Miliarder pemilik klub Liga Serie-A Como FC asal Indonesia meninggal dunia

- Redaksi

Jumat, 20 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Michael Bambang Hartono - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Michael Bambang Hartono - Ilustrasi sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Pimpinan Grup Djarum sekaligus pemilik klub Liga Serie-A Italia, Como FC, Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada Kamis (19/3/2026) pukul 13.15 waktu Singapura. Kabar tersebut diungkap Corporate Communication Senior Manager Group Djarum Budi Darmawan.

Menurut dia, Manajemen Grup Djarum masih menunggu informasi dari keluarga mengenai informasi lokasi rumah duka dan waktu pemakaman.

“Keluarga besar PT Djarum berduka cita mendalam atas wafatnya pimpinan kami, Pak Michael Bambang Hartono, Kamis, 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura. Mengenai info rumah duka dan pemakaman, kami menunggu info keluarga,” kata Budi, seperti dikutip sukabumiheadline.com dari Antara, Junat (20/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjalanan bisnis Michael Bambang Hartono

Michael Bambang Hartono adalah pimpinan dan pemilik perusahaan rokok besar Djarum, putra dari Oei Wie Gwan yang merupakan pendiri PT Djarum di Kudus, Jawa Tengah.

Setelah Oei Wie Gwan meninggal dunia pada 1963, Bambang dan adiknya, Robert Budi Hartono membangun perusahaan Djarum hingga menjadi salah satu perusahaan raksasa yang produk rokoknya berhasil menjangkau berbagai pasar mancanegara.

Bambang dan Budi merupakan dua konglomerat yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Bambang juga dikenal sebagai salah satu pemegang saham bank swasta terbesar di Indonesia dan juga atlet nasional untuk cabang olah raga bridge.

Di cabang olah raga, Michael Bambang Hartono juga dikenal sebagai pemilik klub yang berlaga di kasta tertinggi Liga Italia, Serie-A, Como FC.

Como FC: Buah kejelian dan kesabaran

Buah kejelian dan kesabaran dua miliarder asal Indonesia, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, kebangkitan dramatis Como FC dari kasta keempat Liga Italia, Serie D, hingga menembus Serie A dan kini mengincar posisi di Liga Champions, menjadi sorotan dunia sepak bola.

Perjalanan luar biasa ini tak lepas dari tangan dingin dua miliarder Indonesia, Michael dan Robert. Mereka mengambil alih klub saat terpuruk dan mengubahnya menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah sepak bola Italia.

Akuisisi klub pada 2019 oleh Hartono bersaudara melalui SENT Entertainment Ltd. saat Como 1907 berada di ambang kebangkrutan, merupakan langkah berani yang dipandang skeptis banyak pihak.

Namun, dengan visi jangka panjang dan investasi strategis, mereka membuktikan bahwa kejelian dan kesabaran adalah kunci kesuksesan. Kini, pada Maret 2026, Como FC bahkan berada di posisi keempat klasemen Serie A, zona kualifikasi Liga Champions.

Transformasi Como FC ini menjadi bukti nyata bagaimana manajemen yang solid dan dukungan finansial yang kuat dapat mengubah nasib sebuah klub. Dari sebuah klub yang nyaris punah, Como FC kini menjelma menjadi tim yang disegani, siap bersaing di kompetisi tertinggi Eropa, berkat strategi Michael Bambang Hartono yang visioner.

Pada tahun 2019, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, pemilik Djarum Group dan Bank Central Asia (BCA), membuat keputusan mengejutkan dengan mengakuisisi Como 1907. Klub Italia ini kala itu terpuruk di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia, dan sedang menghadapi masalah keuangan serius setelah sempat bangkrut.

Pembelian klub seharga sekitar 850.000 Euro, atau sekitar Rp5 miliar, ditambah pelunasan utang sebesar 150.000 Euro, menjadi langkah berani yang menuai banyak pertanyaan. Banyak pihak terkejut dengan investasi ini, mengingat kondisi finansial klub yang sangat tidak sehat.

Akuisisi ini dilakukan melalui perusahaan mereka, SENT Entertainment Ltd., menandai masuknya modal besar dari Indonesia ke dunia sepak bola Italia. Hartono bersaudara melihat potensi di balik keterpurukan Como, sebuah kejelian yang menjadi fondasi kebangkitan klub.

Di bawah kepemilikan Hartono bersaudara, Como 1907 memulai perjalanan menanjak yang luar biasa. Pada akhir musim 2018-2019, mereka berhasil promosi dari Serie D ke Serie C.

Dua tahun kemudian, pada musim 2020-2021, Como 1907 kembali naik kasta, kali ini ke Serie B. Puncak perjalanan ini terjadi pada musim 2023-2024, ketika klub berhasil memastikan tempat di Serie A, kasta tertinggi sepak bola Italia, setelah absen selama 21 tahun.

Promosi ke Serie A diamankan pada pertandingan terakhir musim 2023-2024, 10 Mei 2024, setelah bermain imbang 1-1 melawan Cosenza, membuat Como finis sebagai runner-up Serie B di bawah Parma. Keberhasilan ini adalah bukti nyata dari kepiawaian Hartono bersaudara dalam mengelola klub melalui investasi besar dalam infrastruktur dan skuad.

Musim lalu, 2024-2025, Como bahkan mampu finis di peringkat ke-10 Serie A, mengungguli beberapa klub besar lainnya, menunjukkan adaptasi dan daya saing mereka di level tertinggi.

Pada Maret 2026, Como 1907 semakin mengukuhkan posisinya di kancah sepak bola Eropa dengan berada di peringkat keempat klasemen Serie A. Posisi ini merupakan zona kualifikasi Liga Champions, sebuah pencapaian yang fantastis bagi klub yang baru saja promosi.

Kemenangan penting 2-1 atas AS Roma pada 15 Maret 2026 semakin memperkuat peluang mereka untuk berlaga di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. Sepanjang musim ini, Como 1907 menunjukkan konsistensi di zona enam besar dan bahkan sempat menduduki posisi ketiga pada pekan pertama.

Klub ini juga telah menunjukkan kekuatannya dengan dua kali mengalahkan Juventus musim ini, termasuk kemenangan 2-0 yang mengesankan. Kehadiran legenda seperti Cesc Fàbregas sebagai pelatih kepala sejak 2023, didampingi Thierry Henry dan Dennis Wise dalam posisi penting, turut berkontribusi besar pada kebangkitan dan performa apik klub.

Dengan dukungan finansial yang kuat dari Hartono bersaudara, Como telah menginvestasikan lebih dari 100 juta USD dalam dua bursa transfer terakhir untuk memperkuat skuad. Sumber daya ini memungkinkan klub untuk menarik pemain berkualitas dan bersaing di level tertinggi.

Kisah kebangkitan Como FC dari Serie D hingga Serie A di bawah kepemilikan Hartono bersaudara sering disebut sebagai “buah kejelian dan kesabaran” dua orang terkaya di Indonesia, tidak hanya menyediakan dukungan finansial kuat tetapi juga menerapkan strategi bisnis yang matang.

Mereka menginvestasikan dana besar untuk merenovasi stadion Giuseppe Sinigaglia dan membangun fasilitas olahraga baru, menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan klub.

Pendekatan unik mereka adalah mengucurkan puluhan juta dolar setiap musim untuk membiayai klub tanpa mengandalkan pinjaman, sebuah model yang jarang ditemukan di dunia sepak bola modern.

Selain investasi finansial, mereka juga berhasil menarik legenda sepak bola seperti Cesc Fàbregas, Thierry Henry, dan Dennis Wise untuk terlibat dalam manajemen dan kepelatihan klub. Ini menunjukkan visi mereka dalam membangun tim yang kompetitif dan berkelas dunia, bukan hanya sekadar membeli klub.

Keberhasilan Como 1907 menjadi inspirasi bagi investor lain untuk berinvestasi di klub sepak bola, baik di dalam maupun luar negeri. Ini membuktikan bahwa dengan “kejelian dan kesabaran” serta strategi yang tepat, sebuah klub dapat bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan besar.

Berita Terkait

Bukan gratis, Kopdes Merah Putih harus kredit mobil India ke bank jaminan Dana Desa
Daftar raja minimarket di Indonesia, nomor 5 asal Sukabumi
Siapa pemilik Aman Group? Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi turun tahta
Memahami filosofi “Aman” Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi mengubah persepsi
10 orang terkaya di Indonesia 2025, nomor 2 punya aset triliunan Rupiah di Sukabumi
Tips memulai bisnis ala Aura Kasih
Pengertian dan 4+3 cara menemukan inspirasi yang sesuai keinginan
Daftar korporasi tertua: Kongō Gumi adalah perusahaan pertama di dunia

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 22:36 WIB

Miliarder pemilik klub Liga Serie-A Como FC asal Indonesia meninggal dunia

Senin, 23 Februari 2026 - 21:59 WIB

Bukan gratis, Kopdes Merah Putih harus kredit mobil India ke bank jaminan Dana Desa

Rabu, 21 Januari 2026 - 00:01 WIB

Daftar raja minimarket di Indonesia, nomor 5 asal Sukabumi

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:00 WIB

Siapa pemilik Aman Group? Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi turun tahta

Senin, 29 Desember 2025 - 03:39 WIB

Memahami filosofi “Aman” Adrian Zecha, raja hotel dunia asal Sukabumi mengubah persepsi

Berita Terbaru