Kabandungan Sukabumi masih lumbung kemiskinan, BREN: Proyek panas bumi Salak Binary melebihi ekspektasi

- Redaksi

Jumat, 14 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Gunung Salak. l Star Energy

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Gunung Salak. l Star Energy

sukabumiheadline.com – Emiten Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), menyampaikan perkembangan proyek panas bumi (geothermal) Salak Binary. Melalui Direktur Utama BREN Hendra Tan, Salak Binary bahkan mampu beroperasi dengan memberikan output melebihi ekspektasi.

“Dalam tes dengan rentang waktu 72 jam, Salak Binary berhasil menghasilkan 14.48 MW listrik, lebih tinggi dari ekspektasi awal kami,” ujar Hendra, dikutip Jumat (14/2/2025).

Baca Juga: Kapan terakhir Gunung Salak meletus? Ini ulasannya, warga Sukabumi harus aware

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk informasi, proyek Salak Binary merupakan bagian dari ekspansi organik BREN dengan target penambahan kapasitas 118,6 megawatt (MW) energi panas bumi hingga 2026.

Salak Binary merupakan inovasi penerapan teknologi terbaru panas bumi dengan menyerap energi panas dari hot brine water yang sebelumnya tidak di manfaatkan, kemudian diubah menjadi energi listrik.

Hot brine merupakan emisi dalam proses pemisahan uap di pembangkit geothermal. Panas dari brine sendiri bisa mencapai 1.500 derajat Celcius, sehingga masih memiliki kemampuan untuk dijadikan sumber energi listrik.

Ekspansi yang tengah berjalan menunjukkan fundamental BREN tetap solid. Sehingga, penurunan harga saham perusahaan murni imbas sentimen MSCI. “Semua unit kami beroperasi secara normal,” kata Hendra.

Hendra memastikan, penurunan harga saham tidak mengganggu permodalan BREN. Selain tidak memiliki rencana penggalangan dana atau fundraising dalam waktu dekat, struktur permodalan BREN masih solid.

Sebagai gambaran, BREN masih memiliki kas setara kas per akhir September 2024 US$293,16 juta atau setara sekitar Rp14,78 triliun.

Berita Terkait: 30 tahun “dicengkram” PLTP, Kabandungan dan Kalapanunggal Sukabumi jadi lumbung kemiskinan

Baca Juga :  Tulisan SWDKLLJ di STNK, Warga Sukabumi Sudah Tahu Fungsinya?

Sementara, ekuitas BREN di periode tersebut tercatat US$736,52 juta atau setara sekitar Rp12 triliun.

Lumbung Kemiskinan

Kondisi jalan rusak ruas Kalapanunggal - Kabandungan, Kabupaten Sukabumi - sukabumiheadline.com
Kondisi jalan rusak ruas Kalapanunggal – Kabandungan, Kabupaten Sukabumi – sukabumiheadline.com

Namun di sisi lain, warga Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal yang meliputi lokasi proyek Salak Binary, lokasi wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak, masih menjadi lumbung kemiskinan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Berita Terkait: Sejarah PLTP Gunung Salak, Setor Puluhan Miliar Rupiah per Tahun ke Kas Pemkab Sukabumi

Warga dua kecamatan tidak mendapatkan keuntungan yang layak dari tenaga panas bumi yang dihasilkan. Padahal proyek itu sudah peroperasi sejak 1984, bahkan sebelum puluhan PSN baru yang dicetus di era Presiden Joko Widodo. Kecamatan Kalapanunggal dan Kabadungan bertahan menjadi lumbung kemiskinan di Sukabumi hingga saat ini!

Organisasi sipil setempat, Cinta Karya Alam Lestari (CIKAL) mencatat pembangunan infrastruktur dan layanan dasar di dua kecamatan ini justru masih jauh tertinggal dari kecamatan lain di wilayah utara Sukabumi yang tidak memiliki WKP PLTP sebesar Gunung Salak.

Dalam audiensi CIKAL dengan Pemkab Sukabumi di Gedung Sekretariat Daerah (Setda) yang antara lain dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman dan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Dani Tarsono pada Rabu (11/10/2023), Kepala Bappelitbangda Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin mengamini paparan yang disampaikan CIKAL.

Bahkan, Aep menyebut bahwa Kalapanunggal dan Kabandungan merupakan dua kecamatan yang menjadi lumbung kemiskinan di Sukabumi.

“Ini sangat mengkhawatirkan mengingat dua kecamatan ini, Kalapanunggal dan Kabandungan, merupakan lumbung kemiskinan. Sebagian besar mereka memang tinggal di dalam area perkebunan,” jelasnya. Baca selengkapnya: Berharap panas geothermal Gunung Salak di lumbung kemiskinan Sukabumi

Baca Juga :  Dua Rumah Nyaris Ambruk di Ciambar Sukabumi, Rumah Lainnya Terancam

Mengintip DBH dan BP Panas Bumi

Padahal, mengutip data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2022 yang dikeluarkan Kementerian ESDM, pada tahun 2022 ada 18 Wilayah Kerja (WK) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia, dengan total kapasitas mencapai 2.360,33 Megawatt Electric (MWe).

Sementara itu, berdasarkan data Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) Tahun Anggaran (TA) 2021, 2022 dan 2023 yang diterbitkan Kementerian Keuangan RI, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi sebagai salah satu daerah penghasil panas bumi dan salah satu kabupaten yang ada dalam provinsi penghasil dan pengolah panas bumi, menerima DBH Panas Bumi, sebagai berikut:

  1. TA 2021 (APBD murni) sebesar Rp82.169.303.000,00;
  2. TA 2022 (APBD murni) mengalami penurunan menjadi
    Rp64.291.415.000,00; dan
  3. TA 2023 (APBD murni) akan menerima
    Rp60.277.112.000,00.

Selain DBH Panas Bumi, Pemkab Sukabumi juga mendapatkan dana Bonus Produksi (BP) Panas Bumi dari operasi anak usaha BREN, yakni Star Energy Geothermal Salak (SEGS), dana ini diperuntukkan Kabupaten Sukabumi sebagai daerah penghasil bersama Kabupaten Bogor.

Dana BP Panas Bumi merupakan kewajiban keuangan yang dikenakan atas pendapatan kotor dari penjualan uap panas bumi dan atau listrik dari PLTP, ketentuan ini merujuk kepada PP Nomor 28 Tahun 2016 tentang Besaran dan

Tata Cara Pemberian Bonus Produksi Panas Bumi. Baca selengkapnya: Mengintip Dana Bagi Hasil dan Bonus Produksi PLTP Salak untuk Kabupaten Sukabumi

Berita Terkait

Daftar titik rawan kecelakaan maut di Sukabumi dan pemicunya
Luas sawah di Kabupaten Sukabumi terus menyusut, ancaman bagi swasembada pangan
Melacak populasi Sapi Pasundan di Sukabumi: Karakteristik dan pemurnian genetik si jawara
RI masuk 5 besar, China juaranya: Berapa produksi buah lengkeng Sukabumi?
Mengintip potensi perikanan Kabupaten Sukabumi 2026
Fakta-fakta tentang Owa Jawa di Sukabumi: Spesies langka, habitat dan ancaman
5 hal paling banyak terjadi dan dikeluhkan warga Sukabumi sepanjang 2025
Jutaan bayi lahir di Indonesia pada 2025, Sukabumi berapa?

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 01:06 WIB

Daftar titik rawan kecelakaan maut di Sukabumi dan pemicunya

Rabu, 14 Januari 2026 - 10:35 WIB

Luas sawah di Kabupaten Sukabumi terus menyusut, ancaman bagi swasembada pangan

Rabu, 14 Januari 2026 - 01:17 WIB

Melacak populasi Sapi Pasundan di Sukabumi: Karakteristik dan pemurnian genetik si jawara

Senin, 12 Januari 2026 - 15:29 WIB

RI masuk 5 besar, China juaranya: Berapa produksi buah lengkeng Sukabumi?

Minggu, 11 Januari 2026 - 02:56 WIB

Mengintip potensi perikanan Kabupaten Sukabumi 2026

Berita Terbaru

Ilustrasi Gedung Juang 45 Kota Sukabumi - sukabumiheadline.com

Khazanah

Ini lho daftar bangunan tertua dan bersejarah di Sukabumi

Minggu, 18 Jan 2026 - 03:52 WIB

Ilustrasi kecelakaan lalu lintas di jalan berliku - sukabumiheadline.com

Headline

Daftar titik rawan kecelakaan maut di Sukabumi dan pemicunya

Minggu, 18 Jan 2026 - 01:06 WIB