Profil Ali Khamenei: Innalillahi, pemimpin tertinggi Iran dibunuh AS-Israel

- Redaksi

Minggu, 1 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei - sukabumiheadline.com

Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang menghantam kompleks kediamannya, Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Klaim tersebut diungkapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Namun, otoritas Iran juga membenarkan klaim tersebut. Bahkan, presenter TV media pemerintah sempat menitikkan air mata saat mengabarkan berita tersebut, dikutip dari BBC International. Negara diselimuti duka mendalam dan akan menerapkan 40 hari berduka.

Profil Ali Khamenei 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Kelahiran: 19 April 1939 (usia 86 tahun), Masyhad, Iran
  • Jabatan: Pemimpin Agung Iran
  • Jabatan sebelumnya: Acting Supreme Leader of Iran (1989–1989), Presiden Iran (1981–1989)
  • Masa kepresidenan: 13 Oktober 1981 – 3 Agustus 1989
  • Pasangan: Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh (m. 1964)
  • Anak: Mojtaba Khamenei, Hoda Khamenei, Mostafa Khamenei, Masoud Khamenei, Boshra Khamenei, Meysam Khamenei
    Cucu: Mohammad Bagher Khamenei
  • Saudara kandung: Hadi Khamenei, Seyyed Mohammad Khamenei, Badri Hosseini Khamenei

Sosok Khamenei adalah figur sentral yang membentuk arah perlawanan dan kebijakan strategis Iran selama lebih dari tiga dekade. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Khamenei dan sejumlah pejabat Iran “tidak bisa lolos dari intelijen AS dan sistem pelacakan paling canggih.” Hingga kini, Teheran belum mengkonfirmasi klaim tersebut secara resmi.

Khamenei mengambil alih tampuk kepemimpinan Republik Islam Iran pada 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Jika Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologis Revolusi Islam 1979, Khamenei justru membangun fondasi kekuasaan negara melalui penguatan militer, paramiliter, dan jaringan pengaruh regional.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat presiden Iran pada era Perang Iran-Irak (1980-1988). Pengalaman perang berdarah tersebut membentuk pandangannya yang sangat curiga terhadap Barat, khususnya AS, yang kala itu mendukung Irak di bawah Saddam Hussein.

“Dia adalah presiden masa perang yang keluar dari konflik dengan keyakinan bahwa Iran rentan dan harus selalu siap menghadapi ancaman,” kata Vali Nasr, pakar Iran dan penulis Iran’s Grand Strategy, seperti dikutip Al Jazeera, Ahad (1/3/2026).

Menurut Nasr, bagi Khamenei, revolusi, republik Islam, dan nasionalisme Iran adalah satu kesatuan yang harus dilindungi.

Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam atau Korps Garda Revolusi Islam berevolusi menjadi kekuatan dominan, bukan hanya di bidang militer, tetapi juga politik dan ekonomi. Khamenei juga mengusung konsep “ekonomi perlawanan” untuk menopang kemandirian Iran di tengah sanksi Barat.

Namun, pendekatan keras ini memicu kritik luas di dalam negeri. Penindakan brutal terhadap protes pemilu 2009 dan gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan menegaskan gaya kepemimpinan Khamenei yang melihat ketidakstabilan domestik sebagai ancaman keamanan nasional.

“Rakyat Iran membayar harga yang terlalu mahal atas penegasan kemerdekaan nasional versi ini. Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan sebagian besar masyarakat,” kata Nasr.

Dari Pragmatism ke Konfrontasi
Meski dikenal keras, Khamenei juga pragmatis. Ia menyetujui perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) untuk meredakan tekanan ekonomi akibat sanksi. Namun, langkah AS di bawah Trump yang menarik diri dari kesepakatan itu membuat Khamenei kembali ke sikap konfrontatif, menolak dialog dengan Washington.

Khamenei mendorong strategi “bukan damai, bukan perang” dan memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan,” termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi. Strategi ini menjadikan Iran pemain kunci dalam konflik regional, sekaligus target utama Israel.

Ketegangan memuncak setelah perang Israel-Hamas dan serangkaian serangan Israel terhadap target Iran dan sekutunya. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka mengancam akan membunuh Khamenei.

Dalam salah satu pidatonya, Khamenei menegaskan Iran tidak akan tunduk. “Bangsa Iran tidak akan menyerah. Intervensi militer AS akan membawa kerusakan yang tak bisa diperbaiki,” katanya.

Simbol Perlawanan

Bagi pendukungnya, Khamenei adalah simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel. Namun bagi para pengkritik, ia dianggap semakin terputus dari realitas generasi muda Iran yang menginginkan reformasi dan perbaikan ekonomi, bukan isolasi dan konflik berkepanjangan.

Meninggalnya Khamenei berpotensi menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran sejak 1979.

Berita Terkait

Survei: Nilai politik luar negeri dan ekonomi Donald Trump anjlok di mata publik AS
Dihujat, Benjamin Netanyahu: Yesus Kristus tak lebih unggul atas Genghis Khan
Iran tembak Jet F-35 Lightning II, pesawat tempur siluman AS jatuh
AS melunak untuk redam harga minyak, sanksi terhadap Iran dilonggarkan
Momen Donald Trump marah sekutu Eropa ogah bantu AS amankan Selat Hormuz
The Middle East: Benjamin Netanyahu tewas, pihak Israel tunda umumkan karena ini
Tak ditanggung asuransi, Iran ancam rudal Nvidia, Google, dan Microsoft
Kemenlu Israel minta warganya main aplikasi kencan di dalam bunker saja
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 05:12 WIB

Survei: Nilai politik luar negeri dan ekonomi Donald Trump anjlok di mata publik AS

Sabtu, 21 Maret 2026 - 15:51 WIB

Dihujat, Benjamin Netanyahu: Yesus Kristus tak lebih unggul atas Genghis Khan

Sabtu, 21 Maret 2026 - 11:00 WIB

Iran tembak Jet F-35 Lightning II, pesawat tempur siluman AS jatuh

Jumat, 20 Maret 2026 - 14:00 WIB

AS melunak untuk redam harga minyak, sanksi terhadap Iran dilonggarkan

Kamis, 19 Maret 2026 - 06:00 WIB

Momen Donald Trump marah sekutu Eropa ogah bantu AS amankan Selat Hormuz

Berita Terbaru

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Regulasi

Purbaya: Anggaran MBG mau dipangkas Rp40 triliun

Kamis, 26 Mar 2026 - 00:51 WIB