sukabumiheadline.com – Gelar sarjana bukan lagi sebagai tiket emas menuju mobilitas sosial vertikal dan pekerjaan formal yang layak kini justru berubah menjadi penanda rentannya posisi pencari kerja. Demikian menurut Jannus TH Siahaan, Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran, sekaligus pengamat sosial dan kebijakan publik.
“Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, merekam sinyal bahaya tersebut secara gamblang. Tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia menjadi peringatan serius bagi pemerintah,” kata dia dalam kolomnya di Kompas.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas per Mei 2026 menunjukkan lebih dari 1 juta orang lulusan sarjana, mulai S-1 hingga S-3, menyandang status pengangguran. Angka ini setara 14,31 persen dari total 7 juta lebih penganggur di tanah air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari total 7,28 juta penganggur di Indonesia, populasi penganggur terdidik dari jenjang Diploma IV hingga Doktoral (S3) telah menembus angka 1.010.652 orang. Angka ini menandai rekor tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir dan mengonfirmasi bahwa krisis kesempatan kerja bagi sarjana bukan lagi riak sementara, melainkan persoalan struktural yang makin mengakar.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok lulusan perguruan tinggi melonjak menjadi 6,23 persen, melampaui rata-rata TPT nasional yang berada di angka 4,76 persen.
“Kondisi ini mempertegas paradoks pendidikan yang ironis di pasar kerja. Kelompok masyarakat berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah justru mencatatkan TPT paling rendah, yakni 2,32 persen,” ungkap Jannus.
5 jurusan S1 terbanyak jadi pengangguran
Sementara itu, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB UI) dalam laporan bertajuk ‘Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?’ memotret fakta mencengangkan.
Laporan yang ditulis oleh Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD tersebut tidak hanya menyorot jumlah lulusan sarjana yang bekerja di bawah pendidikannya. Dalam laporan ini, para peneliti LPEM FEB UI menunjukkan lima bidang studi yang banyak ditemukan di antara pengangguran lulusan S1.
Data-data tersebut menjadi butir-butir krusial mengingat pemerintah tengah membangun perguruan tinggi baru, yakni Universitas Republik Indonesia (URI). Dalam laporan jurnal Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026 itu digarisbawahi sejumlah poin untuk URI.
LPEM FEB UI menyusun laporan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Terdapat lima bidang studi yang secara bersama-sama mencakup sekitar 40% dari pengangguran lulusan sarjana. Selengkapnya, berikut bidang studi populer yang paling banyak ditemukan di antara pengangguran:
- Manajemen: Sekitar 10,3%
- Hukum: 9,0%
- Ekonomi: 8,7%
- Pendidikan: 7,1%
- Akuntansi: 5,1%.
Data di atas memperlihatkan pengangguran sarjana cukup banyak berasal dari prodi yang mempunyai cakupan luas dan basis lulusan besar. Sebagai contoh, menajemen dapat memayungi bidang yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, aset, SDM, dan industri.
Luasnya pilihan pekerjaan tidak lantas proses masuk ke pasar kerja menjadi lebih mudah. Pada posisi awal bekerja, lulusan rumpun bisnis bisa bersaing di pasar kerja dengan lulusan dari rumpun yang sama maupun bidang lain seperti hukum, ekonomi, komunikasi, dan lainnya.









