Kisah cinta sejati Enden Kartiwi kepada Lettu Bakrie, wanita Sukabumi teman dekat Hamengkubuwono IX

- Redaksi

Selasa, 16 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Enden Kartiwi - Sukabumi Heritages

Enden Kartiwi - Sukabumi Heritages

sukabumiheadline.com – Kisah tentang cinta, kesetiaan, dan ketulusan seorang wanita pejuang asal Sukabumi yang rela tidak menikah hingga akhir hayatnya demi cinta sejatinya, yang juga sesama pejuang dari Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Mengutip dari sukabumixyz.com, sosok Ni Raden Kartiwi adalah seorang gadis pejuang Sukabumi yang lahir pada 1917, dari seorang ayah yang berprofesi sebagai mantri guru. Ayahnya merupakan salah seorang juragan Cibadak ketika itu, seorang pemiliki tanah dari mulai Bojong Talang sampai Pasar Cibadak.

Status sosial ayahnya tersebut menjadikan wanita yang populer dipanggil Enden Kartiwi itu bisa mengenyam pendidikan formal lebih baik dibanding teman-teman sebayanya. Ia sempat bersekolah di Hoogere Burgerschool te Bandoeng bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX tahun 1925.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hoogere Burgerschool te Bandoeng atau Bandoengsche Hoogere Burgerschool dalam ejaan lebih baru Hogere Burgerschool te Bandoeng disingkat HBS te Bandoeng atau HBS Bandung, sebuah lembaga pendidikan menengah umum.

Saat sakolah di HBS itulah konon Enden dan Hamengkubuwono IX sempat begitu dekat, walaupun hubungannya tidak berlanjut.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 berkumandang, Enden kemudian memutuskan bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API).

Baca Juga:

Menjalin kasih dengan Lettu Bakrie

Dikisahkan kemudian, Enden menjalin tali kasih dengan seorang tentara pejuang sekaligus tetangganya di Cibadak, bernama Lettu Bakrie. Nama Lettu Bakrie sendiri diabadikan menjadi nama jalan di daerah Jl. Lettu Bakrie No.29-41, Nyomplong, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Pada masa perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, Enden turut berjuang bersama pejuang Sukabumi lainnya. Berbekal amunisi botol-botol bom molotov, pada Oktober 1945, dia bersama pejuang lainnya ikut melemparkan molotov kepada pasukan Belanda dari atas perbukitan di sekitar wilayah Parungkuda.

Belanda-pun melakukan aksi balasan dengan membombardir Cibadak dengan pesawat RAF Inggris. Namun, dari peristiwa itu, ia berhasil merampas sepucuk pistol dari seorang tentara Inggris yang tewas. Enden dan pejuang lainnya kemudian memilih mundur ke daerah Nagrak.

Baca Juga: 

Sang ayah dipenjara

Tahun 1946 Enden bergabung dengan Laskar Wanita Indonesia (LASWI), sebuah badan pergerakan dan perjuangan kaum perempuan yang berkontribusi dalam era menegakkan Republik Indonesia. Laswi merupakan organ afiliasi Musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) yang sebelumnya bernama Markas Dewan Pimpinan Perjuangan (MDPP), yang mengkoordinir 61 kesatuan perjuangan di seluruh Jawa Barat.

Laswi dibentuk pada 12 Oktober 1945 oleh Sumarsih Subiyati biasa dipanggil Yati Aruji, istri Arudji Kartawinata, komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Divisi III Jawa Barat yang kelak menjadi Divisi Siliwangi. Anggota Laswi beragam, dari gadis, ibu rumah tangga, hingga janda, umumnya berusia di atas 18 tahun.

Enden Kartiwi bergabung dengan Laskar Wanita Indonesia
Enden Kartiwi bergabung dengan Laskar Wanita Indonesia – Sukabumi Heritages

Selain di LASWI, Enden juga aktif di Biro Perjuangan Daerah (BPD) dan menjabat sebagai Kepala Bagian Wanita.

Ketika Belanda melakukan agresi pada Juli 1947, ayahnya ditangkap Belanda dan dipenjara di van Delden atau Sekolah Polisi Sukabumi. Sedangkan rumah orangtuanya di Nagrak kemudian diduduki Belanda dan dijadikan markas tentara.

Kedua peristiwa tersebut menyulut kemarahan Enden, hingga beberapa kali ia melakukan penyerangan ke markas tentara tersebut. Ia juga sempat berusaha membebaskan sang ayah dari penjara, namun gagal.

Baca Juga: Mengenal Ibu Soed, Wanita Sukabumi Pencipta Lagu Anak dan Berkibarlah Benderaku

Lettu Bakrie tewas

Ketika Perjanjian Renville dilangsungkan antara Indonesia dengan Belanda, semua pasukan diminta hijrah ke Yogyakarta. Lettu Bakrie termasuk yang ikut hijrah bersama pasukan Siliwangi, sementara Enden memilih menunggu dan bergabung dengan Brigade B Divisi Bambu Runcing.

Perjanjian Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Perjanjian ini diadakan untuk menyelesaikan perselisihan atas Perjanjian Linggarjati tahun 1946. Perjanjian ini berisi batas antara wilayah Indonesia dengan Belanda yang disebut Garis Van Mook.

Ketika Lettu Bakrie terus berjuang bersama pejuang di Yogyakarta, di Nagrak dan Cibadak Enden terus bergerilya melawan pasukan Belanda di bawah pimpinan Muhidin Nasution dan B Sukindar.

Kemudian masih pada tahun 1948, Enden mendengar kabar memilukan ihwal tewasnya sang kekasih, Lettu Bakrie. Namun, hal itu justru menjadikan semangat perjuangan gadis ini seperti tersengat. Ia memutuskan untuk terus berjuang sampai tetes darah penghabisan, hingga kemudian memutuskan bergabung dengan Brigade Citarum.

Namun, ketika pasukan Siliwangi kembali ke Sukabumi, Brigade Citarum memilih jalan berbeda sehingga terlibat konflik sesama pejuang. Pada saat pengakuan kedaulatan Indonesia, Enden mundur dari Brigade Citarum dan memilih kembali menjadi rakyat biasa.

Baca Juga: Mengenal Nyai Djuaesih, Pendakwah dan Wanita Pejuang dari Sukabumi

Enden tak pernah menyandang status veteran

Pada 1959, Enden sempat mengajukan status veteran kepada pemerintah, namun karena masih hangatnya konflik dengan Brigade Citarum, permohonannya tersebut ditangguhkan. Sampai meninggalnya pada 1987, Enden tidak pernah mendapatkan status veteran yang diharapkannya, apalagi penghargaan atas jasanya.

Satu hal yang tidak perlu diragukan dari sosok wanita pejuang ini adalah kesetiaan akan cinta sejatinya. Hingga akhir hayatnya, Enden memilih hidup melajang demi menjaga cintanya agar tidak jatuh kepada pria selain almarhum Lettu Bakrie.

Baca tulisan aslinya: Wanita Sukabumi (Part 4): Kartiwi kekasih Lettu Bakrie dari Cibadak, kisah pilu masa perjuangan

Berita Terkait

Menelusuri silsilah KH Ahmad Sanusi: Dari Sukabumi ke Sunan Giri hingga Nabi SAW
Suami dipenjara, tiga madzhab melarang istri gugat cerai
Daftar prangko bertema Sukabumi, dari Geopark Ciletuh hingga KH Ahmad Sanusi
Masjid Al Munawaroh Kadudampit, mengintip detail bangunan bersejarah di Sukabumi
Kisah Umar bin Khattab pecat panglima perang Khalid bin Walid karena tak pernah salah
Tinjauan fiqih memungut uang untuk peringatan HUT RI setiap 17 Agustus
Mengenal penguasa Kesultanan Cirebon keturunan Prabu Siliwangi
8 Agustus Hari Kucing Sedunia, kapan tingkat nasional?

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:15 WIB

Menelusuri silsilah KH Ahmad Sanusi: Dari Sukabumi ke Sunan Giri hingga Nabi SAW

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:38 WIB

Suami dipenjara, tiga madzhab melarang istri gugat cerai

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Daftar prangko bertema Sukabumi, dari Geopark Ciletuh hingga KH Ahmad Sanusi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Masjid Al Munawaroh Kadudampit, mengintip detail bangunan bersejarah di Sukabumi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 01:35 WIB

Kisah Umar bin Khattab pecat panglima perang Khalid bin Walid karena tak pernah salah

Berita Terbaru