5 tren wisata Gen Z di Sukabumi, dari eksplorasi niche hingga eco tourism

- Redaksi

Sabtu, 11 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sukabumiheadline.com – Wisatawan Gen Z mendefinisikan ulang tren pariwisata Indonesia saat ini dengan fokus pada pengalaman yang autentik dan bermakna.

Juru Bicara Kemenpar, Nia Niscaya, menjelaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran signifikan dalam preferensi wisatawan. Fokus utama kini beralih pada pengalaman yang berkelanjutan dan berbasis teknologi tinggi.

“Generasi milenial dan Gen Z mendorong munculnya tren baru seperti pariwisata berbasis lingkungan, wisata kebugaran, wisata olahraga, hingga Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE),” ujar Nia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari penelusuran sukabumihedline.com, ada 5 tren utamanya mencakup imersif budaya, seperti tinggal di desa wisata. Lalu, wisata alam dan petualangan, yakni eksplorasi niche. Kemudian, wisata kuliner dan gastronomi. Selanjutnya, wisata ramah lingkungan atau eco-tourism. Dan terakhir, wisata kebugaran dan olah raga atau sport tourism.

Berikut uraian singkat 5 tren wisatawan Gen Z, dirangkum sukabumiheadline.com, Sabtu (11/7/2026).

1. Imersif Budaya

Ilustrasi rangkaian acara seren taun di kasepuhan - sukabumiheadline.com
Ilustrasi rangkaian acara seren taun di kasepuhan – sukabumiheadline.com

Berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Destinasi seperti Kasepuhan Sinar Resmi, Gelar Alam dan Cipta Mulya menjadi pilihan populer untuk mempelajari nilai dan kebiasaan penduduk setempat.

Untuk informasi, imersif budaya adalah sebuah metode atau pengalaman yang memampukan seseorang masuk, berinteraksi, dan menyatu secara mendalam dengan suatu kebudayaan. Hal ini dicapai melalui perpaduan antara edukasi, visualisasi, dan teknologi mutakhir seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), atau proyeksi video mapping 360 derajat.

Konsep inovatif ini membawa sejumlah manfaat utama, seperti pengalaman multisensori, di mana pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga mendengarkan, menyentuh, dan merasakan suasana sejarah atau budaya tertentu.

Tren ini ditujukan agar generasi muda dapat belajar mengenai sejarah dan keanekaragaman budaya dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Di sisi lain, penggunaan teknologi memungkinkan penciptaan narasi yang hidup sehingga pengunjung seolah-olah menjadi bagian dari pelaku sejarah atau tradisi tersebut.

Imersif budaya pada gilirannya bakal menjadi medium digital yang efektif untuk menjaga kelestarian warisan budaya fisik, seperti artefak atau wayang agar tetap relevan di era modern.

2. Wisata Alam dan Petualangan

Sekelompok remaja sedang mendaki gunung - sukabumiheadline.com
Sekelompok remaja sedang mendaki gunung – sukabumiheadline.com

Minat tinggi pada petualangan off-the-beaten-path seperti mendaki atau surfing. Kawasan seperti Gunung Gede Pangrango menjadi favorit baru bagi wisatawan muda.

3. Wisata Ramah Lingkungan

Ekowisata adalah pariwisata berbasis alam yang berfokus pada konservasi lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Ini adalah cara bertanggung jawab untuk menjelajahi keindahan alam.

Berbeda dengan pariwisata massal, ekowisata memastikan kunjungan Anda memberikan dampak positif bagi kelestarian ekosistem dan kesejahteraan penduduk setempat.

Salah satu lokasi yang bisa dikunjungi di Sukabumi, adalah penangkaran penyu hijau di Pantai Pangumbahan, Kecamatan Ciracap.

4. Wisata Kuliner dan Gastronomi

Ilustrasi nongkrong di kafe - sukabumiheadline.com
Ilustrasi nongkrong di kafe – sukabumiheadline.com

Wisata gastronomi adalah perjalanan wisata yang menjadikan eksplorasi makanan, minuman, dan budaya kulinernya sebagai daya tarik utama. Lebih dari sekadar makan atau wisata kuliner biasa, kegiatan ini melibatkan pengalaman mendalam (seperti storytelling) tentang sejarah, filosofi, bahan baku, hingga proses pembuatan suatu hidangan lokal.

Wisata gastronomi bertujuan memahami asal-usul, tradisi turun-temurun, dan nilai sosial di balik makanan. Selanjutnya, mereka juga terlibat langsung dengan produsen lokal, seperti mengunjungi petani, nelayan, perkebunan, atau pabrik pengolahan.

Jika memungkinkan, mereka bisa mengikuti kelas memasak, lokakarya, atau berpartisipasi dalam festival makanan tradisional. Di Sukabumi, salah satu lokasi yang bisa dikunjungi untuk tren ini, adalah produsen kue mochi dan kue jahe, sagon bakar, dan lain sebagainya.

Gastronomi berbeda dengan wisata kuliner yang fokus utamanya adalah aktivitas makan, mencicipi berbagai hidangan, dan memuaskan selera saat bepergian.

Sedangkan, wisata gastronomi menawarkan pengalaman holistik (menyeluruh). Wisatawan diajak menyelami perjalanan makanan dari hulu (asal bahan pangan) hingga ke hilir (penyajian dan sejarah peradaban).

5. Wisata Kebugaran & Olahraga

Ilustrasi Geopark Run Series 2026 - 2027
Ilustrasi Geopark Run Series 2026 – 2027 – sukabumiheadline.com

Menggabungkan liburan dengan kesehatan melalui sport tourism dan wellness seperti yoga atau spa retreat, yang diprediksi menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat.

Sport tourism adalah jenis kegiatan perjalanan wisata di mana seseorang secara aktif berpartisipasi atau sekadar menjadi penonton dalam sebuah perhelatan olahraga di suatu destinasi. Kegiatan ini menggabungkan gaya hidup sehat dan liburan, sekaligus memberikan dampak perputaran ekonomi yang masif bagi wilayah penyelenggara.

Salah satu event sport tourism yang bakal digelar Kementerian Pariwisata di Sukabumi, adalah Geopark Run Series 2026-2027 yang bakal digelar di kawasan Ciletuh. Event ini juga menawarkan perjalanan menonton perhelatan olah raga berskala besar atau turnamen tertentu.

Berwisata dengan tujuan utama menjadi peserta atau pelaku olahraganya, seperti mengikuti event Geopark Run Series 2026-2027, bersepeda, berselancar atu surfing di Pantai Cimaja, atau trail run di daerah pegunungan, hingga arung jeram di Sungai Citarik.

Selain itu, sport tourism kini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi yang sangat penting. Wisatawan yang datang untuk mengikuti atau menonton acara akan menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal di area sekitar destinasi wisata tersebut.

Berita Terkait

Ingin tampil cantik dan fresh? Pilih 10 model rambut pendek wanita ini untuk referensi
5 model rambut comb over untuk pria ke kampus atau ngantor
Tinggalkan smartphone, Gen Z kompak pilih dumbphone
Johatsu: Hidup sudah mentok, tren ganti identitas dan memulai hidup dari nol
Natural dan low maintenance, 6 model rambut panjang ber-layer 2026 untuk wanita
Intip 5 tren gaya busana anak muda Sukabumi era 80-90an
Tiga tren dan 10 model rambut pria Agustus: Klasik modern hingga pendek low maintenance
Memahami istilah “kalcer” yang populer di kalangan Gen Z: Lebih dari sekadar skena

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Ingin tampil cantik dan fresh? Pilih 10 model rambut pendek wanita ini untuk referensi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 04:42 WIB

5 model rambut comb over untuk pria ke kampus atau ngantor

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Tinggalkan smartphone, Gen Z kompak pilih dumbphone

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Johatsu: Hidup sudah mentok, tren ganti identitas dan memulai hidup dari nol

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Natural dan low maintenance, 6 model rambut panjang ber-layer 2026 untuk wanita

Berita Terbaru

Polsek Kalapanunggal berbagi makan gratis - Ist

Sukabumi

Polsek Kalapanunggal Sukabumi berbagi makan gratis

Kamis, 20 Agu 2026 - 17:34 WIB