Catatan singkat tentang SKI Sukabumi didirikan R. Dewi Sartika

- Redaksi

Selasa, 28 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

R. Dewi Sartika - Ilustrasi sukabumiheadline.com

R. Dewi Sartika - Ilustrasi sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional yang berjasa dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan dan kesetaraan gender khususnya di Tatar Pasundan. Salah satu jasanya, adalah mendirikan Sakola Istri pada 16 Januari 1904.

Namun, nama sekolah ini kemudian berubah menjadi Sakola Keutamaan Istri, dan memiliki cabang di beberapa wilayah Jawa Barat, antara lain Sumedang, Cianjur, Tasikmalaya, Garut, dan Purwakarta hingga Sukabumi.

SKI Sukabumi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut artikel di website Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten, Sakola Kaoetamaan Istri (SKI) di Sukabumi adalah cabang dari sekolah perempuan pertama di Jawa Barat yang didirikan oleh Raden Dewi Sartika.

SKI Sukabumi berdiri sekira 1910-an, bertujuan mendidik perempuan pribumi membaca, menulis, berhitung, dan keterampilan rumah tangga. Sekolah ini merupakan simbol emansipasi untuk mengangkat martabat kaum perempuan.

Awalnya, SKI bernama Sakola Istri yang didirikan pada 16 Januari 1904 di Bandung, kemudian berkembang menjadi Sakola Kaoetamaan Istri pada 1910.

Karena pesatnya perkembangan, cabang sekolah ini didirikan di berbagai kota di Tatar Sunda, termasuk Sukabumi. Materi yang diajarkan meliputi membaca, menulis, berhitung, memasak, menjahit, merenda, dan keterampilan rumah tangga lainnya.

Pada 1929, namanya diubah menjadi Sekolah Raden Dewi, dan kemudian pada masa Jepang menjadi Sekolah Rakyat Gadis No. 29.

Sakola Kaoetamaan Istri di berbagai daerah, termasuk Sukabumi, memiliki peran penting dalam mendobrak adat lama yang meminggirkan pendidikan kaum wanita pada masa kolonial.

Meskipun bangunannya sederhana dengan dinding bambu, jumlah murid terus meningkat, begitu pula dengan tenaga pengajar yang harus ditambah.

Seiring dengan itu, Sakola Istri mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada 5 November 1910, didirikan Perkumpulan Kautaman Istri oleh Residen Priangan WFI Boissevain, guna mendukung pengembangan sekolah perempuan rintisan Dewi Sartika agar lebih maju.

Pada 1913, Sakola Kautamaan Istri tercatat sebagai sekolah paling besar dan maju, dengan jumlah murid yang terus meningkat, bahkan siswanya ada yang berasal dari luar pulau Jawa. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar dan meningkatkan kurikulum, Dewi Sartika berupaya mendapatkan guru-guru yang memiliki keahlian masing-masing di bidangnya.

Untuk pelajaran menjahit dan memasak, Dewi Sartika sendiri yang mengajar. Pada 1916, Dewi Sartika khusus belajar membatik di Kendal, Jawa Tengah, kepada RA Kardinah, adik kandung RA Kartini.

Dewi Sartika bahkan mendatangkan orang asing yang dibutuhkan. Misalnya mengundang seorang guru berkebangsaan Belanda untuk pelajaran bahasa Belanda, dan mendatangkan pengajar dari Rumah Sakit Immanuel untuk mengajarkan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Usaha Dewi Sartika memperjuangkan pendidikan bagi perempuan mendapat apresiasi dari Pemerintah Hindia Belanda, yang memberikan penghargaan Bintang Perak pada 1922. Pada 1929, Sakola Kautamaan Istri diubah namanya menjadi Sakola Raden Dewi.

Satu dekade kemudian, Dewi Sartika kembali mendapatkan penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda, yakni Bintang Emas, sekaligus diberikan bangunan baru.

Di setiap perjuangan Dewi Sartika, terdapat sosok suami bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata, yang merupakan seorang guru di Eerste Klasse School. Dalam mengembangkan sekolah yang dirintisnya, Dewi Sartika mendapat banyak bimbingan dari Raden Agah, yang meninggal secara mendadak pada 1939.

Sayangnya, pada masa pendudukan Jepang yang dimulai pada 1942, terdapat kebijakan yang sangat drastis. Jepang mengeluarkan peraturan semua sekolah dasar dijadikan satu jenis, yaitu Sekolah Rakyat dan Sakolah Raden Dewi menjadi Sekolah Gadis No. 29.

Pada masa pendudukan Jepang, kesehatan Dewi Sartika berangsur menurun.

Peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946 mendorong warga Kota Bandung untuk mengungsi, tidak terkecuali Dewi Sartika. Ia beserta keluarganya mencari perlindungan di daerah Ciparay, Bandung Selatan, sebelum akhirnya pindah ke Garut.

Sekitar Mei 1947, mereka pindah ke Desa Cineam, yang berbatasan dengan Tasikmalaya dan Ciamis.

Perjalanan mereka dari Garut ke Desa Cineam sangat berat, menempuh perjalanan kaki melintasi desa-desa, perkebunan, dan sawah, dan masih harus menghindari patroli Belanda, sekaligus serangan oleh kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang aktif di daerah tersebut.

Masa-masa sulit itu membuat kesehatan Dewi Sartika memburuk hingga harus dirawat di Rumah Sakit Cineam, di bawah pengawasan dr. Sanitioso.

Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947, dalam usia 63 tahun. Dewi Sartika meninggal karena sakit dan dimakamkan di Desa Cineam.

Pada 1950, makam Dewi Sartika dipindahkan ke Kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung, sesuai keinginannya untuk dimakamkan di dekat suaminya.

Dewi Sartika merupakan tokoh perintis pejuang emansipasi perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan. Oleh sebab itu, tidak heran apabila Dewi Sartika disebut pahlawan perintis pendidikan perempuan di Indonesia.

Atas jasa dan peran Dewi Sartika bagi Indonesia, Pemerintah RI memberikan gelar pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden No. 252 tanggal 1 Desember 1966. Baca selengkapnya: Dewi Sartika: Pahlawan pendidikan dari Tatar Pasundan hingga dirikan Sakola Kautamaan Istri di Sukabumi

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB