sukabumiheadline.com – Generasi Z (Gen Z) adalah kelompok demografis yang lahir antara tahun 1997-2012, atau saat ini menginjak usia 14 hingga 29 tahun. Mereka adalah generasi yang tumbuh besar di era digital, dan sangat akrab dengan teknologi (digital native).
Di Indonesia, mereka berjumlah besar (27,94% penduduk) dan dikenal kritis, menghargai keberagaman, peduli isu sosial-lingkungan, serta ekspresif dalam kesehatan mental.
Gen Z seringkali dinilai “sulit diatur” oleh generasi sebelumnya karena pola pikir yang berbeda. Sebagai generasi yang lahir setelah Milenial, Gen Z sering disebut sebagai generasi yang bakal merombak pasar tenaga kerja dan budaya digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jumlah Gen Z di Sukabumi
Dikutip sukabumiheadline.com dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, Rabu (6/5/2026), jumlah Gen Z Sukabumi yang berusia 14 sekira 44.189 jiwa. Sedangkan, yang berusia 15–19 sebanding 229.902 jiwa.
Sementara itu, Gen Z Sukabumi yang berusia 20–24 ada 236.135 jiwa, dan yang masuk kelompok usia 25–29 tahun sebanyak 235.316 jiwa. Dengan demikian total populasi Gen Z Sukabumi sebanyak 745.542 jiwa.
Jumlah tersebut mencapai 21,26 persen dari total penduduk Kabupaten Sukabumi yang sebanyak 2.852.107 jiwa. Sekaligus kelompok masyarakat terbanyak menurut kelompok usia.
Yang paling ditakutkan Gen Z Sukabumi 10 tahun ke depan
Albian Jaelani Putra (19) mengaku takut kalah dalam bersaing menghadapi masa depan. Terkait lowongan pekerjaan, ia mengaku yakin akan selalu tersedia meskipun pasti berbeda dengan kondisi saat ini.
“Saya takutnya gak mampu atau kalah bersaing, kalau misal harus bersaing dengan orang lain untuk mendapatkan pekerjaan,” kata remaja yang baru lulus SMA itu kepada sukabumiheadline.com di Kedai Sukakopi, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (6/5/2026).
“Saya percaya, lowongan pekerjaan pasti selalu ada, tapi takutnya saya tereliminasi dari persaingan, karena tidak memiliki kompetensi di atas para pesaing saya nanti,” lanjut Albian.
Sementara itu dihubungi terpisah, Nazla Fauziah mengaku mengkhawatirkan masa depannya dalam 10 tahun ke depan tidak sesuai dengan ekspektasinya saat ini.
“Aku takut kalau misal 10 tahun lagi hidup aku gak berkembang, atau gini-gini aja. Pengennya lebih terarah dan mengerti mau ke mana arahnya hidup ini,” kata dia.
Nazla mengaku sudah merancang banyak plan ke depan, namun ia menyadari persaingan pasti tidak mudah.
“Banyak plan ke depannya. Ada perasaan takut kalah sih iya, tapi masa iya sih harus kalah sebelum bersaing. Jadi, mau dihadapi aja dan berusaha keras,” pungkasnya.
“Aku bukan takut kalah, jadi lebih takut kalau aku harus menyerah di tengah jalan, karena selama masih hidup berarti pasti selalu ada jalannya. Mau sesulit apapun,” pungkasnya.
Karakteristik Gen Z

Gen Z merupakan kelompok usia yang memiliki kemampuan penguasaan bidang digital yang baik, atau digital native. Mereka tumbuh bersama internet dan media sosial sejak usia muda, menjadikan teknologi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Gen Z dikenal mampu cepat belajar dan terbiasa mencari informasi mandiri, namun cenderung kurang sabar karena terbiasa dengan kecepatan teknologi. Di sisi lain, mereka sangat terbuka mengenai isu kesehatan mental (depresi, kecemasan) dan peduli pada keadilan serta perbedaan.
Meskipun memiliki kekhawatiran lebih akan ada depan, namun Gen Z dikenal fleksibilitas dalam memilih karier. Mereka juga lebih menyukai karir non-linier seperti freelancer, portfolio worker, atau mengejar ambisi yang tidak melulu soal jabatan struktural.
Soal konsumen konten media sosial, mereka menyukai konten video pendek, transparansi, dan otentisitas.
Namun, Gen Z tumbuh di tengah krisis (pandemi, ekonomi), yang berdampak pada ketahanan mental mereka yang juga dipengaruhi faktor internal keluarga.
Sisi baiknya, Gen Z cenderung adaptif, mudah menciptakan bahasa gaul baru sebagai ekspresi diri.









