SUKABUMIHEADLINE.com l Pangeran Muhammed bin Salman (37), Putra Mahkota kerajaan Arab Saudi yang dikabarkan berniat membeli klub Liga Inggris, Manchester United.
Konsorsium Arab Saudi pimpinan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi yang populer dipanggil MbS, itu di kabarkan telah menyampaikan tawaran pembelian Klub Liga Inggris, Manchester United (MU) dan Liverpool.
Dilansir mirror.co.uk, konsorsium Arab Saudi telah menghubungi dan menyampaikan minat membeli kepada pemilik Manchster United (MU) dan Liverpool. Konsorsium Arab Saudi tidak sendiri. Mereka mendapatkan saingan dari konsorsium Qatar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika rencana ini berjalan mulus, warna Arab akan semakin terlihat di Liga Inggris. Sebelumnya, konsorsium Arab Saudi Dana Investasi Publik (PIF) – dana kekayaan negara yang dikelola negara Arab Saudi di bawah pimpinan Pangeran MbS, telah membeli Newcastle pada Oktober 2021.
Kabar rencana pembelian oleh Arab Saudi dan Qatar menimbulkan kekhawatiran penggemar Liverpool. Mereka khawatir, ada keterlibatan negara (Arab dan Qatar) dalam mengurus tim.
Apalagi setelah muncul banyak kecaman terkait isu HAM dalam Piala Dunia Qatar 2022 akibat larangan gay datang menonton. Juga pembatas hak-hak perempuan oleh kedua negara.
Dilaporkan mirror.co.uk, konsorsium Arab dan konsorsium Qatar telah menghubungi direktur FSG Mike Gordon, yang juga salah satu direktur Liverpool, untuk mendaftarkan minat mereka. Gordon mendapat penjualan klub Merseyside.
Dikatakan bahwa kedua konsorsium adalah perusahaan milik swasta, namun itu tidak berarti kedua negara tidak akan terlibat. Tawaran Qatar dan Saudi dilaporkan memiliki hubungan dekat dengan keluarga penguasa negara itu.
Menteri olahraga Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Turki Al-Faisal mengakui negara akan mendukung tawaran pengambilalihan untuk Liverpool dan rival Manchester United.
Setan Merah disiapkan untuk dijual oleh pemilik Glazers pada hari Selasa, meniru langkah pemilik Liverpool dibawah bendera Fenway Sports Group (FSG) pimpinann John W Henry.
“Dari sektor swasta, saya tidak bisa berbicara atas nama mereka, tapi ada banyak minat dan keinginan dan ada banyak gairah tentang sepak bola,” kata kepala Saudi dilansir BBC Sport.
“Kami pasti akan mendukungnya jika ada sektor swasta [Saudi] yang masuk, karena kami tahu itu akan berdampak positif pada olahraga di dalam kerajaan. Tetapi jika ada investor yang bersedia melakukannya dan jumlahnya bertambah, mengapa tidak?” Kata dia.
Dalam kasus Newcastle, Dana Investasi Publik (PIF) – dana kekayaan negara yang dikelola negara Arab Saudi – memiliki 80 persen saham klub, yang merupakan saham pengendali.
Meskipun demikian, Liga Premier tidak menganggap Newcastle sebagai klub milik negara. Baca lengkap: Beli Klub Newcastle United, Harta Pangeran Arab Rp6,1 Kuadriliun
Dengan demikian, situasi serupa dapat terjadi di Liverpool atau MU yang menurut laporan majalah Forbes, Liverpool memiliki nilai $4,45 miliar (£3,68 miliar) dan United $4,6 miliar (£3,8 miliar).
Sedangkan, kekayaan keluarga MbS disebut sebut mencapai hingga 26 ribu triliun lebih.
Profil Mohammed bin Salman
MbS lahir 31 Agustus 1985, putra Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dan istri ketiganya Fahdah binti Falah bin Sultan. Sejak muda, MbS tertarik pada pemerintahan dan mengikuti jejak ayahnya sebagaimana dilansir Britannica.
Ia menyelesaikan studi di Universitas King Saud di Riyadh, Arab Saudi, pada 2007 dengan gelar sarjana hukum.
MbS pernah menjadi penasihat formal untuk ayahnya, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Riyadh.
Baca Juga: Pangeran Mohammed bin Salman Tawarkan Rp4,8 Triliun untuk CR7
Ketika Salman naik takhta setelah Raja Abdullah wafat pada 2015, Mohammed bin Salman kemudian ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi.
Dalam hitungan bulan, Mohammed bin Salman lantas melancarkan intervensi militer yang agresif dalam perang saudara di Yaman, yang berlangsung hingga hari ini.
Keputusan tersebut membuat MbS dikecam Direktur Human Rights Watch Sarah Leah karena dianggap sebagai arsitek perang di Yaman, yang memicu kelaparan dan krisis kemanusiaan di sana. Bahkan, Human Rights Watch menggambarkan rezimnya sebagai despotisme.