sukabumiheadline.com – Secara umum potensi pertanian, peternakan dan perikanan di Kabupaten Sukabumi cukup baik dan beragam. Semua potensi-potensi tersebut tersebar di berbagai desa dan kecamatan yang ada di Kabupaten Sukabumi. Baca selengkapnya: Mengintip potensi perikanan Kabupaten Sukabumi 2026
Dalam kajiannya, Reny Sukmawani, Ema Hilma Meilani, Endang Tri Astutiningsih, dan Amalia Nur Milla dari Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), mengungkap potensi-potensi tersebut dapat dipastikan akan terus meningkat seiring pengelolaan yang dilakukan secara fokus untuk mendukung ketahanan pangan.
Berita Terkait: Ini daftar 39 kecamatan penghasil buah mangga di Kabupaten Sukabumi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun untuk dapat menetapkan strategi pengembangan yang terbaik, perlu terlabih dahulu dikaji secara mendalam terhadap komoditas-komoditas tersebut berdasarkan aspek keunggulannya baik secara komparatif maupun kompetitif.
“Sehingga, bukan hanya mampu
mencapai ketahanan pangan tetapi juga mampu menjadi daya ungkit daerah,” kata mereka, dikutip sukabumiheadline.com, Senin (12/1/2026).
Reny, Ema, Endang, dan Amalia berpendapat, wilayah Kabupaten Sukabumi yang luas dengan jumlah penduduk sekira 2.806.664 jiwa (Badan Pusat Statistik/BPS, 2023), tentu menjadi peluang sekaligus tantangan dalam hal ketahanan pangan.
“Karenanya, penting diidentifikasi berdasarkan potensi wilayah yang ada terkait potensi komoditas pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan sehingga dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan khususnya di wilayah kabupaten sendiri dan umumnya ke wilayah lainnya,” beber Reny, Ema, Endang, dan Amalia dalam paparannya.
Berita Terkait:
- Sukabumi penghasil melon, minat tanam the crown melon Rp3,1 juta buah? Begini cara tanamnya
- Tak Disangka Sukabumi Nomor Dua, Ini Lho 5 Daerah Penghasil Buah Melon Terbesar
Berdasarkan hal tersebut kajian Reny, Ema, Endang, dan Amalia secara khusus diarahkan untuk mengidentifikasi komoditas yang berpotensi unggulan Kabupaten Sukabumi.
“Komoditas unggulan lokal daerah ini penting diidentifikasi karena selain dapat mendukung ketahanan pangan juga harapannya dapat dikembangkan
untuk menjadi komoditas unggul yang memiliki daya saing dan mampu menjadi daya ungkit daerah,” jelasnya.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, mengamanahkan bawa “pembangunan yang dilaksanakan memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah baik sosial, budaya, dan lokasi geografis”.
Sehingga dalam membangun daerah dapat diawali dengan mengembangkan potensi unggulnya. Pengembangan
potensi unggul suatu komoditas ini, dapat dilaksanakan melalui pembangunan ekonomi daerah yang bertujuan untuk mempercepat tercapainya daya saing daerah.
“Melalui kajian identifikasi komoditas pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan yang berpotensi unggu di Kabupaten Sukabumi ini diharapkan hasilnya dapat menjadi data dasar dalam upaya pengembangan komoditas tersebut,” papar Reny, Ema, Endang, dan Amalia.
“Sehingga, tantangan terkait pasokan bukan lagi menjadi salah satu alasan untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan khususnya di Kabupaten Sukabumi,” imbuhnya.
Apabila dilihat dari luas tanaman dan luas panennya, komoditas potensi unggul secara basis pada padi sawah pada kelompok padi, lalu jagung pada kelompok palawija, dan petsai pada kelompok sayuran.
Berita Terkait: Mengenal 5 jenis buah paling banyak dihasilkan dari Sukabumi
Potensi keunggulan yang dilihat berdasarkan luas lahan dan luas tanam ini cukup penting karena dapat
merepresentasikan ketersediaan produk tersebut baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan akan lebih bagus
apabila dapat memenuhi kebutuhan wilayah lainnya.
“Kondisi seperti itu menunjukan bahwa peningkatan ekonomi di daerah tersebut sangat baik. Tetapi ini masih harus dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan analisis basis dan membandingkannya dengan komoditas yang sama di daerah atasnya sehingga benar-benar dapat dinyatakan unggul secara basis,” beber mereka.
Berita Terkait: 25 jenis buah dihasilkan dari Kabupaten Sukabumi, dari alpukat hingga jengkol

Pada buah-buahan, potensi komoditas dilihat dari jumlah produksinya. Belum ditemukan data populasi atau luas tanam pada buah-buahan ini baik dari data BPS maupun dari Rencana Strategis (Renstra) pada Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi.
Komoditas buah-buahan potensi unggulan di Kabupaten Sukabumi
Sumber: Renstra Dinas Pertanian 2021 – 2026 (diolah)
- Alpukat: 3.955,7 kuintal
- Nenas: 99,5 kuintal
- Mangga: 8.975,5 kuintal
- Pisang: 105.454,3 kuintal
- Rambutan: 1.623,9 kuintal
- Salak: 321,7 kuintal
- Durian: 2.991,6 kuintal
- Belimbing: 309,3 kuintal
- Dukuh: 609 kuintal
- Nangka: 3.709,7 kuintal
- Jeruk besar: 299,8 kuintal
- Manggis: 1.871,1 kuintal
- Jambu biji: 8.155,9 kuintal
- Sukun: 1.028,7 kuintal
- Sawo: 1.338,8 kuintal
- Sirsak: 1.084,9 kuintal
- Pepaya: 10.996,6 kuintal
Berdasarkan data di atas, tampak bahwa berdasarkan produksinya, pisang dan papaya menempati produksi tertinggi. Produksi dapat merepresentasikan banyaknya populasi dari buah-buahan ini.
Berita Terkait: Yuk Bertani Jeruk Dekopon Seperti Pria Nagrak Sukabumi, Buah Tanpa Biji asal Jepang
Dari produksi ini kita dapat mengetahui berapa banyak ketersediaan produk yang ada. Berdasarkan analisis basis dengan menggunakan analisis lokasi/location quotient (LQ), diperoleh hasil bahwa pisang memiliki nilai LQ 1,49 dan papaya 4,94.
“Ini menunjukan bahwa papaya dan pisang ini merupakan komoditas basis dan memiliki keunggulan komparatif di Kabupaten Sukabumi. Namun demikian, hasil analisis tersebut seiring dengan bertambahnya waktu mungkin saja berubah sehingga perlu dikaji lagi termasuk menganalisisnya berdasarkan keunggulan kompetitifnya,” jelas Reny, Ema, Endang, dan Amalia.
Keunggulan kompetitif memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap internasionalisasi, sehingga penting bagi suatu komoditas untuk dikaji keunghulan kompetitipnya selain keunggulan komparatif.









