Membedakan Punk dengan Gembel di Kota Sukabumi

- Redaksi

Kamis, 28 Oktober 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komunitas Punk. l Istimewa

Komunitas Punk. l Istimewa

sukabumiheadline.com I CIKOLE – Kelahiran Punk diinisiasi anak-anak kelas pekerja London, dan dengan mudah merambah AS yang saat itu tengah mengalami krisis ekonomi dan keuangan akibat kemerosotan moral para elite politik sehingga memicu pengangguran dan kriminalitas.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan keyakinan we can do it ourselves. Cara pandang Punk terhadap kondisi tertentu dapat dilihat melalui lirik-lirik lagu yang bercerita tentang politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial, hingga masalah agama.

Banyak yang menyalahartikan Punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra Punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal, tetapi itu hanyalah bersifat kasuitis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lazimnya, masyarakat mengenali Punk dari fashion atau potongan rambut Mohawk (simbol perlawanan terhadap penindasan) mirip suku Indian di AS, atau dipotong ala feathercut dan diberi warna-warna terang. Mereka juga melengkapi diri dengan sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh.

Pada saat terjadi krisis ekonomi di Inggris dan AS, banyak politisi dan pejabat tampil perlente dengan uang hasil korupsi. Nah, Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui penampilan dengan busana belel (tetapi hasil kerja keras sendiri), melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Soal musik, Punk relatif tidak terlalu memperhatikan harmoni, mereka lebih mengedepankan lirik-lirik yang bernada protes terhadap ketimpangan dan penindasan.

Punk di Kota Sukabumi

Di Kota Sukabumi, cukup banyak yang berdandan ala Punk, meskipun belum tentu seorang Punk. Ilham Maulana (18) dan Dede Rizal (20), mereka adalah dua dari banyak anak muda yang mengeklaim sebagai punk di Kota Sukabumi.

Ilham dan Dede sering beraktivitas di Jl A. Yani, Kelurahan Kebonjati, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.

Rasa malu mereka kesampingkan demi menutupi kebutuhannya sehari-hari. Setiap dari jam 07.00 WIB sampai dengan kurang lebih jam 10.00 WIB mereka mecari rezeki dengan cara mengamen dari angkot ke angkot, atau ruko ke ruko.

“Iya jadi setiap hari kami selalu ngamen, tapi anak punk itu ngamen gak dijadiin kerjaan, cuma untuk nyambung hidup aja,” ujar Ilham atau biasa dipanggil Acil kepada sukabumiheadline.com, Ahad (24/10/2021).

Remaja yang mengaku berasal dari Indramayu, Jawa Barat, ini sempat mengenyam bangku pendidikan sampai kelas 2 SMP.

“Pernah sekolah sampai kelas dua SMP, cuma karena ada tekanan dari keluarga, saya memilih keluar dari sekolah. Dan memang saya senang menjadi anak Punk,” tambahnya.

Sedangkan Dede, remaja asli Sukabumi. Ia memilih menjadi anak Punk karena diajak temannya menjadi pengamen jalanan.

“Dulu saya sekolah di-drop out (DO) pas kelas 2 SMP terus memilih mengamen karena biar gak jadi beban orang tua. Karena ngamen bareng anak Punk, akhirnya saya ikutan komunitas mereka,” ungkapnya.

Penghasilan mereka dari hasil setiap mengamen tidak tentu, kadang Rp15rb-Rp 30rb per hari. Penghasilan sebesar itu mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhanya seperti membeli rokok, makan hingga ditabung untuk event-event komunitas.

Membedakan Punk dengan Gembel

Karena Punk dari sisi penampilan tidak lazim dan cenderung berantakan, tidak heran jika banyak masyarakat tidak bisa membedakan antara Punk dengan gembel.

Karenanya, tidak selalu yang berdandan ala Punk, adalah Punk. Cara paling mudah membedakannya, adalah Punk itu mandiri secara ekonomi. Mereka memenuhi kebutuhannya sendiri dengan cara mengeksplorasi semua peluang dan potensi di sekitar komunitas mereka.

Punk juga tidak suka melakukan aksi kriminal untuk sekadar bertahan hidup. Meskipun, dalam beberapa kasus, ada unsur kekerasan ketika mereka menyuarakan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi, hukum dan politik.

Psikolog asal Rusia, Pavel Semenov, mengatakan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Maka Punk mulai mengembangkan proyek “jor-joran” yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan mereka. Dengan kata lain Punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Berbekal etika DIY, beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.

CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga terjangkau.

Sehingga di dalam kerangka filosofi Punk, distro bisa dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan brand-brand luar negeri.

Berita Terkait

Sepak terjang Andrie Yunus, Pembela HAM alumni SMAN 1 Cicurug Sukabumi disiram air keras
BPS: Warga Kabupaten Sukabumi hanya belanjakan Rp41 ribu untuk pakaian per orang
Penduduk Sukabumi bertambah 23,3 ribu jiwa pada 2026, kota naik 4,9 ribu
Update jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota di Jawa Barat, Bogor terbanyak
Menghitung belanja hibah Pemkab Sukabumi, naik jelang Pilkada 2024 lalu turun lagi
5 target ambisius Rp815 M Pemkab Sukabumi di tengah defisit APBD, apa kata BPKP?
Fungsi, manfaat dan tips berkendara aman di Jalan Lingkar Selatan Sukabumi
Indeks Daya Saing Daerah Sukabumi jeblok meski punya jalan tol

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 00:32 WIB

Sepak terjang Andrie Yunus, Pembela HAM alumni SMAN 1 Cicurug Sukabumi disiram air keras

Kamis, 19 Maret 2026 - 00:40 WIB

BPS: Warga Kabupaten Sukabumi hanya belanjakan Rp41 ribu untuk pakaian per orang

Senin, 16 Maret 2026 - 23:43 WIB

Penduduk Sukabumi bertambah 23,3 ribu jiwa pada 2026, kota naik 4,9 ribu

Senin, 16 Maret 2026 - 01:07 WIB

Update jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota di Jawa Barat, Bogor terbanyak

Sabtu, 14 Maret 2026 - 04:21 WIB

Menghitung belanja hibah Pemkab Sukabumi, naik jelang Pilkada 2024 lalu turun lagi

Berita Terbaru

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi liburkan angkot di Sukabumi - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Jawa Barat

Angkot di Sukabumi diliburkan Pemprov, dapat kompensasi Rp200 ribu

Minggu, 22 Mar 2026 - 11:30 WIB

Suzuki XBee 2026 - Suzuki

Otomotif

Suzuki XBee, mobil buat Gen Z desain stylish dan super irit BBM

Minggu, 22 Mar 2026 - 09:10 WIB