21.4 C
Sukabumi
Sabtu, April 13, 2024

Blueberry, sniper cantik Rusia pembantai tentara Ukraina

sukabumiheadline.com - Sosok Blueberry sangat misterius. Namun,...

Soal tangan buruh wanita asal Bojonggenteng Sukabumi putus, Latas: Disnaker harus proaktif

sukabumiheadline.com - Paskakecelakaan kerja yang terjadi di...

Cinta Sejati Zainab RA binti Rasulullah SAW dan Abul Ash bin Rabi’ Meskipun Beda Agama

KhazanahCinta Sejati Zainab RA binti Rasulullah SAW dan Abul Ash bin Rabi' Meskipun Beda Agama

sukabumiheadline.com l Kisah cinta yang terjalin antara dua insan yang berbeda agama bukanlah hal baru. Bahkan, pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Adalah kisah cinta Zainab radhiallahu anha, yang tak lain merupakan putri sulung Rasulullah SAW dan Siti Khadijah, di mana ketika itu Zainab RA menikah dengan Abul Ash bin Rabi’ sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu kenabian dari Allah SWT.

Dikutip dari buku Khadijah: Cinta Sejati Rasulullah, Zainab mengalami kisah cinta berliku karena menikah dengan Abul ‘Ash yang memiliki keyakinan berbeda dengan dirinya.

Diketahui, Abul ‘Ash ibnu Rabi’ bin Abdil Uzza bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf bin Qushay al-Qurasyi merupakan sepupu dari Zainab RA.

Abul ‘Ash adalah putra dari saudari Khadijah, yaitu Halah bin Khuwailid. Pemuda ini terkenal di Mekkah karena kekayaannya, integritas moral, dan keahliannya dalam berdagang.

Pernikahan antara Abul ‘Ash dan Zainab disebut sebagai pernikahan yang bahagia dan rukun. Meskipun terjadi sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, hubungan mereka tetap penuh cinta dan saling menghormati.

Momen Suami Zainab Harus Berperang Melawan Rasulullah SAW

Hingga beberapa tahun kemudian, Allah pun memberikan wahyu kenabian pada Rasulullah SAW. Karenanya, Siti Khadijah dan putri-putri Rasulullah SAW pun kemudian menjadi bagian dari orang-orang yang pertama memeluk Islam.

Namun, Abul ‘Ash memilih untuk bertahan dengan keyakinan lamanya. Ia memilih tidak mengikuti ajakan sang istri karena khawatir orang-orang akan mengatakan bahwa ia memeluk Islam karena patuh pada istrinya.

Hingga ketika perintah hijrah turun, Rasulullah SAW beserta kaum Muslimin pun meninggalkan Kota Mekkah. Namun demikian, Zainab memilih setia tinggal di Mekkah menemani suaminya.

Namun, ketika Rasulullah SAW mulai berdakwah secara terbuka, Abul ‘Ash pun menjadi sasaran kebencian kaum kafir Quraisy.

Hingga ia harus dihadapkan pada tekanan untuk menceraikan Zainab, dengan tawaran menikahi wanita Quraisy mana pun yang diinginkannya. Namun, Abul ‘Ash menolak tegas godaan tersebut.

Tibalah saatnya, ketika Perang Badar pecah, di mana Abul ‘Ash ikut serta dalam barisan kaum kafir Quraisy untuk melawan kaum Muslimin. Bahkan, dalam perang itu ia harus berhadapan dengan mertuanya sendiri, yakni Rasulullah SAW.

Zainab pun merasa sedih, namun ia tetap bersabar dan mendoakan agar suaminya mendapat hidayah.

Usai Perang Badar dimenangkan oleh kaum Muslimin, banyak tawanan musuh termasuk Abul ‘Ash. Ia kemudian berada di bawah pengawasan Rasulullah di Madinah.

Zainab RA dan Abul ‘Ash Bercerai¬†

Usai perang Badar, Rasulullah SAW memberikan kesempatan kepada penduduk Mekkah untuk membebaskan keluarganya yang menjadi tawanan perang dengan tebusan hingga 400 dinar atau 4000 dirham.

Setelah mengetahui suaminya menjadi tahanan perang, Zainab merasa sangat sedih dan berusaha mengumpulkan uang tebusan.

Karena kecintaan pada suaminya, Zainab rela menjadikan kalung permata yang pernah diberikan ibunya, Khadijah, saat menikah dengan Abul ‘Ash sebagai tebusan.

Hal itu tentu saja membuat Rasulullah SAW terkejut dan tersentuh.

Beliau pun kemudian membagikan kisah tersebut kepada para sahabat, sehingga dengan ikhlas, mereka melepaskan Abul ‘Ash tanpa meminta tebusan, sambil mengembalikan kalung Zainab.

Namun sebelum suaminya dibebaskan, Rasulullah SAW menetapkan syarat kepada Zainab bahwa ia harus pergi ke Madinah untuk hidup bersama beliau.

Syarat yang sangat sulit diterima Abul ‘Ash dan Zainab. Namun, ia akhirnya menerima syarat tersebut dan merelakan kepergian Zainab.

Sayangnya kemudian, kabar perjalanan Zainab ke Madinah sampai di telinga orang-orang kafir Quraisy, mereka pun mengadang Zainab di Dzy Thuwa.

Ketika itu, Habar bin Aswad mengancam Zainab dengan tombak ketika Zainab masih berada di atas tunggangan untanya. Hal itu membuat Zainab yang tengah hamil terjatuh dari unta, dan mengalami keguguran.

Cinta Sejati Zainab RA dan Abul ‘Ash

Beberapa tahun kemudian, Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengadang ratusan kaum Quraisy yang pulang berdagang dari Syam.

Sekira 170 orang Quraisy dan seratus unta penuh muatan pun berhasil ditawan pasukan Muslim, di mana salah satunya adalah Abul ‘Ash.

Sebagai pengusaha yang terkenal sukses, Abul ‘Ash banyak dititipi harga orang Quraizy untuk diperdagangkan.

Namun, Abul ‘Ash berhasil menghindari penangkapan dan memilih kabur. Ia lalu mengetuk pintu rumah Zainab untuk meminta perlindungan.

Karena rasa cintanya yang begitu besar kepada Abul ‘Ash, Zainab kemudian meminta pertolongan kepada Rasulullah SAW untuk mengembalikan barang dagangan Abul ‘Ash yang ditawan. Zainab berharap hal itu bisa membuka hati Abul ‘Ash.

Dengan persetujuan para sahabat, Rasulullah SAW pun mengabulkan permintaan putrinya dengan ikhlas.

Selanjutnya, Abul ‘Ash kembali ke Mekkah dengan hartanya. Ia mengembalikan barang dagangan titipan orang Quraisy.

Insting Zainab RA tidak meleset, karena setelah peristiwa itu, Abul ‘Ash kemudian menyatakan keislamannya di hadapan orang banyak dan datang ke Madinah antara tahun ke-6 atau ke-7 Hijriah.

Namun setahun setelah itu, Zainab RA wafat akibat sakit yang dideritanya usai terjatuh dari unta saat hamil.

Dari kisah ini, semoga kita umat Muslim bisa mengambil hikmah, mengapa pada akhirnya Rasulullah SAW melarang pernikahan beda agama dalam Islam.

Dari kisah cinta Zainab dengan Abul ‘Ash dapatlah kita jadikan contoh bahwa cinta beda agama itu penuh liku dan tantangan yang belum tentu semua orang bisa melaluinya.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer