sukabumiheadline.com – Jika sebelumnya perhatian publik tersedot ke pandemi dan penyakit populer seperti dengue atau COVID-19, ada satu ancaman kesehatan yang nyaris tak terdengar, namun berpotensi mematikan yaitu Hanta Virus.
Virus Hanta atau Hanta Virus, adalah kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat (tikus) dan dapat menyebabkan penyakit serius seperti Sindrom Paru Hantavirus (HPS) dan Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal (HFRS).
Ia tidak menyebar dari manusia ke manusia seperti influenza. Ia tidak menimbulkan wabah besar yang langsung mencuri perhatian media. Tetapi justru karena itu, hantavirus menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak perlahan di balik bayangan lingkungan kita sendiri. Dan yang lebih mengkhawatirkan: Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penularan ke manusia umumnya melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi, baik secara langsung maupun melalui partikel udara (aerosol).
Dikutip sukabumiheadline.com dari artikel KD Puspa, FD Hanifah, DF Mogsa, M Karyana dari Adminkes Tim Kerja Kebijakan dan Strategi Penanggulangan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan, Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan BKPK Kemenkes, virus ini tidak dapat dikendalikan dengan obat atau vaksin yang tersedia secara luas, dan penularan antar manusia sangat jarang terjadi, kecuali untuk jenis virus Andes.
Bukan cerita baru jadi ancaman yang tidak terlihat
Banyak orang mengira Hanta Virus adalah penyakit langka dari luar negeri. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak 1980-an.
“Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6%. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis,” katanya, dikutip Senin (11/5/2026).
Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34%. Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.
Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, Hanta Virus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.
Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis.
“Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali,” jelas mereka.
Fenomena ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara kasus sebenarnya jauh lebih besar di bawah permukaan.
Hanta Virus bukan ditularkan oleh nyamuk, bukan pula melalui makanan secara langsung. Ia menyebar melalui sesuatu yang sering kita anggap sepele melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus.
Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi. Dalam pedoman nasional disebutkan bahwa penularan terutama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia. Dengan kata lain, seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.
Dua wajah mematikan
Hanta Virus tidak hanya satu jenis penyakit. Ia memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Banyak terjadi di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, gagal ginjal
Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Lebih sering ditemukan di Amerika, menyerang paru-paru dengan gejala sesak napas akut dan gagal napas. Case fatality rate (CFR) hantavirus bisa sangat tinggi, bahkan mencapai hingga 50% pada beberapa tipe virus.
“Di Indonesia sendiri, virus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus). Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar,” papary.
“Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil, tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar. Bahkan dalam satu studi, kasus ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit di beberapa kota besar,” jelasnya.
Ancaman global yang semakin nyata
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia mulai kembali menyoroti Hanta Virus. Beberapa laporan global menunjukkan terjadi peningkatan kasus di Asia Timur dan Eropa, outbreak sporadis di Amerika Serikat, serta adanya keterkaitan dengan perubahan iklim dan urbanisasi Perubahan iklim memengaruhi populasi rodensia, meningkatkan reproduksi dan memperluas habitat mereka. Sementara itu, urbanisasi memperbesar kontak antara manusia dan reservoir virus.
Indonesia berada pada persimpangan dua faktor risiko ini: iklim tropis dan kepadatan penduduk tinggi. Artinya, risiko hantavirus bukan menurun, tetapi justru berpotensi meningkat.
Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin (yang hingga kini belum ada yang disetujui secara luas).
“Pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi Masyarakat, surveilans berbasis Risiko,” pungkasnya.
Cara penularan
- Kontak Langsung: Menyentuh hewan pengerat yang terinfeksi.
- Kontak Tidak Langsung: Menyentuh permukaan yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
- Inhalasi: Menghirup partikel debu atau aerosol yang terkontaminasi virus.
- Penyakit yang Disebabkan
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Terutama terjadi di Amerika, menyebabkan masalah paru-paru yang parah. - Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Terutama terjadi di Asia dan Eropa, menyebabkan demam berdarah dan masalah ginjal.
Pencegahan
- Hindari kontak dengan hewan pengerat dan kotorannya.
- Jaga kebersihan rumah dan lingkungan, terutama area yang sering dikunjungi tikus.
- Tutup celah atau lubang di rumah untuk mencegah tikus masuk.
Pengobatan
- Tidak ada obat antivirus spesifik untuk hantavirus.
- Pengobatan berfokus pada perawatan suportif untuk mengatasi gejala.









