23.2 C
Sukabumi
Senin, April 22, 2024

Pria tewas tersambar petir saat main handphone ternyata ASN Pemkab Sukabumi

sukabumiheadline.com - Korban tewas dalam insiden tersambar...

Daftar kamera mirrorless tapi harga di bawah Rp5 juta, minat?

sukabumiheadline.com - Ingin merasakan sensasi saat melakukan...

Belasan pemotor pengguna knalpot bising diamankan Satlantas Polres Sukabumi

sukabumiheadline.com - Belasan pengendara sepeda motor yang...

Pernah punya program makan siang gratis, negara ini mengalami krisis pangan

InternasionalPernah punya program makan siang gratis, negara ini mengalami krisis pangan

sukabumiheadline.com – Negara Kuba masih dinaungi kemiskinan. Karenanya, tak mengherankan jika di tengah kondisi seperti itu, liburan mewah Tony Castro, cucu Presiden Kuba, Fidel Castro, menuai kecaman.

Fidel Castro adalah sosok yang sangat disegani di Kuba. Lewat perjuangannya, Kuba dibawa menjadi negara yang mandiri lewat Revolusi Kuba di tahun 1959.

Namun kondisi Kuba sekarang cukup memprihatinkan. Di tengah kondisi negara yang serba sulit, cucu Fidel Castro, Tony Castro menuai kecaman saat kedapatan memamerkan liburan mewahnya di Eropa lewat Instagram.

Seperti diketahui, Kuba adalah salah satu negara komunis di dunia, Kuba. Saat ini, negara itu tengah menghadapi krisis pangan yang membuat banyak warganya kelaparan. Kondisi ini terjadi akibat inflasi yang kian menjadi-jadi dan turunnya produksi pangan dalam negeri.

Melansir dari The Washington Post, Selasa (26/3/2024), angka rata-rata inflasi di Kuba dalam tiga tahun terakhir sudah mencapai 50% per tahun. Kemudian negara yang dikenal sebagai produsen cerutu itu juga mengalami penurunan produk domestik bruto sebesar 2%.

Belum lagi, sektor pertanian negara itu juga terus mengalami penurunan produksi akibat kurangnya modal dan peralatan yang dibutuhkan. Selain itu kondisi ini diperburuk dengan melemahnya pasokan pertanian seperti insektisida dan pupuk.

Sebagai contoh salah satu pusat peternakan utama di Kuba, Camaguey, hanya bisa memproduksi sekitar 42,8 juta liter susu tahun lalu dari 81,3 juta liter yang telah disetujui oleh produsen untuk dijual. Kondisi ini membuat negara komunis itu kekurangan pasokan makan.

Padahal sebagai negara komunis, sebagian besar kebutuhan pangan warga diterima dari pemerintah setempat melalui program bernama ‘Liberta’. Program ini sendiri pertama kali diluncurkan pada bulan Juli 1963 dan menjadi salah satu pilar sistem sosialis di negara kepulauan tersebut.

Disebutkan melalui program itu, jutaan warga Kuba sempat mendapatkan banyak jatah makan dari pemerintah mulai dari hamburger, ikan, susu, hingga coklat dan bir. Banyak orang bahkan bisa mendapatkan kue untuk acara ulang tahun dan pernikahan mereka dari pemerintah.

Sayang, program ini perlahan-lahan mulai ‘runtuh’ sejak Uni Soviet mengurangi jumlah bantuan yang diberikan untuk Kuba pada 1990an. Kondisi ini pun terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya, dan semakin parah dalam tiga tahun terakhir akibat permasalahan ekonomi di atas.

Akibatnya pemerintah mau tidak mau harus mengurangi jumlah masyarakat yang menerima subsidi pangan dari sekitar empat juta libretas (sebutan untuk penerima program jatah makan Liberta). Selain itu porsi jatah pangan yang diberikan juga berkurang secara drastis untuk masing-masing penerima manfaat.

Selain melalui subsidi pangan Liberta tadi, masyarakat Kuba tentu bisa membeli kebutuhan pangan mereka di berbagai toko yang telah disubsidi pemerintah. Namun karena penurunan jumlah produksi pangan dalam negeri tadi, banyak toko yang membatasi barang yang bisa dibeli hingga kerap kehabisan barang.

“Semuanya datang dalam porsi kecil dan tertunda,” kata salah warga Kuba yang tinggal di Old Havana, María de los Ángeles Pozo (57).

“Kami tidak lagi memiliki banyak barang (untuk dibeli) seperti biasanya. Kami menderita banyak kekurangan,” ungkapnya lagi.

Di sisi lain, kondisi ini diperparah dengan munculnya toko-toko kecil swasta yang menjual berbagai produk dengan harga sangat mahal.

Padahal di negara komunis yang sebelumnya pernah melarang perdagangan swasta ini, penduduknya hanya bergaji tetap antara US$ 16 (Rp252.800) dan US$ 23 (Rp363.400) per bulan itu.

Jumlah gaji yang mereka terima ini tentu tidak akan cukup untuk membeli produk-produk di toko swasta yang dinilai sangat mahal, berbeda jauh dengan produk yang dijual melalui toko-toko bersubsidi negara tadi.

“Saat ini Anda dapat melihat toko-toko swasta yang memiliki semua produk yang Anda inginkan: susu, roti, gula, apa pun yang Anda inginkan dengan harga yang tidak terjangkau oleh sebagian besar penduduk,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Carlos Fernández de Cossío dalam sebuah pernyataan.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer