Memahami tren grey divorce, pemicu dan dampak perceraian abu-abu

- Redaksi

Sabtu, 17 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tren grey divorce atau perceraian abu-abu - sukabumiheadline.com

Ilustrasi tren grey divorce atau perceraian abu-abu - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Jika pada zaman dahulu, pasangan suami istri berpisah pada usia lanjut lebih dipicu faktor kesehatan yang membuat salah satunya meninggal dunia, kini perpisahan di antara orang paruh baya banyak didasarkan oleh faktor perceraian.

Perceraian pada pasangan usia lanjut, khususnya di antara mereka yang berusia 50 tahun ke atas, kian menjadi tren yang umum dijumpai. Fenomena itu dikenal dengan istilah grey divorce, atau perceraian abu-abu. Ada pula yang menyebutnya twilight divorce hingga silver separation.

Penamaan grey divorce sendiri dapat dimaknai sebagai gabungan dari kata divorce yang berarti perceraian; dan warna grey atau abu-abu yang merujuk pada rambut uban di kalangan orang lanjut usia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meningkatnya fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara dengan angka perceraian tertinggi, tetapi dilaporkan pula terjadi di negara lain, seperti di Korea Selatan yang dikenal dengan istilah hwang-hon atau di Jepang yang disebut dengan jukunen-rikon.

Di Indonesia sendiri, fenomena grey divorce juga dialami oleh sejumlah selebritas atau publik figur. Misalnya, pasangan Andre Taulany dengan Rien Wartia Trigina yang bercerai setelah 20 tahun bersama, hingga mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan Atalia Praratya yang tengah menunggu ketuk palu perceraian usai 29 tahun bersama.

Istilah grey divorce sendiri pertama kali muncul dalam literatur akademis oleh Sosiolog Susan L. Brown dan I-Fen Lin (2012) untuk menggambarkan perceraian di kalangan usia 50 tahun ke atas yang meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2010.

Pemicu grey divorce

Kecenderungan meningkatnya pasangan berusia lanjut untuk mengakhiri pernikahan panjang mereka bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk perubahan paradigma masyarakat yang telah bergeser seiring laju modernitas.

Baca Juga :  Sukabumi dan Jabar dapat apa saja? Ini daftar 50 PSN era Prabowo, segera dibangun

Mengutip American Psychological Association, beberapa faktor tersebut di antaranya berkembangnya makna pernikahan, di mana saat ini semakin banyak pria maupun wanita menaruh harapan lebih besar pada kualitas pernikahan, termasuk menjadi mitra yang setara di dalam institusi pernikahan itu sendiri.

Grey divorce bisa didasari pula oleh faktor meningkatnya harapan hidup masyarakat dunia yang membuat umur manusia saat ini lebih panjang dibandingkan era sebelumnya. Untuk itu, peluang menghadapi perceraian menjadi lebih besar karena kemungkinan menjadi janda atau duda pada usia tertentu kini semakin kecil.

Faktor lainnya ialah menurunnya stigma tentang perceraian di masyarakat saat ini sehingga tekanan sosial untuk bertahan dalam pernikahan yang dianggap hampa atau sekadar formalitas pun menurun, berbeda dengan zaman dahulu yang seakan menganggap perceraian sebagai aib buruk.

Selain itu, grey divorce bisa dilatari oleh faktor perempuan masa kini yang lebih cenderung memiliki karier dan kemandirian finansial, yang membuat perceraian lebih mudah dilakukan ketika pernikahan dianggap tidak memuaskan.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada peningkatan perceraian abu-abu meliputi:

  • Harapan hidup yang lebih panjang: Orang hidup lebih lama, sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk merasa tidak puas dalam suatu hubungan.
  • Perempuan yang lebih mandiri secara finansial: Perempuan memiliki lebih banyak kesempatan karir dan lebih mampu menghidupi diri mereka sendiri setelah perceraian.
  • Stigma yang berkurang tentang perceraian: Perceraian menjadi lebih diterima secara sosial, terutama pada usia lanjut.
  • Perubahan prioritas: Orang mungkin mengevaluasi kembali prioritas mereka saat mereka menua dan menyadari bahwa mereka ingin hal yang berbeda dari hubungan mereka.
  • Anak-anak yang sudah dewasa: Ketika anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan rumah, pasangan mungkin merasa kurang terikat satu sama lain.

Dampak perceraian abu-abu 

Perceraian merupakan peristiwa yang sangat berat di usia berapa pun, karena termasuk salah satu pemicu stres terdalam dalam hidup. Perceraian pada usia lanjut tetap dapat membebani sekalipun anak-anak mereka sudah beranjak dewasa ketika orang tuanya memutuskan bercerai.

Baca Juga :  RI baru rencana, intip kesibukan Bandara Cikembar Sukabumi dibangun Belanda pada 1922

Menurut psikoterapis asal California Carol Hughes, seperti dilansir BBC, perceraian dalam beberapa kasus dapat mengguncang pemahaman anak yang sudah dewasa tentang kisah hidup keluarganya, termasuk mempertanyakan identitas dan harga diri mereka, hingga mempengaruhi keputusan mereka dalam mengakhiri hubungan berpasangan.

Selain itu, anak-anak yang sudah dewasa bisa merasa berkewajiban membantu orang tua yang mereka anggap dirugikan dalam perceraian tersebut, misalnya dengan memihak kepada salah satu orang tua, memberi dukungan emosional dan sosial, hingga saran hukum.

Adapun profesor sosiologi di Kutztown University of Pennsyvania, Joleen Greenwood mengatakan bahwa perceraian di usia lanjut juga berpotensi memengaruhi hubungan orang tua dengan saudara kandung dan anggota keluarga besar, hari libur atau ritual yang menjadi kebiasaan keluarga, hingga merembet ke hubungan asmara anak-anak mereka yang sudah dewasa.

Masalah besar lainnya setelah perceraian di usia lanjut ialah kemungkinan menghadapi persoalan terkait hak warisan dan penentuan siapa yang berstatus sebagai kerabat terdekat, terutama menyangkut hak dalam pengambilan keputusan medis di kemudian hari bila kondisi kedaruratan terjadi.

Meski demikian, beberapa hubungan orang tua dengan anak yang telah dewasa sama sekali tidak terpengaruh secara negatif terhadap grey divorce. Beberapa di antaranya bahkan mungkin mendukungnya karena merasa lega orang tua mereka akhirnya bercerai setelah seringkali terjadi konflik dan pertengkaran ketika mereka tumbuh dewasa.

Perceraian abu-abu juga sering kali memiliki implikasi finansial yang signifikan, terutama untuk wanita yang mungkin telah mengandalkan penghasilan suaminya. Ini juga bisa menjadi pengalaman yang emosional dan sulit, terutama setelah bertahun-tahun bersama.

Berita Terkait

Peran ayah meningkat hingga hybrid parenting jadi tren 2026 di kalangan orang tua
Tren baru penampilan perempuan 2026: Busana, rambut, warna hingga aksesoris
5 tren warna lipstik 2026: Antara volume, ekspresif dan hasil akhir
Tampil modern dan penuh gaya dengan 5+4 model rambut sebahu wanita tren 2026
11 tren aksesoris 2026, dari perhiasan pinggang hingga jepit rambut
Tahun baru ngantor dengan busana ala wanita Rusia yang anggun: Warna, bahan, aksesoris
Tren gamis brokat 2026: Warna, model, bahan hingga detail dan produk populer
5 model rambut pendek wanita tren 2026: Dari Y2K hingga retro yang low-maintenance

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 16:15 WIB

Memahami tren grey divorce, pemicu dan dampak perceraian abu-abu

Sabtu, 17 Januari 2026 - 00:44 WIB

Peran ayah meningkat hingga hybrid parenting jadi tren 2026 di kalangan orang tua

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:23 WIB

Tren baru penampilan perempuan 2026: Busana, rambut, warna hingga aksesoris

Selasa, 13 Januari 2026 - 00:14 WIB

5 tren warna lipstik 2026: Antara volume, ekspresif dan hasil akhir

Minggu, 4 Januari 2026 - 21:00 WIB

Tampil modern dan penuh gaya dengan 5+4 model rambut sebahu wanita tren 2026

Berita Terbaru

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sukabumi: Raperda PPT PKSDA dan evaluasi APBD 2026 - Setwan DPRD Kabupaten Sukabumi

Legislatif

DPRD Kabupaten Sukabumi gelar Raker bareng OPD

Sabtu, 17 Jan 2026 - 15:23 WIB

Sup Telur dan Tomat - Ist

Kuliner

5+3 olahan telur yang menyehatkan dan gak membosankan

Sabtu, 17 Jan 2026 - 04:05 WIB