sukabumiheadline.com – Nilai tukar Rupiah jeblok hingga Rp18.010 per Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Namun, Rupiah kembali menguat pada penutupan Kamis sore ke Rp17.998 per Dolar AS.
Meskipun Presiden Prabowo Subianto menyebut rakyat di desa tidak memakai Dolar, namun faktanya sejumlah komoditas impor seperti kedelai terpengaruh pelemahan Rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah perajin tempe di Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, mengaku sangat terdampak pelemahan Rupiah. Dampak paling terasa, harga kacang kedelai yang terus merangkak naik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain kedelai, kebutuhan produksi lainnya yang terdampak adalah harga plastik yang juga melonjak signifikan, terutama sejak pecah perang Israel dan AS melawan Iran, ditambah pelemahan Rupiah terhadap Dolar.
Perajin tempe keluhkan harga kedelai

Ditemui di kediamannya, salah seorang perajin tempe di Sundawenang, Tarmuzi, mengaku industri kecil tempe miliknya dan sejumlah perajin lain di kawasan tersebut, sangat terdampak kenaikan harga kedelai yang terjadi setiap hari seiring kenaikan nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah.
“Ya sangat terdampak. Sebelumnya kan hanya 9 ribu Rupiah per kilogram, sekarang sudah sampai 10.700 per kilogram di lokasi. Kalau dihitung, setiap harinya ada kenaikan sekira 100 Rupiah,” ungkap pria 56 tahun itu kepada sukabumiheadline.com, Kamis (4/6/2026).
“Perajin di sini menjerit semua. Di seluruh Indonesia mungkin sama,” imbuhnya.
Ayah tiga anak itu menampakkan, selain kedelai, kenaikan harga plastik untuk kemasan tempe paling terasa.
“Plastik itu sebelumnya kan cuma 30 ribu Rupiah per kilogram, tapi sekarang sudah 55 ribu Rupiah per kilogram. Sedangkan produksi tempe kan juga memerlukan bahan-bahan lain. Itu, belum termasuk gas elpiji ya,” jelas Tarmuzi.
Ia berharap pemerintah bisa mengembalikan harga kedelai seperti pada awal ia merintis usaha tersebut. Tarmuzi menyebut, jika harga kedelai terus naik.
“Ya harapan saya pemerintah bisa mengembalikan harga kedelai kayak dulu. Dulu kan cuma enam ribu sampai tujuh ribu Rupiah per kilogram. Atau paling tidak, kembalikan ke sembilan ribu Rupiah, sangat membantu kami untuk bertahan,” kata dia.
“Sekarang saja kami siasati dengan cara mengurangi ukuran tempe, karena harga tidak mungkin dinaikkan, itu masih membantu. Tapi kalau naik terus dan kami terpaksa harus menaikkan harga jual, kemungkinannya ya gak akan laku dan harus menutup usaha,” pungkasnya.









