Arkis Angklung di Kota Sukabumi, Antara Kebutuhan dan Melestarikan Budaya

- Redaksi

Senin, 10 Januari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Arkis Angklung asal Cirebon. l Ade Yosca Baharetha

Arkis Angklung asal Cirebon. l Ade Yosca Baharetha

sukabumiheadline.com – Begitu banyak hal menarik dan unik di Sukabumi, salah satunya keberadaan kelompok pengamen yang menampilkan salah satu keahlian mereka yaitu memainkan alat musik tradisional bernama angklung dengan diiringi alat musik lain, seperti gambang, kendang, serta simbal, sehingga menghasilkan harmoni irama musik.

Arkis Angklung, terdiri dari lima pengamen asal Kota Cirebon yang selalu melakukan aksi kreatifnya di Jl. Ahmad Yani, Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Grup Arkis Angklung terdiri dari Rohandi (24), Ridho Pratama (27), Nandi Sanusi (25), Eko Priyanto (23), dan Eris Subagja (27).

Rohandi atau lebih dikenal Lotong, anggota dari grup pengamen ini menjelaskan bahwa Arkis Angklung mengamensejak 2017 lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Arkis Angklung ini kepanjangan dari Anak Rantau Kisumi Angklung. Asal kita kan dari Cirebon nama Kisumi itu nama daerah asal kami di Cirebon. Kami berlima mengamen sejak 2017. Terus kenapa memilih mengamen pakai angklung, ya sekalian melestarikan alat musik tradisional khas Jawa Barat,” papar pria berusia 24 tahun itu kepada sukabumiheadline.com. Senin (10/1/2022).

Alasan memilih mengamen, memang terdengar klise, untukmemenuhi kebutuhan hidup. Namun, mereka memilih melakukan kegiatan kreatif agar keberadaan mereka dapat diakui dan diterima oleh masyarakat.

Angklung
Arkis Angklung asal Cirebon. l Ade Yosca Baharetha

“Alasan kita begini tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidup, ditambah cari kerja sekarang susah. Dari pada kita ngelakuin hal yang gak karuan, mending kita kayak gini, terus kita juga kan istilahnya dari keluarga yang keadaan ekonominya kurang, kalau kita tidak melakukan hal positif seperti sekarang, orang lain bakal beranggapan yang negatif,” ungkapnya.

Penghasilan dari hasil mengamen terbilang sangatlah kecil, setiap harinya grup pengamen ini mendapatkan penghasilan paling besar Rp150 ribu.

Uang sebesar itu mereka gunakan untuk makan, beli rokok, serta disimpan sebagian untuk membayar sewa kosan.

“Kalau penghasilan sih gak nentu, kadang kalau lagi sepi sehari dapetnya Rp70 ribu kalau lagi rame Rp150 ribu, itu juga kita bagi-bagi, tapi alhamdulillah masih bisa untuk makan walaupun seadanya. Buat beli rokok juga masih bisa karena belinya satu bungkus tapi untuk bareng-bareng, sama buat bayar kosan juga bisa karena kita barengan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Johatsu: Hidup sudah mentok, tren ganti identitas dan memulai hidup dari nol
Kemendikdasmen guyur Pemkab Sukabumi Rp154 miliar untuk PAUD hingga SMP
Masih menjanda di usia 40, intip 5 pesona artis wanita asal Sukabumi
Natural dan low maintenance, 6 model rambut panjang ber-layer 2026 untuk wanita
Memahami batik dan Lokatmala Sukabumi dalam perspektif Gen Z
Mau merantau? Cek dulu 10 kota dan kabupaten dengan biaya hidup termahal di Jawa Barat
Produksi telur ayam dari Sukabumi, kandungan gizi dan manfaatnya bagi kesehatan
Intip 5 tren gaya busana anak muda Sukabumi era 80-90an

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Johatsu: Hidup sudah mentok, tren ganti identitas dan memulai hidup dari nol

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:51 WIB

Kemendikdasmen guyur Pemkab Sukabumi Rp154 miliar untuk PAUD hingga SMP

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:11 WIB

Masih menjanda di usia 40, intip 5 pesona artis wanita asal Sukabumi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Natural dan low maintenance, 6 model rambut panjang ber-layer 2026 untuk wanita

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:42 WIB

Memahami batik dan Lokatmala Sukabumi dalam perspektif Gen Z

Berita Terbaru

Ilustrasi membersihkan masjid - sukabumiheadline.com

Sukabumi

1.654 masjid di Sukabumi terdaftar Program GEBER MAS

Sabtu, 8 Agu 2026 - 20:43 WIB

Ilustrasi kucing jenis Himalaya - sukabumiheadline.com

Khazanah

8 Agustus Hari Kucing Sedunia, kapan tingkat nasional?

Sabtu, 8 Agu 2026 - 20:05 WIB