sukabumiheadline.com – Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeklaim berhasil menargetkan jet tempur siluman milik Amerika Serikat (AS), F-35 Lightning II.
Diberitakan The States Man, Jumat (20/3/2026), pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan sistem pertahanan udara mereka menargetkan pesawat tersebut saat menjalankan misi di wilayah Iran tengah. Mereka bahkan menyebut serangan itu sebagai “terobosan” yang dapat merusak jet tempur canggih tersebut.
Namun, pihak militer Amerika Serikat melalui United States Central Command (Centcom) tidak mengonfirmasi klaim tersebut. Mereka hanya menyatakan bahwa pesawat memang sedang menjalankan misi operasional sebelum akhirnya mengubah rute dan mendarat dengan aman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Juru bicara Centcom menegaskan pilot berada dalam kondisi selamat, sementara penyebab insiden masih dalam penyelidikan.
Insiden ini menjadi sorotan karena menyangkut salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia. F-35 dikenal memiliki teknologi siluman yang dirancang untuk menghindari deteksi radar serta mampu beroperasi di wilayah dengan tingkat ancaman tinggi.
Jika klaim Iran terbukti benar, maka ini akan menjadi pertama kalinya jet F-35 berhasil terkena serangan dalam situasi tempur sejak mulai dioperasikan.
Di tengah konflik yang telah memasuki pekan ketiga, kedua pihak terus melontarkan klaim masing-masing. Laporan menyebut Amerika Serikat juga mengalami sejumlah kerugian, termasuk pesawat nirawak dan insiden friendly fire.
Namun, sebagian besar informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sementara itu, pejabat tinggi AS tetap menyatakan operasi militer berjalan sesuai rencana dan menilai kemampuan pertahanan udara Iran telah mengalami pelemahan signifikan.
Situasi di kawasan masih sangat dinamis. Amerika Serikat dilaporkan terus menambah kekuatan militernya di wilayah tersebut, termasuk pengerahan unit marinir dan armada laut.
Hingga kini, detail pasti terkait insiden jet F-35 tersebut masih belum jelas. Namun, perbedaan klaim antara Iran dan Amerika Serikat telah menambah kompleksitas konflik yang kian meluas, baik secara militer maupun persepsi global.









