Baju Hijau dan Tiga Mitos Turun Temurun di Pantai Karanghawu Sukabumi

- Redaksi

Senin, 27 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spot wisata open space di Karanghawu Cisolok. l sukabumiheadlines.com

Spot wisata open space di Karanghawu Cisolok. l sukabumiheadlines.com

sukabumiheadline.com l CISOLOK –  Warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat tentunya mengenal Pantai Karanghawu yang terletak di Desa/Kecamatan Cisolok.

Pantai ini masuk ke dalam kawasan CPUGGp (Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark), dan hampir setiap hari selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar Sukabumi.

Namun, di balik keindahan Pantai Karanghawu, ternyata menyimpan mitos yang hingga saat ini menjadi perbincangan di kalangan wisatawan yang pernah mengunjunginya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setidaknya, hingga kini beredar tiga mitos di kalangan pengunjung Pantai Karanghawu, salah satunya adalah dianggap sebagai tempat persinggahan penguasa Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul. Baca lengkap: Icip Kuliner Khas Palabuhanratu, Roy Kyoshi ke Sukabumi untuk Bertemu Nyi Roro Kidul

Tidak hanya itu, populer adanya larangan bagi pengunjung berenang di pantai mengenakan pakaian berwarna hijau. Mitos lainnya, pengunjung asal Bandung tidak diperbolehkan berenang di sini.

“Pantai Karanghawu ini sudah terkenal, orang luar ke sini ya karena memang bisa melihat keindahan alam hamparan laut lepas, karang karang yang cukup indah. Mandi di pantai juga sebenarnya nyaman, asal pengunjung mematuhi imbauan dari petugas jaga pantai,” ungkap Komar (60) salah seorang warga Cisolok kepada sukabumiheadline.com.

“Apalagi area Pantai Karanghawu sudah dilakukan penataan sedemikian rupa, jadi lebih indah lagi. Makanya gak heran kalau setiap hari selalu ramai pengunjung. Memang kemarin kemarin sempat sepi, seperti mau tahun baru karena adanya isu isu gelombang tinggi, tsunami, dan lainnya,” sambungnya.

Namun begitu menurut Komar, sepi pengunjung di kawasan Pantai Karanghawu tidak akan sepi seperti sepinya objek wisata pantai lain di Sukabumi.

Komar mencontohkan, saat libur malam pergantian tahun baru 2023 lalu, di sejumlah kawasan objek wisata pantai sepi pengunjung, namun di Pantai Karanghawu menjelang detik detik malam pergantian tahun baru malah ramai pengunjung.

“Saya rasa kemarin (malam Tahun Baru) di sini lumayan ramai, kalau di tempat wisata lain dibilang sepi, ya sepi, hanya beberapa orang pengunjung. Kalau di sini lumayan ramai walaupun memang cuma sebentar, pas sesudah perayaan kembang api,” imbuhnya.

Mitos di Sekitar Karanghawu

Bicara soal mitos yang beredar di kalangan wisatawan, Komar menegaskan hal itu tidak bisa dibuktikan kebenarannya karena kembali kepada penilaian masing masing.

Pasalnya, tambah dia, mitos yang berkembang tersebut memang sudah turun temurun hingga saat ini.

“Kita mah gak tahu, di sekitar kita, di samping kita ada Ratu Pantai Selatan, dia (Nyi Roro Kidul) mah pakai mata batin. Sedangkan, kita mah mata daging. Cerita Ratu Pantai Selatan itu memang ada, hanya kembali kepada keyakinan masing masing saja,” tegasnya.

Ditambahkan Komar, mitos kedua yang kental di Pantai Karanghawu sejak sekira tahun 1970 an hingga saat ini, yakni pengunjung tidak diperkenankan mandi di pantai dengan mengenakan pakaian serba hijau karena hal itu akan berdampak pengunjung tersebut akan terseret arus ombak dan hilang.

“Katanya yang pakai pakaian serba hijau itu gak boleh mandi, menurut saya itu mitos. Itu bohong. Mau pakai baju apa, jenis apa juga, kalau tidak mematuhi imbauan penjaga pantai, celaka itu bisa terjadi kapan saja,” terangnya.

“Sekarang mah mau pakai baju apa, mau warna apa, kalau memang percaya hal itu ya silakan. Taruh dulu pakaian hijaunya ganti sama pakaian lain atau kaos, tapi tetap harus mematuhi imbauan petugas penjaga pantai,” sambungnya.

Kemudian, lanjut Komar, mitos ketiga yang hingga saat ini berkembang, adalah pengunjung asal Bandung dilarang berenang. Menurutnya, hal itu juga tidak benar.

Nah itu juga saya rasa gak betul, katanya musuhan sama Ratu Pantai Selatan. Padahal itu gak bener, alasannya dulu tahun berapanya lupa terjadi laka laut di Pantai Karanghawu, padahal yang mandi di pantai itu ngeyel, meski sudah dikasih tahu. Jadi waktu ada kejadian itu, kebetulan orang Bandung. Begitu ceritanya dulu,” bebernya.

“Saat itu, katanya penjaga pantai mengimbau kepada sekumpulan pengunjung yang berenang di pantai, ‘Hei jangan berenang di situ arusnya kuat dan berbahaya.’ Malah dijawabnya, “Saya pandai, jago berenang.’ Sombong pengunjung itu, terjadilah laka,” papar Komar.

Padahal, secara logika, orang boleh pintar dan jago berenang saat di kolam yang airnya tenang, tapi harus bisa membedakan saat berenang di laut yang sarat gelombang.

“Berenang di kolam dan di laut itu beda. Di kolam itu tenang dan airnya tawar. Sedangkan, di laut ada arus kuat dan ombaknya juga kuat,” tandasnya.

Berita Terkait

5 SMA dari Sukabumi masuk Top 50 SMAS Terbaik di Jawa Barat 2026 menurut TKA
5 standar moral tinggi: Alasan kita gak berani ambil sepotong makanan sisa saat nongkrong
Kabupaten Sukabumi hasilkan 35.718 ton sampah per hari
Momen Wanita Sukabumi pamer kemesraan dengan Rafael Struick
5 ciri teman harus dijauhi dan 7 tanda sahabat yang baik menurut Islam
Banyak tikus di rumah? Waspada Virus Hanta picu demam berdarah hingga ginjal
Profil 2 SMA di Sukabumi diubah jadi Sekolah Maung: Sejarah sekolah dan alumni populer
Riset: Dampak sosial dan ekonomi kehadiran Jalan Tol Bocimi bagi warga Sukabumi

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:34 WIB

5 SMA dari Sukabumi masuk Top 50 SMAS Terbaik di Jawa Barat 2026 menurut TKA

Jumat, 15 Mei 2026 - 01:48 WIB

Kabupaten Sukabumi hasilkan 35.718 ton sampah per hari

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:00 WIB

Momen Wanita Sukabumi pamer kemesraan dengan Rafael Struick

Selasa, 12 Mei 2026 - 02:07 WIB

5 ciri teman harus dijauhi dan 7 tanda sahabat yang baik menurut Islam

Senin, 11 Mei 2026 - 21:25 WIB

Banyak tikus di rumah? Waspada Virus Hanta picu demam berdarah hingga ginjal

Berita Terbaru

Proses evakuasi pendaki asal Sukabumi di Lombok Timur - Polres Lombok Timur

Peristiwa

Endang Subarna, pendaki asal Sukabumi tewas di Gunung Rinjani

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:44 WIB