sukabumiheadline.com – Memasuki 2026, hujan terus mengguyur wilayah Sukabumi, Jawa Barat, sejak awal Januari lalu. Warga di sejumlah kecamatan di Sukabumi, terutama di wilayah selatan tentunya selalu dibayangi kekhawatiran terjadinya bencana banjir dan longsor.
Sementara itu, peralihan dari musim hujan ke musim kemarau membawa dampak luas, terutama bagi sektor pertanian. Musim kemarau biasanya menjadi penanda dimulainya musim tanam padi gadu atau musim tanam kedua, khususnya di wilayah sawah tadah hujan.
Lalu bagaimana prakiraan cuaca untuk wilayah Sukabumi dalam satu pekan ke depan? Dan kapan musim hujan tahun ini berakhir?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), untuk bulan Januari 2026, wilayah Sukabumi saat ini berada dalam puncak musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem.
Untuk Kota Sukabumi, cuaca lebih cenderung diguyur hujan ringan dengan suhu maksimal sekitar 27°C. Sedangkan Kabupaten Sukabumi, berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat dengan suhu udara yang sedikit lebih sejuk, minimal 20°C.

Berikut adalah prakiraan cuaca untuk satu pekan ke depan, dikutip sukabumiheadline.com dari laman BMKG, Jumat (23/1/2026).
Ringkasan Cuaca (23 – 29 Januari 2026)
Secara umum, cuaca di Sukabumi akan didominasi oleh hujan dengan intensitas ringan hingga lebat, terutama pada siang dan sore hari.
Jumat, 23 Januari – Sabtu, 24 Januari 2026
Peringatan Dini: BMKG menetapkan status Siaga Hujan Lebat untuk wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi.
Kondisi: Potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang.
Ahad, 25 Januari – Selasa, 27 Januari 2026
Kondisi: Cuaca diprediksi berawan pada pagi hari, kemudian hujan ringan hingga sedang pada sore hari.
Suhu: Berkisar antara 20°C hingga 27°C.
Rabu, 28 Januari – Kamis, 29 Januari 2026
Kondisi: Masih terdapat potensi hujan sedang. Kelembapan udara cukup tinggi, mencapai 93% hingga 99%, yang membuat suasana terasa sangat lembap dan sejuk.
Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang akibat hujan lebat yang diprediksi terjadi pada akhir pekan ini. Anda dapat memantau perkembangan cuaca secara langsung melalui Prakiraan Cuaca BMKG Sukabumi.
Sampai kapan musim hujan 2026?

BMKG memprediksi musim hujan tahun 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berakhir pada pertengahan Maret. Prediksi tersebut disampaikan berdasarkan analisis dinamika atmosfer serta pemantauan pola curah hujan terkini di berbagai zona musim (ZOM) di Tanah Air.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan bahwa secara umum sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026.
“Berdasarkan proyeksi kami, sekitar pertengahan Maret mayoritas wilayah Indonesia sudah beralih dari musim hujan ke musim kemarau,” ujar Guswanto dalam keterangan resmi yang dirilis Kamis (22/1/2026).
Berbeda di tiap wilayah

BMKG menegaskan bahwa berakhirnya musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Indonesia. Perbedaan karakteristik geografis dan dinamika atmosfer menyebabkan waktu peralihan musim bervariasi antarwilayah.
Beberapa daerah diperkirakan lebih awal memasuki musim kemarau, di antaranya sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, serta sebagian wilayah Kalimantan bagian selatan. Sementara itu, wilayah lain masih berpotensi mengalami curah hujan hingga akhir Maret, bahkan awal April 2026.
“Pola tersebut disusun berdasarkan analisis data historis curah hujan serta pemodelan cuaca terkini,” kata Guswanto.
BMKG, lanjutnya, akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan menyampaikan pembaruan apabila terjadi anomali atau perubahan signifikan pada pola iklim.
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
Meski musim hujan diperkirakan segera berakhir, BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi selama masa peralihan. Hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir masih berpeluang muncul di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh dinamika atmosfer lokal, seperti pertumbuhan awan konvektif atau awan kumulonimbus yang intens, yang lazim terjadi pada periode transisi musim.
“Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Pastikan untuk selalu memantau prakiraan cuaca harian dari BMKG, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan,” tegas Guswanto.









