SUKABUMIHEADLINE.com l Partai Demokrat mengklaim secara de facto atau kenyataannya hanya Koalisi Perubahan yang sudah memiliki calon presiden (capres) untuk diusung di 2024.
Seperti diketahui, Koalisi Perubahan terdiri dari tiga partai politik (parpol), yakni Partai Demokrat, NasDem, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ketiga parpol ini sudah menyatakan sikapnya mendukung Anies Baswedan sebagai capres di 2024.
“Secara de facto, (hanya) Koalisi Perubahan ini satu-satunya yang sudah punya capres,” kata Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra dalam sebuah diskusi, Jumat (3/2/2023).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika Koalisi Perubahan benar-benar sudah bulat mencalonkan Anies capres 2024 lalu siapa yang akan mendampinginya sebagai calon wakil presiden atau cawapres?
Ketua DPP Partai NasDem Effendi Choirie menyatakan pihaknya menyerahkan Anies Baswedan untuk menentukan sendiri bakal cawapres yang layak menjadi pendampingnya di Pilpres 2024 mendatang.
Untuk diketahui, Anies Baswedan sendiri lahir di Kuningan, Jawa Barat pada 7 Mei 1969.
Sosok cawapres yang berasal dari internal Koalisi Perubahan maupun cawapres dari anggota koalisi.
Adapun, dari internal Koalisi Perubahan, ada dua nama, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ahmad Heryawan.
AHY merupakan Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020-2025. Pemilik nama lengkap H Agus Harimurti Yudhoyono MSc MPA MA lahir di Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1978.
Selain menjadi Ketua Umum Demokrat, AHY adalah Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) dan founder AHY Foundation. AHY adalah putra sulung dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono).
Sebelum terjun ke dunia politik, AHY berkarier sebagai militer profesional di TNI selama 16 tahun. Ia memulai karier politiknya sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta pada Pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2017.
Selanjutnya, Ahmad Heryawan disodorkan oleh PKS. Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan, disebut-sebut memiliki basis massa di Jawa Barat. Ia merupakan tokoh senior PKS dan menjabat Wakil Ketua Majelis Syura.
Ia bergabung dengan PKS sejak awal partai itu berdiri, bahkan semenjak masih bernama Partai Keadialan atau PK. Karier politiknya pria kelahiran Sukabumi 19 Juni 1966 ini berangkat dari aktifitas dakwahnya dengan pergerakan tarbiah.
Usai Pemilu 2004, Aher menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta periode 2004-2009.
Pada 2008, ia mengikuti Pemilihan umum Gubernur Jawa Barat dan berhasil terpilih bersama Dede Yusuf. Setelah itu, pada 2013 ia kembali maju mencalonkan diri Gubernur, kali ini bersama Deddy Mizwar yang menjadi wakilnya.
Profil Cawapres di Luar Koalisi Perubahan
Ketua DPP Partai NasDem Effendi Choirie beberapa waktu lalu menyebut beberapa calon yang potensial jadi cawapres Anies Baswedan terutama dari kalangan NU.
Cawapres dari NU diperkirakan akan semakin memperkuat basis pemilih Anies Baswedan.
1. Khofifah Indar Parawansa
Khofifah Indar Parawansa lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 19 Mei 1965. Dikenal sebagai aktivis perempuan dan saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024.
Pernah menjabat ketua pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Surabaya. Ia juga terpilih sebagai ketua Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur.
Selain itu, Khofifah Indar Parawansa juga sempat aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Khofifah pernah bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1997-1998. Setelah dibukanya sistem multipartai, ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Pernah jadi Anggota DPR dan menteri yakni Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1999–2001) dan Menteri Sosial Kabinet Kerja (2014–2018).
2. Yenny Wahid
Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid merupakan putri kedua Gus Dur dan Sinta Nuriyah. Mengikuti jejak sang ayah, Yenny juga aktif sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU).
Yenny ditunjuk sebagai staf khusus bidang komunikasi politik di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2006. Satu tahun setelahnya, dia mengundurkan diri.
Sejak 2014, ia menjabat sebagai Direktur The Wahid Institute, organisasi yang dia dirikan bersama sang ayah dan beberapa tokoh lainnya. Yenny Wahid juga lalu-lalang di panggung politik. Dia mulanya aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang juga menaungi Gus Dur dan banyak tokoh NU lainnya.
Yenny sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal (sekjen) PKB selama 2005-2008.
3. Syaifullah Yusuf
Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat ini menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan, Jawa Timur. Sebelum menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan, Gus Ipul pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur selama dua periode yakni pada 2009-2014 dan 2014-2019.
Pada Pilgub Jatim 2018, Gus Ipul maju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno. Namun pasangan ini kalah dari pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.
Gus Ipul juga pernah menjabat Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Termasuk pernah menjadi Sekjen PKB. Saat ini Gus Ipul juga dipercaya menjadi Sekjen PBNU.
4. Ridwan Kamil
Ridwan Kamil oleh beberapa lembaga survei disebut sebagai cawapres favorit. Bahkan, belum lama ini dia bergabung ke Partai Golkar.
Pria yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat itu dulunya dikenal arsitek. Kemudian,l mulai terjun ke dunia pemerintahan ketika pada 2013 ia diusung sebagai calon Walikota Bandung oleh PKS dan Gerindra berpasangan dengan Oded Muhammad Danial sebagai wakilnya.
Hasilnya, Ridwan Kamil dan Oded berhasil memenangkan kontestasi Pilkada Kota Bandung tersebut dan dilantik pada 16 September 2013.
5. Andika Perkasa
Andika Perkasa sering disebut-sebut cawapres potensial Anies Baswedan dari kalangan militer.
Mantan Panglima TNI ini lahir pada 21 Desember 1964 dan merupakan lulusan Akademi Militer angkatan 1987.
Ia mengawali karirnya di jajaran Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Selain mengenyam pendidikan militer di Akmil, Andika juga mempelajari berbagai bidang keilmuan dan meraih gelar sarjana ekonomi hingga doktor dari George Washington University, Amerika Serikat.
Di era Presiden Jokowi, dia pernah menjabat Kepala Staf TNI AD (KSAD) menggantikan Jenderal Mulyono pada November 2018.