sukabumiheadline.com – Gaya hidup digital yang semakin membuat antar individu terkoneksi dan serba cepat, generasi muda kembali jadi sorotan. Sebuah studi Yale yang dilakukan pada 2025 menemukan adanya peningkatan signifikan pada laporan gangguan kognitif pada kelompok usia muda, khususnya Gen Z.
Kondisi ini tidak dikategorikan sebagai demensia, tetapi lebih pada keluhan subjektif seperti sulit fokus, mudah lupa, dan kesulitan mengambil keputusan dalam aktivitas sehari-hari. Fenomena ini dikaitkan dengan istilah populer “brainrot”, sebuah kondisi ketika otak terasa lelah akibat konsumsi informasi digital berlebihan.
Brainrot bukan istilah medis, ini adalah tren yang muncul dalam data penelitian membuat banyak ahli mulai menaruh perhatian serius pada dampaknya terhadap gaya hidup generasi muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa yang membuat Gen Z Sukabumi kehilangan fokus?
Dari wawancara dilakukan, redaksi menemukan dua fakta berbeda. Tiga Gen Z Sukabumi dari latar belakang berbeda mengungkap fakta berbeda bahwa semakin dewasa, permasalahan yang dihadapi kian kompleks dan memicu stres. Sehingga, butuh upaya khusus untuk me-refresh agar kembali fokus.
Septiani Noed Fazrin, gadis asal Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu mengaku faktor pekerjaan lebih banyak membuatnya stres hingga kehilangan fokus.
“Kalau aku lebih banyak faktor kerjaan atau teman-teman di tempat kerja. Digosipin atau diomongin teman kerja di belakang, itu bikin kita jengkel dan kehilangan fokus. Marah karena terjadi berulang-ulang, tapi gak bisa ngapa-ngapain juga. Cuma kepikiran terus kan,” kata gadis 22 tahun itu kepada sukabumiheadline.com di Kedai Sukakopi, Parungkuda, Senin (18/5/2026).
“Faktor keluarga juga ada, tapi pengaruh gak sebesar dari tempat kerja,” imbuhnya.
Diakuinya, konten-konten di media sosial termasuk yang sering membuat kadar stresnya bertambah.
“Ya, konten media sosial juga. Isu politik, ekonomi, atau konten orang yang kita benci gitu, itu bikin nambah. Cuma memang ada plus minusnya ya, karena yang (konten) menghibur juga banyak,” papar dia.
Menurut Septiani, salah satu cara terbaik dia menghilangkan stres ada nongkrong atau jalan-jalan ke tempat wisata agar kembali fokus ke pekerjaan atau target.
“Sejauh ini yang efektif ngilangin stres cuma nongkrong sih. Terlebih kalau penyakit teman ngobrol yang nyambung. Efektif banget buat refresh otak ya,” jelasnya.
“Soalnya aku juga lebih suka memendam masalah dibanding mencurahkannya. Suka kepikiran gitu. Gak mau terlalu banyak pikiran, karena ingin fokus ke masa depan, menabung, atau apa,” lanjut Septiani.
Selain itu faktor pacar, kata dia, bisa juga memicu stres dan kehilangan fokus. “Kalau pacar kita nyambung, bisa diajak diskusi, itu penting dan beda. Bisa jadi pereda stres,” akunya.
Sementara itu, Muhammad Rizky Akbar juga menyebut dua faktor, internal dan eksternal. Pemuda asal Kecamatan Cidahu itu mengungkap dua faktor tersebut sering memicu dirinya kehilangan fokus.
“Kalau dari internal, pribadi atau keluarga, lebih banyak karena dari faktor keluarga sih. Kalau dari eksternal biasanya karena pekerjaan,” kata pria 21 itu kepada sukabumiheadline.com di Kedai Sukakopi, Parungkuda, Senin (18/5/2026).
Senada dengan Septiani, Akbar mengaku lebih sering memendam persoalan yang membuatnya stres, ketimbang mencurahkan unek-uneknya kepada teman atau keluarga.
Dalam kondisi ekonomi seperti saat ini, dan gaji UMK yang ia peroleh dari bekerja, ia mengaku tidak pede untuk menikah. Karenanya, ia mengaku hanya ingin fokus ke planning yang ia tentukan dalam beberapa tahun ke depan.
“Kalau saat ini, gak pede. Pasti gaji gak akan cukup. Lagian saya hanya ingin fokus ke target, minimal usia 30 harus sudah punya rumah, sebelum menikah,” ungkap Akbar.
“Jadi sebisa mungkin menghindari stres, karena takut gak fokus kerja dan kejar target punya rumah,” imbuhnya.
Berbeda dengan Septiani dan Akbar, Albar Muhdi Prasojo mengalami masalah yang sama, namun dipicu hal lebih sederhana. Mahasiswa semester 4 itu kerap kehilangan fokus karena faktor internal pribadinya.
“Saya kehilangan fokus biasanya pagi-pagi aja sih. Setelah itu saya bisa kembali fokus, apalagi kalau urusan kuliah,” singkatnya.
Kekeliruan cara berpikir
Adam de Havenon, peneliti dari Yale School of Medicine, menjelaskan bahwa temuan ini harus dipahami secara hati-hati. Ia juga menegaskan bahwa kondisi ini bukan diagnosis gangguan otak klinis.
“Masalah pada memori dan cara berpikir telah muncul sebagai salah satu masalah kesehatan utama yang dilaporkan orang dewasa di Amerika Serikat,” ujannya, sebagaimana dikutip dari Inc.
“Ini bukan diagnosis demensia atau bahkan gangguan kognitif. Ini adalah laporan subjektif dari orang-orang yang merasa mengalami kesulitan serius dalam berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan.”
Data studi menunjukkan kelompok usia 18–34 tahun mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dalam laporan kesulitan kognitif selama satu dekade terakhir. Dari 5,1 persen pada 2013 menjadi 9,7 persen pada 2023, angka ini menjadi yang paling mencolok dibanding kelompok usia lainnya.
Para peneliti menilai bahwa perubahan gaya hidup digital sangat mungkin berperan. Paparan layar yang tinggi, kebiasaan multitasking, hingga konsumsi informasi cepat dari media sosial diduga ikut memengaruhi kemampuan fokus jangka panjang.
Dalam pandangan lain, neuroscientist Jared Cooney Horvath juga menyoroti perubahan ini dalam konteks yang lebih luas.
”Selama dua dekade terakhir, perkembangan kognitif anak-anak di banyak negara maju cenderung melambat, dan dalam banyak aspek justru mengalami kemunduran,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa kebijakan yang terlalu cepat mendorong adopsi teknologi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Meski belum ada kesimpulan bahwa teknologi adalah penyebab utama, banyak pihak mulai mengaitkan fenomena ini dengan gaya hidup modern.
Kebiasaan scroll tanpa henti, notifikasi yang terus-menerus, hingga tekanan untuk selalu “online” dianggap bisa mengganggu kemampuan otak untuk beristirahat. Di sisi lain, kondisi ini juga membuka diskusi baru tentang keseimbangan hidup di era digital.
Banyak pakar menyarankan pentingnya digital detox, yaitu mengurangi konsumsi konten berlebihan, serta membangun kembali kebiasaan fokus seperti membaca panjang atau aktivitas offline.









