sukabumiheadline.com – Meningkatnya laporan kasus super flu di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia kesehatan. Istilah ini ramai digunakan masyarakat untuk menggambarkan flu yang terasa lebih berat, bertahan lama, dan menimbulkan kelelahan ekstrem.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa super flu bukan istilah medis resmi. Namun, lonjakan kasus influenza dengan gejala berat tetap perlu diwaspadai, terutama di tengah mobilitas tinggi dan rendahnya cakupan vaksinasi di sejumlah negara.
Virus influenza A H3N2 yang bermutasi ini dilaporkan lebih sulit dikenali oleh sistem imun, termasuk pada orang yang sebelumnya sudah memiliki kekebalan akibat infeksi flu atau vaksinasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Virus flu bermutasi dengan cepat, dan mutasi ini bisa memberikan keuntungan bagi virus tersebut,” kata Andrew Pekosz, Ph.D., ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dikutip dari Today.
Menurut Pekosz, salah satu jenis H3N2 yang muncul memiliki mutasi yang memungkinkan virus menghindari perlindungan dari vaksin. Kondisi inilah yang membuat sebagian orang merasa flu kali ini lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Gejala super flu yang perlu diwaspadai Para ahli menyebut, secara umum gejala super flu mirip dengan influenza A musiman. Namun, intensitas keluhannya sering kali lebih berat dan muncul secara mendadak.
Gejala super flu
- Demam tinggi dan berkepanjangan
- Panas dingin dan menggigil
- Nyeri otot dan tubuh terasa sangat pegal
- Sakit kepala berat
- Kelelahan ekstrem hingga sulit beraktivitas
- Hidung tersumbat atau pilek berat
- Batuk dan nyeri tenggorokan
Maka dari itu, melakukan tes menjadi langkah penting. Kini tersedia tes cepat rumahan yang dapat mendeteksi influenza A, influenza B, dan COVID-19 sekaligus.
Apakah vaksin masih efektif?
Jika mengalami gejala flu yang berat, para ahli menekankan pentingnya tidak menganggapnya sebagai pilek biasa. Pekosz mengingatkan, influenza dapat berkembang menjadi penyakit serius, terutama pada kelompok rentan.
Kekhawatiran muncul karena vaksin flu tahun ini disebut tidak sepenuhnya cocok dengan subclade K. Namun, Pekosz menegaskan bahwa vaksin tetap memberikan perlindungan.
CDC tetap merekomendasikan vaksin influenza untuk semua orang berusia enam bulan ke atas.
Para ahli menilai, meski tidak sempurna, vaksinasi dapat mengurangi keparahan penyakit dan risiko rawat inap. Meningkatnya kasus superflu menjadi pengingat bahwa influenza bukan penyakit sepele.
Langkah-langkah dianjurkan jika gejala muncul
- Istirahat: Langkah pertama menghadapi penyakit menular adalah menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk istirahat cukup, menjaga asupan cairan, dan membatasi kontak dengan orang lain.
- Gunakan Obat Pereda Gejala Dengan Bijak: Menurut laporan BBC, paracetamol atau ibuprofen dapat membantu menurunkan demam dan meredakan nyeri. Namun, masyarakat diingatkan untuk tidak mengonsumsi paracetamol berlebihan karena banyak obat flu sudah mengandung zat tersebut.
- Pertimbangkan Antivirus: Dokter di AS mengakui bahwa obat antivirus menjadi senjata penting untuk kasus flu berat. CDC merekomendasikan empat obat, yakni Tamiflu, Xofluza, Relenza, dan Rapivab. Obat ini paling efektif jika diberikan sejak awal gejala. Namun, pasien sebaiknya melakukan konsultasi dulu dengan dokter agar diberikan antivirus sesuai kebutuhan.
- Perhatikan Tanda Bahaya: Segera hubungi tenaga medis jika muncul demam tinggi yang tidak turun, tanda dehidrasi, nyeri dada, atau kesulitan bernapas. Dalam kondisi normal, flu biasanya membaik dalam 5–7 hari, tetapi komplikasi tetap bisa terjadi.
- Tetap di Rumah Saat Sakit: Ahli menyarankan agar penderita flu tetap di rumah hingga demam hilang selama 24 jam tanpa obat dan gejala membaik, guna mencegah penularan.









