sukabumiheadline.com l Bisnis air minum memang basah dan menjanjikan fulus yang seakan tidak terbatas. Karenanya, keputusan Danone mengakuisisi Aqua menjadi strategi jitu perusahaan untuk semakin membesarkan gurita bisnisnya.
Sayangnya, meskipun secara bisnis sangat menggiurkan, tapi eksploitasi sumber air secara gila-gilaan pada gilirannya akan menimbulkan celah masalah lain.
Terlebih di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, di mana terdapat salah satu pabrik pengemasan AMDK Aqua, saat ini tengah dilanda kekeringan. Baca lengkap: 7 Ribu Lebih KK di 13 Kecamatan Kabupaten Sukabumi Krisis Air Bersih, Cicurug Parah
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mirisnya, ribuan kepala keluarga di belasan kecamatan saat ini tengah mengalami krisis air.

Air Indonesia Sudah Dikuasai Asing
Padahal, saat dibeli oleh Danone, Aqua benar-benar dalam posisi siap panen setelah pendirinya, Tirto Utomo berhasil melalui proses bisnis yang sulit.
Bagaimana tidak, saat itu terbilang belum banyak kompetitor merek air minum dalam kemasan (AMDK) seperti saat ini. Salah satu alasannya, tentu saja karena bisnis tersebut masih dipandang aneh ketika itu.
Berita Terkait: Di Sukabumi Muncul Petisi: Pak Polisi, Ayo Berani Tilang Truk Aqua!!!
Bagi Danone sendiri, Aqua bukanlah brand AMDK satu-satunya yang Mereka miliki. Pasalnya, mereka sudah memiliki belasan air merek AMDK di banyak negara sejak awal perusahaan asal Perancis itu berdiri.
Dilansir Energy World, sedikitnya Danone memiliki 17 merek AMDK di seluruh dunia.
“Setelah akuisisi tahun 1998, Danone menjadi produsen AMDK terbesar kedua di dunia setelah Nestle,” tulis Energy World dikutip sukabumiheadline.com, Kamis (14/9/2023).
Energy World juga menyebut jika Aqua merupakan penyumbang terbesar penjualan AMDK Danone grup secara global.
“Menurut data 2011, dari total 8 Miliar liter air yang diperdagangkan Danone Group per tahun, 5 miliar liter berasal dari Aqua (Indonesia),” tulisnya.
Fakta mengejutkan lainnya, penguasaan sumber air di Indonesia sudah dikuasai oleh Danone yang notabene merupakan perusahaan asing.
Hal itu terbukti dengan penguasaan 74 persen saham dari sebelumnya yang hanya 40%.