Ini Lho Sejarah Singkat Asal-usul Kota Ini Dinamai Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 6 Januari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Balai Kota Sukabumi. l Istimewa

Balai Kota Sukabumi. l Istimewa

sukabumiheadline.com – Kota Sukabumi, Jawa Barat, saat ini telah berusia lebih dari satu abad. Sukabumi sendiri saat ini terdiri dari dua wilayah administratif, yakni Kabupaten dan Kota.

Ada dua gunung indah di Sukabumi, yaitu Gunung Gede dan Pangrango, atau biasa disebut secara bersamaan karena jarak kedua gunung teraebut relatif dekat, Gede Pangrango.

Nama Sukabumi pasti tidak asing bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa. Karena letaknya itu tepat sekali dekat dengan puncak atau sering disebut Bogor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diketahui, nama Sukabumi itu berasal dari “Soeka-Boemi” yang pertama kali diperkenalkan pada tanggal 13 Januari 1815 ke dunia oleh seorang administratur perkebunan bernama Andries Christoffel Johannes de Wilde.

Andries dikenal sebagai warga negara penjajah Belanda yang tinggal di Sukabumi dengan tujuan mencari lahan untuk berkebun.

Menurut laporan sebuah survei, Andries de Wilde mencantumkan nama Soeka Boemi (dalam dua suku kata) sebagai tempat ia menginap di kampung Tji Colle.

Andries mengatakan nama Sukabumi merupakan kata yang berasal dari tanah Sunda yang artinya Suka-Bumen. Kata Suka-bumen memiliki arti pada kawasan yang memiliki udara sejuk dan nyaman ini membuat orang-orang suka bumen-bumen atau menetap.

Dari arti kata di atas, nama Sukabumi juga ada artinya menurut bahasa Sansekerta, di mana kata suka artinya “kesenangan, kebahagiaan, kesukaan” dan bhumi, artinya bumi atau tanah yang dipijak.

Sehingga para ahli sejarah kemudian menafsirkan arti nama Sukabumi adalah “bumi kesukaan” atau tanah yang disenangi.

Untuk informasi, Soekaboemi disahkan menjadi nama Kota Sukabumi tepatnya pada tanggal 13 Januari 1815.

Luas wilayah Kota Sukabumi mencakup 52,46 Km² ini mendapatkan namanya dari seorang ahli bedah bernama Dr. Andries de Wilde menamakan Soekaboemi.

Di Sukabumi, Andries menanam kopi dan teh yang dikenal dengan sebutan Preanger Planter. Sedangkan, rumah Andries di Bandung saat ini dijadikan sebagai Kantor Pemkot Bandung.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB