dari warung nasi sederhana, lesehan keluarga, hingga restoran premium. Peluang membuat suasana makan yang homey (nyaman) dengan konsep lesehan atau pemandangan alam (saung) sangat diminati, terutama untuk makan bersama keluarga.
Tantangan RM Sunda
Banyak rumah makan tradisional masih menggunakan pencatatan manual, belum memaksimalkan sistem POS (Point of Sale), dan belum terintegrasi dengan aplikasi pesan antar (GrabFood/GoFood).
Di sisi lain, keterbatasan lahan parkir sering kali menjadi kendala untuk dikunjungi, khususnya bagi rumah makan yang berada di pusat kota atau di pinggir jalan yang padat.
Sementara itu, kualitas masakan Sunda sangat bergantung pada kesegaran sayuran dan bahan baku (ikan/ayam). Menjaga konsistensi bahan baku agar tetap segar setiap hari membutuhkan rantai pasok yang baik.
Dan yang tidak kalah penting, banyak rumah makan Sunda, terutama yang tradisional, kurang melakukan promosi aktif baik di media sosial maupun digital, sehingga jangkauan pasarnya terbatas.
Padahal, tren makanan luar negeri (makanan kekinian/asing) menjadi ancaman, terutama untuk menggaet konsumen generasi muda.
Strategi untuk Sukses
- Peningkatan Kualitas Produk & Pelayanan: Mempertahankan rasa asli tetapi tetap berinovasi.
- Digitalisasi: Menggunakan sistem POS, promosi di media sosial, dan mendaftar di layanan pesan antar makanan.
- Branding yang Unik: Menjual pengalaman, seperti pemandangan saung dan suasana Sunda yang kental.









