Mengenal penguasa Kesultanan Cirebon keturunan Prabu Siliwangi

- Redaksi

Minggu, 9 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kesultanan Cirebon - sukabumiheadline.com

Ilustrasi Kesultanan Cirebon - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Sejak 1479 sampai dengan 1678 Masehi, Cirebon dipimpin oleh 3 Sultan, 4 pangeran dan seorang pejabat pengganti Sultan.

Dikutip dari akun Sejarah Cirebon, pada 1479 hingga 1495 Kesultanan Cirebon diperintah oleh Syarif Hidayatullah yang merupakan Sultan I Cirebon, menjadi penguasa kedua Cirebon setelah Pangeran Cakrabuana.

Sultan yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati atau salah satu dari Wali Sanga, ini merupakan penyebar agama Islam di Nusantara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sunan Gunung Jati atau lebih di kenal sebagai Sayyid Al-Kamil, ini dilahirkan pada 1448 Masehi dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin Sultan Pertama Kesultanan Champa dan Syarifah Mudaim (Nyai Rara Santang), putri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari Kerajaan Padjajaran.

Baca Juga:

Pada masanya, Kerajaan Pajajaran ditaklukan dan kemudian wilayahnya dibagi ke dalam 4 bagian yaitu Pajajaran Barat, Pajajaran Tengah, Pajajaran Timur, dan Jayakarta.

Sunan Gunung Jati wafat pada 19 September 1568, dan dimakamkan di
Astana Gunung Sembung.

Selanjutnya pada 1495 hingga 1555, Kesultanan Cirebon diperintah oleh Pangeran Pasarean, namun ia wafat sebelum dinobatkan. Kemudian, pemerintahan diserahkan kepada Pangeran Dipati Anom Carbon I alias Pangeran Sedang Kemuning.

Namun, Pangeran Sedang Kemuning kemudian wafat sebelum dinobatkan menjadi Sultan. Ia wafat di Demak, sehingga kedudukan kepala pemerintahan pada masa kekosongan ini diwakilkan kepada pejabat pengganti Sultan, yakni Fatahillah.

Baca Juga:

Hingga pada 1552 sampai 1568, Kesultanan Cirebon tidak memiliki Sultan, sehingga negara diambil alih oleh pejabat pengganti Sultan. Keputusan tersebut diambil mengingat pewaris tahta dalam masa kekosongan ini wafat sebelum dinobatkan sementara pewaris tahta lain masih belum dewasa.

Karenanya, pada 1568 sampai 1649, Kesultanan Cirebon diperintah oleh Sultan II Cirebon yang bergelar Panembahan Ratu atau disebut juga Pangeran Agung yang merupakan anak dari Pangeran Sedang Kemuning atau Dipati Anom Carbon 1.

Lalu pada 1649, Kesultanan Cirebon diperintah oleh Pangeran Sedang Gayam atau angeran Dipati Anom Carbon II. Akan tetapi, ia juga wafat sebelum dinobatkan.

Baca Juga:

Selanjutnya, sejak 1649 hingg 1662, Cirebon diperintah oleh Sultan III, yaitu Panembahan Girilaya atau juga disebut Pangeran Putera. Ia merupakan anak Pangeran Dipati Sedang Gayam. Ia kemudian wafat, dan dimakamkan di Giri Malaya.

Pada 1662-1678, Kesultanan Cirebon kembali mengalami kekosongan kekuasaan selama 16 tahun. Pada masa ini Cirebon dalam kendali tarik ulur Mataram dan Banten.

Hingga tepat pada 1678 Kesultanan Cirebon terpecah menjadi 2 Kerajaan dan 1 Panembahan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman ditambah lagi Panembahan Kacirebonan yang diperintah pangeran Wangsakerta.

Berita Terkait

Mengenal agama Suku Sunda
Kampanye hemat air, AMDK Organic Spring Australia sertakan hadits Nabi SAW di tag
Mengenal komunitas Muslim Cham, fans Timnas Indonesia tidak shalat dan puasa
Ustadz Zaidul Akbar: Suami dungu yang serahkan semua gajinya ke istri
Daftar Muslimah perawat korban perang, public health nurse dan social worker era Nabi SAW
Menelusuri silsilah KH Ahmad Sanusi: Dari Sukabumi ke Sunan Giri hingga Nabi SAW
Suami dipenjara, tiga madzhab melarang istri gugat cerai
Daftar prangko bertema Sukabumi, dari Geopark Ciletuh hingga KH Ahmad Sanusi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Mengenal agama Suku Sunda

Kamis, 27 Agustus 2026 - 03:09 WIB

Kampanye hemat air, AMDK Organic Spring Australia sertakan hadits Nabi SAW di tag

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:01 WIB

Mengenal komunitas Muslim Cham, fans Timnas Indonesia tidak shalat dan puasa

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Ustadz Zaidul Akbar: Suami dungu yang serahkan semua gajinya ke istri

Selasa, 25 Agustus 2026 - 03:12 WIB

Daftar Muslimah perawat korban perang, public health nurse dan social worker era Nabi SAW

Berita Terbaru

Ilustrasi guru sedang mengajar di kelas - sukabumiheadline.com

Sukabumi

PPPK Kabupaten Sukabumi tolak tes ulang dan batas usia 35 tahun

Minggu, 30 Agu 2026 - 19:02 WIB

Ilustrasi perempuan sedang duduk di dalam bus - sukabumiheadline.com

Tak Berkategori

Armada dan rute Sukabumi – Bandara Husein Sastranegara Bandung

Minggu, 30 Agu 2026 - 04:42 WIB