SUKABUMIHEADLINES.com l PARUNGKUDA – Usaha kuliner memang seakan tak ada matinya. Sederhananya, meskipun nyaris semua sektor terpukul pandemi Covid-19, tetapi semua orang tetap makan.
Hal itu juga diakui Mia Rusmiati (46), ibu satu anak warga Kampung Cibolang, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.
Mia juga mengaku, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) juga memukul usahanya di bidang kuliner. Namun, karena usaha tersebut sudah dijalaninya selama bertahun-tahun, alih-alih mengganti usaha, Mia memilih terus berinovasi agar tetap menghasilkan fulus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Iya, sangat terpukul, Mia juga kan punya stand di Cicurug, penutupan tempat-tempat wisata selama PPKM memang sangat berdampak sekali ya. Anjlok gitu,” ungkap Mia kepada sukabumiheadlines.com, Selasa (27/10/2021).

Karenanya, Mia kemudian juga harus membagi fokus dengan usaha di rumah, jualan kue basah dan kering.
“Lebih sering by request aja. Nunggu pesanan, biasanya untuk pesta pernikahan atau acara-acara seremoni pemerintahan,” tutur dia.
Dari hasil jualan kue basah dan kering, Mia mengaku pernah sampai meraih omset Rp9 juta-Rp10 juta per bulan. Namun begitu, tergantung kepada momen-momen pada bulan-bulan tertentu saja.
“Kadang kan bulan-bulan tertentu warga ramai melaksanakan pesta pernikahan,” kata Mia.
Diakuinya, ia menjalani usaha tersebut memang hobi, ” Hobi yang menghasilkan uang,” kata Mia lagi.
Soal rasa, kue-kue olahan Mia memang berani diadu. Selain karena sangat memerhatikan bahan yang digunakan, soal skill membuat kue, Mia memang terbilang ahlinya. Terlebih, Mia merupakan alumni Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga Negeri (SMKKN) 1 Kota Sukabumi.
Adapun untuk harga, Mia mematok Rp15 ribu per kantong isi 9 buah dimsum, talam labu kuning Rp35 ribu, puding cokelat mutiara Rp35 ribu, zuppa soup Rp15 ribu, tart mini Rp85 ribu, dan snack box Rp12 ribu.
