sukabumiheadline.com – Sebagai tokoh maupun seniman, nama Siauw Tik Kwie tidak terlalu dikenal warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Padahal, sosok pelukis realis dan komikus ternama di Indonesia itu pernah menetap di Kecamatan Cicurug.
Dihimpun sukabumiheadline.com dari berbagai sumber, komikus dan pelukis realis itu lahir di Surakarta atau Solo, Jawa Tengah pada 21 Juni 1913 dan wafat 16 April 1988 atau dalam usia 74 tahun.
Tik Kwie dikenal sebagai pelukis realis ternama di Indonesia pada masanya. Selain itu, ia dikenal sebagai komikus dengan genre cerita silat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Hobi menggambar Tik Kwie banyak dipengaruhi oleh ibunya yang gemar membaca buku-buku legenda yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Ibunya sering menyampaikan cerita-cerita klasik Jawa dalam bentuk tembang.
Selain cerita-cerita klasik Jawa, ibunya juga sering mengajak Tik Kwie menyaksikan pertunjukan opera Tionghoa, yaitu sandiwara yang dimainkan oleh artis-artis peranakan, yang menyajikan cerita-cerita klasik Tionghoa seperti Si Jin Kui.
Sempat merantau ke Jakarta atas undangan Kwee Tek Hoay untuk untuk membantunya secara sukarela dalam penerbitan majalahnya.
Tik Kwie juga aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kerohanian. Selama tiga tahun ia tinggal di rumah Kwee dan terlibat dalam penerbitan buku-buku Tridharma.

Siauw Tik Kwie pun mulai melukis komik untuk koran-koran Siang Po (Jakarta), Sin Tit Po (Surabaya), dan Majalah Liberty (Malang) dan Star Magazine (Jakarta).
Pada 1936, Kwee Tek Hoay pindah ke Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama menetap di Cicurug, Siauw bekerja di biro iklan seperti Exelcior, Gestetner, A.A. de Lamar, de Unie, Preciosa, dan Kolff. Baca lengkap: Sepenggal Kisah Masa Perjuangan Komikus dan Pelukis Siauw Tik Kwie di Cicurug Sukabumi

Sementara itu, Kwee Tek Hoay bersama dengan sejumlah temannya mendirikan Bataviasche Buddhist Association dan Sam Kauw Hwee (yang kelak berganti nama menjadi Perkumpulan Tridharma). Siauw yang memang tertarik dengan masalah-masalah keagamaan, mendukung penuh inisiatif Kwee itu.
Pada 1938, Siauw menikah dengan Tan Poen Nio dan dikaruniai dua anak perempuan.

Selain menikah dan memiliki dua anak, selama di Cicurug Siauw Tik Kwie juga mengganti namanya menjadi berbau Sunda, yakni Otto Suastika.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1975, Tik Kwie turut berjuang bersama Tony Wen dan teman-temannya yang lain dengan membentuk Serikat Rakyat dan Buruh Tionghoa yang membantu pihak Republik baik secara moril maupun materi.
Karena keterlibatannya dalam perjuangan, pada 1946 Tik Kwie diangkat menjadi anggota DPRD Surakarta oleh masyarakat Tionghoa yang pro-Republik. Tik Kwie juga diangkat sebagai anggota Presidium Panitia Penolong Korban Perang yang membantu menangani para pengungsi sebagai wakil masyarakat Tionghoa.

Pada 1949, Tik Kwie bersama keluarganya kembali ke Jakarta dan mengembangkan kreativitas seninya serta mengerjakan gambar-gambar reklame dan membantu mingguan Star Weekly.
Pada tahun 1952, redaktur Star Weekly, Tan Hian Lay dan Auwyong Peng Koen memintanya membuat cerita bergambar Si Jin Kui.
Pengalamannya pada masa kecil dan kecakapannya melukis sangat membantunya dalam mengerjakan tugas itu. Cerita bergambar Si Jin Kui (ejaan lama, Sie Djin Koei) kisah kepahlawanan seorang jenderal Tiongkok dari Dinasti Tang itu baru selesai dimuat setelah tujuh tahun penuh.

Tik Kwie sempat ragu-ragu, tetapi permintaan itu kemudian dipenuhinya juga.
Sosok Tim Kwie juga dikenal kreatif, dia pernah juga melukis dua perahu, satu perahu besar dan satu perahu kecil diatas karton gambar. Uniknya, tiang tiang perahu tersebut di gambar tidak memakai cat tetapi dengan memakai mungkin silet atau bahan tajam lainnya sehingga terlihat sepeti tiang tiang yang sangat bagus.
Dalam memberikan tanda tangan ia terkadang memakai nama Siauw Tik Kwie, Otto Suastika atau terkadang di singkat SWK saja.

Setiap Ahad, Tik Kwie menyelesaikan satu halaman tanpa pernah beristirahat selama tujuh tahun. Cerita ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Percetakan Keng Po.
Ia mendapatkan bayaran Rp7,50 (tujuh rupiah lima puluh sen) sebagai honorarium untuk setiap karyanya yang terdiri dari lima kotak gambar dalam satu halaman. Honor tersebut terbilang memadai ketika itu karena kebutuhannya sebulan saat itu cukup dipenuhi dengan Rp30 saja.
Menurut catatan, sedikitnya ada 1.900 adegan pernah digambar Tik Kwie untuk kisah Si Jin Kui.
Namun, kebahagiaannya hancur seketika pada 1966 ketika Auwyong Peng Koen memerintahkan untuk membakar semua karya Tik Kwie atas perintah pemerintah Orde Baru saat itu yang gencar menyuarakan politik anti-China. Hatinya pun hancur seketika melihat karya-karyanya ludes dilalap api.
Namun, pada tahun 1979 cerita Si Jin Kui hasil karyanya dimuat kembali dalam Harian Lensa Generasi, dan kemudian diterbitkan dalam buku cerita bergambar dengan penyesuaian tata bahasa dan ejaannya.
Siauw Tik Kwie atau Otto Suastika juga menyerahkan hak ciptanya kepada Aggi Tjeje, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Gabungan Tridharma Indonesia.